Medium sized JPEG (1)

Selayang Pandang Grebeg Mulud di Kraton

Hari kelahiran Nabi Muhammad merupakan hari istimewa bagi masyarakat muslim, tak terkecuali di Jawa. Dalam Kalender Jawa yang memadukan penanggalan Hijriah dan Saka, peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad jatuh setiap tanggal 12 Mulud. Pada hari istimewa itu, Kraton Yogyakarta maupun Surakarta rutin mengadakan suatu upacara ageng yang dinamai “Grebeg Mulud”. Selama beberapa hari sebelumnya dihelatpulasuatu pesta rakyat yang lazim disebut sebagai Sekaten.

Di Kraton Yogyakarta, keseluruhan rangkaian prosesi upacara ageng bulan Mulud tersebut diawali pada tanggal 5 Mulud pukul 16.00. Tepatnya dengan dikeluarkannya Gamelan Sekati Kangjeng Kyai Nagawilaga dan Kangjeng Kyai Gunturmadu dari Bangsal Pamonggangan. Gamelan pusaka tersebut lantas diletakkan di tratag timur dan barat Bangsal Ponconiti di area Kemandhungan Ler atau yang disebut juga sebagai Keben. Gamelan-gamelan pusaka itu kemudian dibunyikan selepas Isya’  atau kurang lebih 19.00 sebagai pengiring bagi gendhing para wali.

Continue reading

Nyai dan Para Lelaki Belanda

Kisah Nyai dan Para Lelaki Belanda yang Butuh Pelipur Sepi

Kata nyai dalam arti sesungguhunya adalah julukan untuk seorang perempuan dengan tujuan memuliakan (Suganda, 2014: 149). Dalam budaya Jawa, perempuan yang menyandang julukan tersebut adalah orang yang cukup terkemuka. Misalnya Nyai Ageng Serang, seorang panglima perempuan Jawa yang sanggup menggetarkan pasukan Belanda (Carey dan Houben, 2016: 30-35). Nyai juga digunakan untuk menyebut istri dari seorang ulama atau Kyai. Contohnya adalah Nyai Ahmad Dahlan (Hera dan Wijaya, 2014:50). Namun, sebutan nyai memiliki konotasi yang berbeda pada dunia perkebunan Masa Kolonial. Nyai bersinonim dengan gundik atau perempuan simpanan laki-laki Eropa. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata gundik merujuk pada istri gelap atau perempuan yang tidak dinikah secara resmi.

Continue reading

Kyai Rata Biru

Gelar Kyai dan Nyai pada Benda Pusaka Keraton

Telinga masyarakat Indonesia tentu tidak asing dengan kata “kyai” dan “nyai”. Pikiran yang pertama kali muncul setelah mendengar sebutan tersebut adalah sosok yang taat dalam menjalankan agama Islam serta memiliki pengaruh besar di bidang itu. Menurut Nurhayati Djamas dalam buku Dinamika Pendidikan Islam di Indonesia Pasca Kemerdekaan, Kyai merupakan gelar untuk tokoh agama atau orang yang memimpin pondok pesantren. Kyai dianggap sebagai elemen sentral dalam pesantren karena individu tersebut tidak hanya berperan sebagai soko guru dalam sistem pendidikan, melainkan sebagai teladan dalam nilai hidup komunitas santri. Wajar apabila dalam masyarakat Jawa, khususnya pada Masa Islam, kyai dianggap memiliki kedudukan yang sangat tinggi dan tidak terjangkau bagi masyarakat awam.

Continue reading

Diorama Suasana Kongres Pemuda ke-II di Museum Sumpah Pemuda Jakarta

(Foto diambil dari Tempo.co)

Bahasa Persatuan Bangsa: Dari Bahasa Melayu ke Bahasa Indonesia

“Kami putra-putri Indonesia, mengaku bertumpah darah satu, tanah air Indonesia.

Kami putra-putri Indonesia, mengaku berbangsa satu, bangsa Indonesia.

Kami putra-putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia.”

 Di dalam ruang Kongres Pemuda ke-II, 28 Oktober 1928, para pemuda memutuskan 3 poin penting di atas mengenai cita-cita berdirinya negara Indonesia, atau dikenal sebagai Sumpah Pemuda. Poin terakhir mengukuhkan bahasa nasional bagi bangsa Indonesia hingga seterusnya. Ya, bahasa Indonesia!

Continue reading

negarakertagama

Nagarakretagama dan Kutaramanawa

NAGARAKRETAGAMA yang ditulis Mpu Prapanca kiranya adalah sebuah kitab terpenting yang dihasilkan oleh era Majapahit. Berkat kitab yang berjudul asli Desawarnana tersebut, banyak seluk-beluk kehidupan zaman Majapahit, khususnya pada sekitar masa pemerintahan Maharaja Hayam Wuruk, dapat diketahui dengan cukup rinci. Itu antara lain berupa uraian tentang keluarga raja, deskripsi mengenai ibukota Majapahit, rincian tentang negara-negara bagian Majapahit di Jawa Timur dan Jawa Tengah,daerah-daerah vazal Majapahit di Luar Jawa, risalah mengenai lawatan keliling negara oleh Hayam Wuruk, negara-negara jiran Majapahit di kawasan Asia Tenggara, juga upacara-upacara agama dan adat yang dihelat keluarga raja. Tuturan sejarah mengenai Majapahit yang sebelum penghujung abad XIX sekadar bersumberkan isi kitab-kitab dari era kerajaan-kerajaan Islam serta cerita-cerita rakyat yang beredar secara lisan lantas beroleh pengayaan, atau sebenarnya malah serangkaian verifikasi dan koreksi.

Continue reading