Soeharto dan 7 Raja Jawa yang Lengser Keprabon

Soeharto dan 7 Raja Jawa yang Lengser Keprabon

JUNI 1921, tanggal 8, tangis pertama seorang bayi laki-laki terdengar di sebuah desa yang terletak beberapa kilometer sebelah barat Yogyakarta. Bayi itu terlahir dari keluarga juru pengairan desa. Bukan golongan paling miskin di desa itu, tapi tak juga bisa disebut sebagai golongan kaya. Sedihnya lagi, kedua orangtuanya lantas bercerai.

Di kemudian hari, ketika si bayi laki-laki mencapai usia dewasa, ia ternyata mampu menempuh perjalanan hidup yang pastinya tiada terbayangkan oleh orang-orang sedesanya. Awalnya ia masuk menjadi tentara pada penghujung masa kolonial Belanda hingga meraih pangkat sersan. Dengan berbagai lika-liku, ia berhasil mendaki ke dalam derajat perwira pada masa pendudukan Jepang dan sepanjang tahun-tahun Perang Kemerdekaan Indonesia. Lanjut berkarir di dunia ketentaraan, ia menjadi salah satu jenderal penting pada usia empat puluhan tahun. Bahkan kejeliannya dalam bertindak plus peruntungan baik kemudian mengantarnya kepada posisi presiden republik, kepala negara sekaligus kepala pemerintahan. Soeharto, demikianlah namanya.

Pemerintahannya berlangsung sangat lama: 32 tahun. Dengan adanya pembatasan konstitusional terhadap masa jabatan presiden-presiden yang memerintah sesudahnya, yakni 2 x 5 tahun atau maksimal selama 10 tahun, rekor 32 tahun tadi agaknya tak akan terpecahkan.

Sayangnya, akhir masa pemerintahan Soeharto sebagai presiden bisa dibilang tragis. Dua tahun terakhirnya, berbagai kota di seantero negeri menjadi panas karena didera rentetan unjuk rasa dan bahkan kerusuhan. Akhirnya, Soeharto pun menyatakan pengunduran diri pada 21 Mei 1998. Adegan tersebut terjadi di Ruang Kredensial, Istana Merdeka, Jakarta.
Menariknya, Soeharto menyebut pengunduran dirinya dengan istilah lengser keprabon. Istilah dalam bahasa Jawa tersebut berarti “turun takhta”. Tanda ke sekian kali dan kentara bahwa Soeharto memang punya kecenderungan memandang dirinya selaku seorang raja, bukan cuma presiden dari sebuah negara republik modern.

Mengenai lengser keprabon sendiri, hal tersebut adalah suatu peristiwa besar di lingkup masyarakat Jawa pada masa lampau. Raja Jawa selalu punya hak menjabat sampai tutup usia. Kebanyakan raja yang tercatat memerintah Jawa sedari zaman Tarumanegara sampai era kraton-kraton Dinasti Mataram Islam memang menggunakan hak tersebut.

Namun, pengunduran diri seorang raja di tengah masa pemerintahannya, ketika yang bersangkutan sejatinya secara jasmani dan rohani masih cukup sentosa untuk menjabat sampai sekian tahun ke depan, bukan juga sesuatu yang benar-benar aneh. Kenyataannya, merujuk kepada sumber-sumber sejarah yang valid dan terverifikasi, ada setidaknya 7 raja Jawa yang dipastikan melakukan pengundurkan diri di tengah masa pemerintahannya, berdasarkan kehendak dan keputusan sendiri. Dari jumlah tersebut, 5 raja berasal dari zaman kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha, sedangkan 2 raja sisanya berasal dari era kerajaan-kerajaan Islam.

Berikut ini sedikit uraian tentang 7 raja Jawa yang pernah melakukan lengser keprabon:

1.Panangkaran
Dari semua raja yang pernah memerintah Jawa, Panangkaran adalah yang pertama-tama melakukan pengunduran diri. Ia turun takhta secara sukarela setelah 20 tahun menjadi maharaja Kerajaan Medang (Mataram Kuno). Masa pemerintahan Panangkaran sendiri sebagai maharaja adalah pada kurun 764 M – 784 M. Begitu mengundurkan diri, Panangkaran menjalani sisa hidupnya untuk mencari ketenangan rohani dan memusatkan pikiran kepada masalah keagamaan, yakni menjadi pertapa Buddha. Tempat pertapaannya bernama Abhayagiriwihara (biara pada bukit yang penuh kedamaian) yang terletak di perbukitan di selatan daerah Prambanan. Abhayagiriwihara kini dikenal sebagai Situs Ratu Boko.
Panangkaran sendiri wafat pada 792 M. Ia lantas di-dharma-kan di bangunan suci Manjusrigrha yang saat ini dikenal sebagai Kompleks Candi Sewu.

Kisah hidup Panangkaran antara lain bisa diketahui dari Prasasti Abhayagiriwihara/Ratu Boko serta Prasasti Manjusrigrha. Keduanya adalah prasasti-prasasti yang berangka tahun 792 M.

2.Pikatan
Pikatan merupakan maharaja Kerajaan Medang yang berkuasa pada kurun 847 – 855 M. Ia dikenal juga dengan nama Jatiningrat. Ia mengakhiri pemerintahannya dengan pengunduran diri, lalu menjadi pertapa. Hal ini diinformasikan Prasasti Siwagrha yang berasal dari tahun 856 M. Menurut isi Prasassti Wanua Tengah I, Pikatan tutup usia pada 863 M.

3.Balitung
Balitung adalah maharaja Medang yang memerintah pada kurun 898 – 910 M. Ia berhasil membawa Medang memiliki cakupan wilayah terluas sepanjang sejarah kerajaan tersebut, yakni meliputi sebagian besar Jawa Tengah dan sebagian besar Jawa Timur. Ia diperkirakan mengundurkan diri pada 910 M dan menyerahkan takhtanya kepada Pu Daksa yang merupakan saudara iparnya. Berselang lima tahun kemudian, Balitung akhirnya wafat. Sekelumit kisah tentang dirinya bisa ditemukan dalam Prasasti Taji dari tahun 910 M dan Prasasti Sugih Manek dari tahun 915 M.

4.Airlangga
Nama Airlangga tentulah dikenal generasi sekarang sebagai nama universitas negeri terkenal di Surabaya. Nama tersebut berasal dari nama maharaja yang memerintah Kerajaan Kahuripan pada kurun 1021 – 1042 M. Kahuripan sendiri merupakan kerajaan penerus kekuasaan Kerajaan Medang. Kerajaan ini cukup lama memusatkan pemerintahannya di sekitar Sidoarjo dan Mojokerto, Jawa Timur. Sempat berpindah sebentar ke Lamongan, lalu akhirnya pindah ke tempat yang sekarang dikenal sebagai Kota Kediri.

Airlangga melakukan pengunduran diri dari takhta setelah 21 tahun memerintah. Ia lantas hidup sebagai pertapa bersama putri sulungnya, Dharmaprasadotunggadewi, dan mendiami lereng Gunung Pawitra yang saat ini dikenal sebagai Gunung Penanggungan. Sebagai pertapa, Airlangga lantas memakai nama Resi Aji Paduka Mpungku Sang Pinaka Catraning Bhuwana.

Sebelum turun takhta, Airlangga membagi dua kerajaannya untuk dua orang putranya. Separo bagian disebut sebagai Panjalu dan beribukota di Daha diserahkan kepada Samarawijaya, putra yang lahir dari permaisuri. Separo bagian lainnya diserahkan Mapanji Garasakan, putra yang lahir dari selir.

Airlangga kemudian wafat pada sekitar tahun 1049. Kisah hidup berikut masa pemerintahannya antara lain bisa dilihat pada Prasasti Pucangan (1041 M), Prasasti Gandhakuti (1042 M), serta Prasasti Sumengka (1059 M).

5.Tribhuana Tunggadewi
Tribhuana Tunggadewi merupakan raja perempuan (maharani) yang memerintah Kerajaan Majapahit pada kurun 1328 – 1350 M. Ia menjadi pengganti dari kaki laki – lakinya, Jayanegara, yang mati karena pembunuhan oleh tabib Tanca.
Masa pemerintahannya menghasilkan kegemilangan bagi Majapahit. Itu dimulai dengan keberhasilan menjadikan belahan timur dari Jawa Timur, yakni Sadeng dan Keta, sebagai wilayah Majapahit. Pada masa pemerintahannya pula lah Majapahit menjalankan proyek penaklukan pulau-pulau lain di Nusantara di bawah pimpinan Mahapatih Gajah Mada dan Laksamana Nala.

Tribhuana memutuskan turun takhta pada 1350. Itu tak berjarak lama dengan wafatnya ibundanya, Rajapatni Gayatri, yang telah bertahun-tahun hidup sebagai pertapa. Takhta kerajaan kemudian diserahkan Tribhuana kepada putra sulungnya, Hayam Wuruk, yang merupakan hasil perkawinannya dengan bhre (raja vazal) di Singhasari, Kertawardana.
Namun, selepas meninggalkan jabatan maharani Majapahit, Tribhuana tidak lah meninggalkan urusan pemerintahan. Ia kembali menjabat sebagai bhre di Kahuripan, yang merupakan jabatan lamanya sebelum naik takhta sebagai maharani Majapahit. Ia juga menjadi satu dari tujuh anggota Bhatara Sapta Prabhu, yakni dewan penasehat raja yang beranggotakan para bhre dari negara-negara vazal terpenting.

6.Mangkunegara VI
Berselang 566 tahun setelah peristiwa turun takhtanya Tribhuana Tunggadewi, Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Mangkunegara VI mencatatkan dirinya sebagai seorang raja Jawa yang juga memilih mengundurkan diri. Pemilik nama muda Raden Mas (RM) Suyitno ini merupakan penguasa Kadipaten Mangkunegara selama 20 tahun, 1896 – 1916.
Dalam masa pemerintahannya, Mangkunegara VI berhasil menyelamatkan Kadipaten Mangkunegaran dari kebangkrutan. Di tangannya, bisnis perkebunan tebu dan pabrik gula yang menjadi sumber keuangan praja kembali berjalan dengan baik. Ia pun dikenal melakukan berbagai kebijakan penghematan dan penyederhanaan protokoler di lingkungan Mangkunegaran.

Ketika Mangkunegara VI mengundurkan diri pada 1916, tampuk kepemimpinan kemudian dipegang oleh keponakannya, RM Suryo Suparto, yang selanjutnya memakai gelar KGPAA Mangkunegara VII. Selaku mantan raja, Mangkunegara VI lantas pindah ke Surabaya. Di kota bandar tersebut, Mangkunegara VI mendiami sebuah rumah yang dibelinya pada setahun sebelum pengunduran dirinya. Mangkunegara VI akhirnya wafat 25 Juni 1928. Pada hari itu juga, jenazahnya dikirim ke Solo untuk dikebumikan di pemakaman yang terletak di sebelah utara kota, Astana Utara di Kaliyoso.

7.Hamengkubuwana VII
Lima tahun setelah pengunduran diri Mangkunegara VI, tepatnya pada Januari 1921, Sultan Hamengkubuwana VII dari Yogyakarta juga mengundurkan diri. Takhta Kesultanan Yogyakarta kemudian dipasrahkannya kepada putranya, Pangeran Purubaya, yang kemudian menjadi Sultan Hamengkubuwana VIII.

Begitu tak lagi menjabat sebagai raja, Sultan Hamengkubuwana VII meninggalkan Kraton Yogyakarta dan ganti menempati Pesanggrahan Ambarukmo, yang sekarang menjadi hotel Royal Ambarukmo dan mal Plaza Ambarukmo. Di situ ia menjalani hari dengan didampingi permaisuri ketiganya, Gusti Kanjeng Ratu Kencono. Tak sampai setahun mendiami Pesanggrahan Ambarukmo, Sultan Hamengkubuwono VII tutup usia pada Desember 1921.

Sebagai catatan, Sultan Hamengkubuwono VII di dalam masa pemerintahannya yang berlangsung sepanjang 34 tahun lazim disebut rakyatnya sebagai Sultan Sugih ataupun Sinuwun Sugih. Ini karena Kraton Yogyakarta mendapatkan duit berlimpah dari hasil menyewakan tanah-tanahnya kepada sejumlah pengusaha Eropa. Banyak dari tanah-tanah itu lantas menjadi hamparan perkebunan tebu serta lahan tapak kompleks pabrik gula. Pada masa pemerintahan Sultan Hamengkubuwono VII, ada 17 pabrik gula tercatat beroperasi di berbagai wilayah Yogyakarta.

***
Ditulis oleh Yoseph Kelik Prirahayanto; didukung data yang disarikan oleh Restu Ambar Rahayuningsih

Mengenal Aneka Prasasti dalam 90 Halaman

Mengenal Aneka Prasasti dalam 90 Halaman

Judul buku: Prasasti & Raja-Raja Nusantara
Penulis: Trigangga dkk.
Penerbit: Museum Nasional Indonesia
Tahun terbit: 2015
Jumlah halaman: vi+84

Kata “prasasti” bagi kebanyakan orang kiranya akan memunculkan gambaran di kepala tentang bongkahan batu yang bertuliskan aksara serta bahasa kuno. Bagi orang-orang yang cukup mengenal bacaan bertema sejarah, “prasasti” akan sangat mungkin memantik berkelebatnya sekian kata, antara lain Yupa, Ciaruteun, Tugu, Talang Tuo, dan Canggal. Bisa jadi tak juga cuma sebatas itu. Namun, sampai pula kepada Dinoyo, , Anjuk Ladang, Cane, Kambang Putih, atau bahkan Hantang, Mula Malurung dan Walandit. Sekian kata tadi adalah beberapa di antara nama-nama prasasti peninggalan kerajaa-kerajaaan kuno yang pernah eksis di Nusantara sekian ratus tahun silam: Kutai, Tarumanagara, Sriwijaya, Medang, Kahuripan, Janggala, Kediri, Singhasari, serta Majapahit.

Menghafal nama-nama prasasti dan mengingat-ingat pula mereka sebagai peninggalan kerajaan dan raja siapa sedikit banyak adalah sesuatu yang sering dilakukan murid-murid sekolah atau para mahasiswa. Makanan sehari-hari yang berkuliah di bidang sejarah serta arkeologi. Biarpun itu tentu saja tak selalu hal yang menyenangkan.

Hanya saja, sudahkan orang-orang punya pemahaman yang jelas tentang prasasti? Dalam hal ini, Museum Nasional Indonesia menerbitkan sebuah buku tipis setebal 90 halaman yang sangat membantu untuk mendapatkan pemahaman awal dan sekaligus utuh tentang prasasti. Judulnya Prasasti & Raja-Raja Nusantara. Di dalamnya termuat 50 buah prasasti di antara seluruh koleksi Museum Nasional Indonesia yang totalnya ada sekitar 500 buah. Masing-masing prasasti itu dilengkapi dengan penjelasan singkat serta foto.

Prasasti-prasasti yang dimuat dalam Prasasti & Raja-Raja Nusantara tertua berasal dari abad IV Masehi; yang paling muda berasal dari abad XVIII Masehi. Daftarnya dimulai dengan Prasasti Mulawarman (Yupa) peninggalan Kerajaan Kutai, lalu dipungkasi oleh Prasasti Suracala peninggalan Kerajaan Mataram Islam era Amangkurat II.

Prasasti & Raja-Raja Nusantara tak ketinggalan juga menguraikan aneka pengetahuan yang lumayan mendalam seputar prasasti-prasasti zaman Hindu dan Buddha. Itu antara lain terdiri dari klasifikasi bahan prasasti (batu, logam, tanah liat , lontar), klasifikasi aksara yang dipakai (Pallawa, Jawa Kuno, Sunda Kuno, Sumatra Kuno, Bali Kuno, Nagari, Tamil), hingga isi dan struktur prasasti. Khusus mengenai pembahasan isi dan struktur prasasti, pembaca dapat sekalian memperoleh pengetahuan mengenai tata masyarakat Jawa Kuno. Selain itu ada juga ulasan singkat tentang sistem pembagian waktu pada zaman itu yang punya sejumlah perbedaan dengan sistem yang dikenal sekarang.

Nah, dengan sekian macam isinya tersebut, jelaslah bahwa buku tipis ini tak bisa disepelekan kandungan “gizinya”? (Yoseph Kelik)

Cerita Panji dalam Kepurbakalan Indonesia (Bagian 5 dari serial artikel seputar lakon Panji)

Cerita Panji dalam Kepurbakalan Indonesia (Bagian 5 dari serial artikel seputar lakon Panji)

Keberadaan Cerita Panji dalam bentuk karya sastra masih dapat disaksikan hingga saat ini melalui beberapa temuan relief maupun arca yang melukiskan adanya tokoh panji. Hal itu lebih didasarkan pada keadaan data yang bertahan hingga kini, terutama data yang bersifat artefaktual (material culture).

Data relief candi yang berasal dari abad ke-13—15 M masih relatif banyak dijumpai, tersebar pada beberapa candi yang berlokasi di Jawa Timur. Cerita Panji dipahatkan di 7 kepurbakalaan, yaitu candi Jawi, Pendopo Teras II Panataran, Surawana, Miri Gambar, serta 3 punden berundak di Gunung Penanggungan.

Tokoh panji pertama kali diidentifikasikan dengan penciri utama berupa figur pria digambarkan mengenakan tutup kepala yang disebut tekes, badan bagian atas digambarkan tidak mengenakan pakaian, sedangkan bagian bawahnya digambarkan memakai kain yang dilipat-lipat hingga menutupi paha. Jika berpegangan pada tolok ukur bahwa tokoh Panji selalu digambarkan bertopi tekes, maka akan banyak tokoh Panji yang dijumpai dalam relief-relief candi jawa Timur.
Relief cerita Panji yang dapat diketahui secara pasti hanyalah terdapat pada beberapa candi saja dalam masa Majapahit. Penggambaran relief tokoh Panji yang dikenal dalam cerita Panji pada satu panil relief dari daerah Gambyok, Kediri yang nyata-nyata menggambarkan tokoh Panji beserta para pengiringnya. Penggambaran relief Panji di Gambyok tersebut menurut Poerbatjaraka sesuai dengan salah satu episode kisah Panji Semirang, yaitu saat Panji bertemu dengan kekasihnya yang pertama, Martalangu, di dalam hutan.

Pada panil relief Panji Gambyok digambarkan adanya tokoh pria bertopi tekes yang sedang duduk di bagian depan kereta, tokoh itu tidak lain ialah Panji. Sementara tokoh yang duduk si hadapannya di atas tanah ialah Prasanta. Tokoh paling depan di antara empat orang yang berdiri ialah Pangeran Anom, di belakangnya ialah Brajanata, saudara Panji berlainan ibu. la digambarkan tinggi besar dengan rambutnya yang keriting tapi dibentuk seperti tekes. Dua tokoh berikutnya adalah para kudeyan yaitu, Punta dan Kertala. Dalam relief digambarkan bahwa keretanya belum dilengkapi kuda, karena sesuai dengan cerita bahwa mereka baru merencanakan akan membawa Martalangu ke kota malam itu. Sementara sikap kedinginan yang ditunjukkan oleh para tokoh adalah sesuai juga dengan cerita, yaitu mereka berada di luar saat malam yang dingin.

Dengan berpatokan pada penggambaran adegan relief tersebut dapatlah ditentukan bahwa, suatu panil relief yang menggambarkan cerita Panji jika dalam panil tersebut:
1.Terdapat tokoh pria yang bertopi tekes, mengenakan kain sebatas lutut atau lebih rendah lagi menutupi tungkainya dan kadang membawa keris di bagian belakang pinggangnya. Tokoh tersebut ialah Raden Panji.
2.Tokoh selalu disertai pengiring berjumlah 1, 2, atau lebih dari dua. Para pengiring tersebut ialah saudara atau teman Panji. Biasanya ada di antara para pengiring ada yang berperawakan tinggi besar dengan rambut keriting, dialah Brajanata atau berperawakan lucu, pendek, gemuk, dengan rambut dikuncir ke atas dialah Prasanta.
Selain dalam bentuk relief, penggambaran Panji juga dijumpai dalam bentuk arca perwujudan tiga dimensi. Salah satu arca Panji masih dijumpai dari Candi Selakelir di lereng barat laut Gunung Penanggungan. Arca tersebut berukuran 1, 5 mter dalam sikap berdiri, kedua tangannya berada di samping tubuh, mengenakan tekes dan selain juga kalung, upawita dari kain yang menjuntai hingga paha, serta sarung yang mencapai punggung telapak kaki.

Bentuk arca seperti ini mengingatkan pada arca-arca perwujudan dari masa Majapahit akhir lainnya. Misalnya adalah arca Siwa dari Mojokerto, tinggi 84,5 cm, yang sekarang tersimpan di Museum Nasional Jakartan. Arca-arca tersebut memang lebih berkesan static/kaku, mengingatkan pada tubuh orang yang telah meninggal. Menurut Van Romondt, sangat mungkin arca-arca tersebut sebenarnya merupakan arca peringatan bagi leluhur yang telah wafat dan dianggap telah bersatu dengan dewanya.

Berdasarkan data yang ada dapatlah diketahui bahwa penggambaran tojoh Panji dalam bentuk relief atau arca baru muncul ketika Majapahit telah melewati masa kejayaannya, yaitu dalam abad 14 M. Penampilan tokoh tersebut dalam relief sangat mungkin dipengaruhi oleh figur-figur ksatrya yang telah dipahatkan sebelumnya, seperti Sidapaksa dan Sang Satyawan. Tokoh-tokoh itu digambarkan bertopi tekes, dengan pakaian sederhana tidak seperti tokoh-tokoh ksatrya dalam cerita epos India yang berpakaian lebih raya. Walaupun penggambaran Panji dalam bentuk relief hampir mirip dengan tokoh ksatrya, namun cerita Panji mempunyai ciri utama dalam pemahatannya, yaitu selalu hadirnya tokoh-tokoh pengiring, dan hal ini sesuai dengan jalan ceritanya.

Oleh Divisi Riset Museum Ullen Sentalu

 

Pentingnya Memelihara dan Mengembangkan Lakon Panji (Bagian 4 dari serial artikel seputar lakon Panji)

Pentingnya Memelihara dan Mengembangkan Lakon Panji (Bagian 4 dari serial artikel seputar lakon Panji)

Menyoal tentang cerita Panji, sejumlah pertanyaan pantas untuk diajukan. Sejauh mana lakon tersebut pada masa kini memiliki arti penting sebagai bagian aset budaya Indonesia? Seperti apa juga kah nasib cerita Panji ke depannya, makin terpinggirkan oleh cerita-cerita yang lebih modern dan lebih populer, ataukah justru dapat kembali mekar dan menarik perharian khalayak ramai?

Lakon Panji yang merupakan lakon asli Jawa dan Nusantara sejatinya tidaklah kalah dari epos-epos berakar budaya India seperti Mahabharata maupun Ramayana. Faktor keaslian dan mutu cerita yang tingginya semestinya memberi cukup alasan bagi masyarakat Jawa dan Indonesia saat ini untuk terus memelihara serta mengembangkan lakon Panji. Melalui kontribusi positif semacam itu budaya bangsa tentunya terjamin kekokohannya. Lakon Panji pun dapat dijadikan identitas dan ikon epos asli yang berasal dari Indonesia. Lebih baik jika itu dikenal luas sampai ke mancanegara. Dengan begitu, dapatlah diminimalisasi atau malah dihindarkan sama sekali adanya pengalaman buruk yang telah beberapa kali terjadi manakala hasil budaya bangsa ini diklaim oleh negara tetangga.

Apa lagi, banyak peneliti mancanegara telah melakukan riset maupun menuliskan artikel-artikel ilmiah mengenai lakon Panji. Mereka itu antara lain W.H. Rassers yang menulis buku Panji, The Cultural Hero: As Structural Study of Religion in Java; A.Teeuw yang meneliti cerita Panji Syair Ken Tambunan; S.O. Robson yang menulis buku Wangbang Wideya: A Javanese Panji Romance; J.J. Ras yang menulis The Panji Romance and W.H. Rassers Analysis of Its Theme; serta Lidya Kieven yang menuliskan disertasinya yang berjudul Following the Cap-Figure in Majapahit Temple Reliefs.

Memang ada juga orang Indonesia yang meneliti serta menelaah lakon Panji. Contohnya adalah R.M. Poerbatjaraka yang berpendapat bahwa cerita Panji merupakan suatu bentuk revolusi kesusastraan terhadap tradisi India. Menurutnya, lakon Panji berawal dari zaman keemasan Majapahit dan ditulis dalam bahasa Jawa Tengahan.

Namun, Poerbatjaraka berpendapat juga bahwa embrio lakon Panji muncul dalam sastra kuno Jawa sejak abad VII. Lakon Panji diduga berasal dari kakawin Smaradahana karya Mpu Dharmaja dari Jaman Kadiri. Pada bagian akhir kakawin ini diceritakan tentang kisah perkawinan Kamerwara dari Madyadesa (Kadiri) dengan Putri Kirana dari Wajradrawa (Janggala). Penyebaran lakon Panji setelah itu kemudian berlangsung melalui penyalinan dalam bahasa Jawa Tengahan dan Bahasa Melayu.

Oleh Divisi Riset Museum Ullen Sentalu

Penyebaran Cerita Panji (Bagian 3 dari serial artikel seputar lakon Panji)

Penyebaran Cerita Panji (Bagian 3 dari serial artikel seputar lakon Panji)

Sebagai suatu karya sastra yang berkembang dalam masa Jawa Timur Klasik, kisah Panji telah cukup mendapat perhatian para ahli. Cohen Stuart pada 1853 telah membicarakannya dari segi kesusasteraannya. Roorda pada 1869 telah mengulasnya dari segi kisah yang mandiri Poerbatjaraka pada 1968 telah membandingkannya dengan berbagai macam cerita Panji yang telah dikenal.

Menurut C.C.Berg pada 1928, masa penyebaran lakon Panji di Nusantara berkisar antara tahun 1277 M (Pamalayu) hingga ± 1400 M. Ditambahkannya bahwa tentunya telah ada cerita Panji dalam bahasa Jawa Kuno dalam masa sebelumnya, kemudian cerita tersebut disalin dalam bahasa Jawa Tengahan dan Bahasa Melayu. Berg selanjutnya berpendapat bahwa cerita Panji mungkin telah populer di kalangan istana raja-raja Jawa Timur. Namun, cerita itu terdesak oleh derasnya pengaruh Hinduisme yang datang kemudian. Dalam masa selanjutnya cerita tersebut dapat berkembang dengan bebas dalam lingkungan istana-istana Bali.

R.M.Ng. Poerbatjaraka membantah pendapat Berg tersebut. Ia justru berpandangan bahwa cerita Panji merupakan suatu bentuk revolusi kesusastraan terhadap tradisi lama yang berasal dari India. Poerbatjaraka juga menyetujui pendapat W.F.Stutterheim bahwa relief tokoh Panji dan para pengiringnya yang diketemukan di daerah Gambyok, Kediri, dibuat sekitar tahun 1400 M. Akhirnya Poerbatjaraka menyimpulkan bahwa mula timbulnya cerita Panji terjadi dalam zaman keemasan Majapahit, atau dalam masa akhir kejayaan kerajaan tersebut, dengan penulisan dalam Bahasa Jawa Tengahan.

Penyebaran lakon Panji ke Luar Jawa terjadi dalam masa yang lebih kemudian lagi dengan cara penuturan lisan. Dalam perkembangan selanjutnya cerita tersebut ditulis dengan huruf Arab-Melayu. Dalam bentuk naskah Arab-Melayu itulah lakon Panji diperkenalkan ke wilayah Asia Tenggara Daratan. Alhasil, lakon Panji kini tersebar ke daerah di Nusantara meliputi seluruh Jawa dan Bali, Nusa Tenggara, dan berbagai daerah Sumatra, juga hingga menyebar ke negara lain di Asia Tenggara meliputi Thailand, Kamboja, dan Myanmar.

Cerita Panji berkembang melalui berbagai aspek kehidupan dan bentuk seni seperti seni tari, sastra, teater, wayang, seni lukis, dan seni pahat. Meski terdiri dari berbagai versi, sebagai hasil interaksi dengan lingkungan kebudayaan yamg menjadi habitatnya, inti cerita Panji selalu bercerita tentang kehidupan tokoh Raden Panji (Panji Asmorobangun) dari Kerajaan Jenggala dan Putri Candrakirana (Dewi Sekartaji) dari Kerajaan Daha atau Kediri. Raden Panji dianggap sebagai titisan Dewa Wisnu, sedang Dewi Sekartaji sebagai titisan dari Dewi Sri. Penyatuan Panji dan Sekartaji, sebagai bentuk penyatuan pria dan wanita yang menghasilkan kesuburan atau keturunan,dijadikan simbol kesuburan padi.

Dalam kesusastraan Melayu Lama, berbagai versi lakon Panji yang dikenal yaitu Hikayat Jaran Panji Asmaradana, Hikayat Anom Mataram, Hikayat Mesa Gimang, Hikayat Panji Kuda Semirang, dan Hikayat Panji Semirang. Di Bali, lakon Panji dikenal dengan Cerita Malat dan di Palembang dikenal dengan cerita Panji Anggraeni.

Di Jawa sebagai tempat munculnya cerita Panji juga dijumpainya berbagai versi cerita panji sejak masa bahasa Jawa Tengahan. Ini bisa dilihat dari keberadaan naksah-naskah seperti Wangbang Wideya dan Panji Angreni. Dalam bahasa Jawa baru, pujangga Kraton Surakarta,Ronggowarsito, ikut menghasilkan versi gubahannya yang berjudul Panji Jayeng Tilam.

Variasi versi cerita Panji juga mempengaruhi penamaan tokoh-tokoh di dalamnya. Contohnya penyebutan tokoh utama dalam lakon Panji ala Kamboja disebut Eynao. Beda lagi dalam Panji versi Thailand, tokoh utamanya disebut Dalang dan Ari Negara. Walaupun terjadi variasi penyebutan tokoh maupun negara-negera dalam dalam cerita Panji, namun cerita panji tersebut ternyata juga mempunyai pola plot yang sama. Ada pula kemiripan latar negara asal para tokoh yang diceritakan, yaitu Kerajaan Koripan (Kahuripan), Jenggala, Gegelang, Daha (Kediri), Mamenang, Urawan, dan Singasari.
Pola plot cerita intinya berawal dari kisah percintaan putra raja dengan putri raja dari negara yang berbeda yang kemudian dipisahkan. Mereka kemudian berkelana untuk mencari pasangannya. Dalam pengelanaan, mereka melakukan penyamaran. Ketika akhirnya mereka bertemu, penyatuan paripurna mereka ditandai dengan perkawinan.

Oleh Divisi Riset Museum Ullen Sentalu

 

Cerita Panji dalam Relief di Gambyok (Bagian 2 dari serial artikel seputar lakon Panji)

Cerita Panji dalam Relief di Gambyok (Bagian 2 dari serial artikel seputar lakon Panji)

Seringkali, orang menyatakan bahwa ciri utama tokoh Panji dalam penggambaran relief dan arca adalah jika ada figur pria yang digambarkan memakai topi tekes, topi mirip blangkon Jawa, tapi tanpa tonjolan di belakang kepala. Itu sedikit banyak lebih mirip dengan blangkon gaya Surakarta. Badan bagian atas tokoh tersebut digambarkan tidak mengenakan pakaian, sedangkan bagian bawahnya digambarkan memakai kain yang dilipat-lipat hingga menutupi paha.

Pada beberapa relief atau arca, ada yang digambarkan membawa keris yang diselipkan di bagian belakang pinggang. Ada juga yang digambarkan membawa senjata seperti tanduk kerbau, sebagaimana yang dipahatkan di Candi Gajah Mungkur di lereng Gunung Penanggungan.

Jika berpegangan pada tolok ukur bahwa tokoh Panji selalu digambarkan bertopi tekes, maka akan banyak tokoh Panji yang dijumpai dalam relief-relief candi jawa Timur. Ini karena tokoh Sidapaksa suami Sri Tanjung yang dipahatkan di Candi Surawana dan Jabung akan dianggap sebagai tokoh Panji. Demikian pula tokoh Sang Satyawan yang dipahatkan pada pendopo teras II Panataran dan dua figur pria dalam relief cerita Kunjarakarna di Candi Jago akan dapat dianggap sebagai tokoh Panji.

Lalu bagaimana sebenarnya penggambaran relief tokoh Panji yang dikenal dalam cerita Panji?
W.F.Stutterheim (1935) secara gemilang telah berhasil menjelaskan satu panel relief dari daerah Gambyok, Kediri yang nyata-nyata menggambarkan tokoh Panji beserta para pengiringnya. Pendapat Stutterheim tersebut didukung oleh para sarjana lainnya, seperti Poerbatjaraka (1968) dan Satyawati Suleiman (1978). Penggambaran relief Panji di Gambyok tersebut menurut Poerbatjaraka sesuai dengan salah satu episode kisah Panji Semirang, yaitu saat Panji bertemu dengan kekasihnya yang pertama, Martalangu, di dalam hutan.

gambyok-700x300Gambar Relief dari Gambyok

Pada panil itu digambarkan adanya tokoh pria bertopi tekes yang sedang duduk di bagian depan kereta. Tokoh itu tidak lain ialah Panji. Sementara tokoh yang duduk di hadapannya di atas tanah ialah Prasanta. Tokoh paling depan di antara empat orang yang berdiri ialah Pangeran Anom, di belakangnya ialah Brajanata, saudara Panji berlainan ibu. la digambarkan tinggi besar dengan rambutnya yang keriting tapi dibentuk seperti tekes. Dua tokoh berikutnya adalah para kudeyan yaitu Punta dan Kertala.

Dalam relief digambarkan bahwa keretanya belum dilengkapi kuda, karena sesuai dengan cerita bahwa mereka baru merencanakan akan membawa Martalangu ke kota malam itu. Menurut Poerbatjaraka, sikap kedinginan yang ditunjukkan oleh para tokoh adalah sesuai juga dengan cerita, yaitu mereka berada di luar saat malam yang dingin.

Oleh Divisi Riset Museum Ullen Sentalu

Nagarakretagama dan Kutaramanawa

Nagarakretagama dan Kutaramanawa

NAGARAKRETAGAMA yang ditulis Mpu Prapanca kiranya adalah sebuah kitab terpenting yang dihasilkan oleh era Majapahit. Berkat kitab yang berjudul asli Desawarnana tersebut, banyak seluk-beluk kehidupan zaman Majapahit, khususnya pada sekitar masa pemerintahan Maharaja Hayam Wuruk, dapat diketahui dengan cukup rinci. Itu antara lain berupa uraian tentang keluarga raja, deskripsi mengenai ibukota Majapahit, rincian tentang negara-negara bagian Majapahit di Jawa Timur dan Jawa Tengah,daerah-daerah vazal Majapahit di Luar Jawa, risalah mengenai lawatan keliling negara oleh Hayam Wuruk, negara-negara jiran Majapahit di kawasan Asia Tenggara, juga upacara-upacara agama dan adat yang dihelat keluarga raja. Tuturan sejarah mengenai Majapahit yang sebelum penghujung abad XIX sekadar bersumberkan isi kitab-kitab dari era kerajaan-kerajaan Islam serta cerita-cerita rakyat yang beredar secara lisan lantas beroleh pengayaan, atau sebenarnya malah serangkaian verifikasi dan koreksi.

Juli 1979, berselang 85 tahun sejak penemuan kembali pertama kali Nagarakretagama di Lombok pada 1894, sejarawan Prof Dr Slamet Muljana meluncurkan buku tulisannya yang berjudul Tafsir Sejarah Nagarakretagama. Sebagaimana terlihat dari judulnya, buku tersebut merupakan ulasan mendalam dan kontekstual sang penulis terhadap isi Nagarakretagama.

Sebagai alat bantu dalam memahami Nagarakretagama, buku ini memang cukup bisa diandalkan. Bahwa sejak terbit perdana pada 37 tahun silam, buku ini sudah setidaknya dicetak ulang setidaknya sebanyak lima kali adalah suatu petunjuk akan keandalannya. Total 13 bab dalam buku Tafsir Sejarah Nagarakretagama sungguh bukanlah tulisan yang teramat membatasi diri dalam membedah Nagarakretagama. Tanpa ragu-ragu, . Tafsir Sejarah Nagarakretagama menyodorkan serangkaian tuturan yang mundur jauh ke belakang dari periode sewaktu Nagarakretagama. Hasilnya Tafsir Sejarah Nagarakretagama terasa sebagai buku yang cukup komplit membahas sejarah negeri-negeri kuno di Jawa sepanjang era Hindu Buddha, mulai dari Kahuripan di era Airlangga hingga Majapahit.

Kutaramanawa
Salah satu hal paling menarik dalam Tafsir Sajarah Nagarakretagama ada di bab VII. Di situ ditunjukkan bahwa Maharaja Majapahit beserta para nayaka prajanya tidaklah serampangan dalam mengatur rakyatnya, khususnya dalam hal menjalankan peradilan. Untuk memutuskan segala sesuatu, mereka telah memiliki aturan hukum tertulis berupa kitab perundang-undangan bernama Kutara Manawa. Keberadaan kitab ini dijelaskan oleh kitab Nagarakretagama, Prasasti Bendasari, dan Prasasti Trowulan.

Pada dasarnya kitab hukum yang juga dikenal dengan dua sebutan lain yakni Sang Hyang Agama serta Agama ini merupakan kitab undang-undang hukum pidana. Namun, berhubung Majapahit belum mengenal pemisahan baku antara hukum pidana serta perdata, para penyusun Kutara Manawa memasukkan juga ke dalam kitab tersebut aturan-aturan yang kini digolongkan sebagai ranah hukum perdata, yakni jual-beli, pembagian warisan, utang-piutang, bahkan perkawinan, dan perceraian.

Secara keseluruhan, Kutara Manawa memuat tak kurang dari 20 bab. Masing-masing bab tersebut berisikan aturan mengenai hal-hal yang spesifik: I. ketentuan umum, II. mengenai denda, III. pembunuhan, IV. perlakuan terhadap hamba, V. pencurian, VI. paksaan, VII. jual-beli, VII. gadai, VIII. utang-piutang, IX. titipan, X. mahar, XI. perkawinan, XII. mesum, XIII. warisan, XIV. caci-maki, XV. menyakiti/penganiyaan, XVI. kelalaian, XVII. perkelahian, XVIII. tanah, dan XIX. fitnah.

Aturan-aturan yang termuat dalam Kutara Manawa diuraikan secara jelas, tapi memungkinkan untuk mudah dimengerti. Sanksi-sanksi yang dijatuhkan untuk setiap pelanggaran terasa tegas. Pasalnya, Kutara Manawa menerapkan ancaman pidana maksimal berupa hukuman mati. Kasus-kasus yang dijatuhi hukuman mati yakni tindakan kekerasan fisik serta perampasan terhadap hak orang lain antara lain pembunuhan, penganiyaan, pencurian, serta penebangan pohon orang lain tanpa izin pemiliknya. Selain itu, pidana mati juga diberlakukan untuk tindakan-tindakan yang dinilai mengganggu pasokan pangan, contohnya adalah penelantaran lahan sawah atau melalaikan perawatan binatang piaraan.

Umumnya aturan dalam Kutara Manawa sebenarnya lebih menitikberatkan sanksi-sanksi denda sejumlah uang yang harus dihaturkan kepada raja, juga disertai ganti rugi senilai beberapa kali dari nilai barang yang dibayarkan kepada pihak yang dirugikan si terpidana. Contoh-contohnya adalah perampasan ternak berupa kerbau atau sapi didenda 2 laksa yang dibayarkan kepada raja, menebang pohon milik orang lain didenda uang 4 tali, orangtua yang telah menerima mahar perkawinan untuk anak gadisnya dari seorang pelamar, tapi lalu justru menikahkannya dengan lelaki lain, didenda membayar uang 4 laksa kepada raja serta mengganti sebanyak 2 kali nilai mahar yang sebelumnya diterima, lalu orang yang merusakkan barang titipan dengan mengganti rupa ataupun memakai tanpa izin didenda membayar uang 2 laksa kepada raja serta mengembalikan barang titipan sebanyak 2 kali nilai semula. Denda yang dibayarkan kepada raja serta ganti rugi kepada pihak yang dirugikan juga dimungkinkan sebagai tebusan pengganti pidana mati pada kasus pencurian.

Oleh: Yoseph Kelik P (Periset di Museum Ullen Sentalu)
Dari Jurnal Wacana Kinerja Agustus 2016

Referensi :

  • Muljana, Slamet, Tafsir Sejarah Nagarakretagama (Cetakan V), LKiS, Yogyakarta, 2011
  • Ras, JJ, Masyarakat dan Kesusasteraandi Jawa, Yayasan Pustaka Obor Indonesia, Jakarta, 2014
  • Zoetmulder, PJ, Kalangwan: Sastra Jawa Kuno Selayang Pandang, Djambatan, Jakarta, 1985 (Cetakan Kedua)

 

Jelajah Gendhing Jawa hingga Luar Angkasa

Jelajah Gendhing Jawa hingga Luar Angkasa

Gending Ketawang Puspawarna menjadi tembang yang istimewa dan terkenal dibandingkan dengan komposisi gendhing lainnya karena terpilihnya komposisi gending Ketawang Puspawarna sebagai salah satu diantara 26 komposisi musik dunia dari berbagai negara yang dikirim keluar angkasa.

Pada bulan Agustus tahun 1977, Badan Ruang Angkasa Amerika Serikat, NASA, secara berturut-turut meluncurkan wahana antariksa kembar bernama Voyager I dan II. Pada awalnya, kedua wahana ini diprogram untuk melakukan pengamatan atas planet-planet luar tata surya, seperti Yupiter, Saturnus, Uranus, dan Neptunus. Ketika tugasnya selesai, maka Voyager diprogram ulang untuk melakukan penjelajahan sampai ke Heliopause, batas di mana pengaruh Matahari berakhir dan ruang antar bintang dimulai. Kedua wahana saat ini bergerak meninggalkan tata surya dengan kecepatan 17 kilometer per detik. Misi mereka diperkirakan berakhir tahun 2020, saat suplai bahan bakar benar-benar habis.

Dalam setiap Voyager dilengkapi dengan sebuah piringan tembaga berlapis emas, berdiameter 12 inci yang berisi rekaman pesan-pesan dari Bumi sebagai ucapan salam kepada makhluk luar angkasa manapun yang menemukannya. Piringan ini mampu bertahan sampai setengah miliar tahun, sebuah produk terawet yang pernah diciptakan manusia.

Piringan itu menyimpan suara-suara dan gambar-gambar yang mewakili keragaman penghidupan dan kebudayaan Bumi. Didalam rekaman piringan tersebut tersimpan ucapan salam yang diucapkan dalam 60 bahasa (bahasa Indonesia diwakili dengan ucapan salam: “Selamat malam hadirin sekalian. Selamat berpisah, dan sampai bertemu lagi di lain waktu”). Selain itu, rekaman dalam piringan juga berisi 115 gambar dan foto (Indonesia diwakili oleh gambar penari Bali yang dipotret oleh Donna Grosvenor) dan rekaman musik berdurasi satu setengah jam dari berbagai kebudayaan. Nah, komposisi musik yang terdiri dari 26 komposisi musik ini diantaranya terdapat Gending Ketawang Puspawarna.
Ketawang Puspawarna yang direkam pada piringan tembaga berlapis emas tersebut merupakan satu-satunya komposisi musik khas Indonesia yang terpilih untuk ikut serta diterbangkan wahana Voyager ke luar angkasa. Awalnya, seorang guru besar Wesleyan University (AS) yang merupakan pakar musik dunia yaitu Prof. Robert E. Brown yang berjasa dalam memilih komposisi gending Ketawang Puspawarna untuk ikut serta dalam misi Voyager. Mengapa Prof. Robert E. Brown memilih Gendhing ketawang Puspawarna untuk misi Voyager? Beliau memilih Gending Ketawang Puspawarna dikarenakan keindahan dan komposisi gending yang tak terlampau panjang hanya berdurasi 4:43 menit serta mewakili sistem nada slendro sehingga pendengar dapat membandingkannya dengan komposisi-komposisi lain yang ada dalam piringan tersebut. Semua yang mendengar akan segera tahu bahwa sistem nada di Jawa berbeda, bahwa musik dunia memiliki kekayaan sistem nada yang luar biasa.

Gendhing ketawang Puspawarna ini direkam oleh Prof. Robert E. Brown pada akhir tahun 1960-an dalam rangka siaran radio perayaan ulang tahun Paku Alam, dimainkan oleh gamelan istana Paku Alaman, Yogyakarta, yang diarahkan oleh KRT Wasitodipuro (sekarang KPH Notoprojo).
mangkunegoro-iv-notoprojo

Gendhing Ketawang Puspawarna ini biasanya dibunyikan sebagai tanda kedatangan pangeran maupun untuk mengiringi tarian. Gendhing ini memiliki lirik mengenai berbagai jenis bunga yang melambangkan beragam suasana, rasa, atau nuansa. Konon, lirik dan melodi dalam Ketawang Puspawarna dipersembahkan oleh Mangkunegara IV (1853 – 1881) untuk mengenang istri dan selirnya.

Oleh karena itu, kita patut berbangga terhadap hasil kebudayaan sendiri. Apalagi, Gendhing ketawang Puspawarna yang mungkin tidak dikenal lagi oleh masyarakat jawa saat ini ternyata mampu memberikan kontribusi dan memperkenalkan musik tradisional jawa sehingga mulai dikenal masyarakat dunia sejak peluncuran perdana Voyager di Pasadena.

Sumber pustaka:
Putu Fajar Arcana. Brown Pilih “Ketawang Puspawarna”. Kompas Minggu, 21 Agustus 2005
www.wikipedia.org

Alun-alun

Alun-alun

Alun-alun pada dasarnya adalah lapangan besar di tengah kota yang bisa dijumpai hampir di semua kota di Jawa. Alun-alun telah ada sejak masa prakolonial, yaitu pada masa Majapahit sampai Mataram Islam (abad XIII sampai dengan XVIII). Pada periode itu, alun-alun merupakan bagian dari kompleks kraton. Keberadaannya tak jauh-jauh dari urusan simbol legitimasi maupun menjadi prasarana raja memamerkan kekuasaannya

Menurut Mpu Prapanca dalam kitab Nagarakretama, Majapahit memiliki dua alun-alun yang fungsinya pun berlainan. Lapangan Bubat di luar ibukota difungsikan untuk acara-acara profan atau duniawi antara lain untuk pesta rakyat serta tempat berkemah tamu-tamu negara. Lapangan lain yang bernama Waguntur lebih sakral. Lapangan tersebut terletak di dalam pura Raja Majapahit dan digunakan untuk upacara penobatan atau resepsi kenegaraan.

Kerajaan-kerajaan Jawa pasca Majapahit meneruskan keberadaan alun-alun. Kraton Yogyakarta dan Surakarta yang masih eksis sampai sekarang contohnya sama-sama memiliki 2 alun-alun, yaitu Alun-alun Lor di sebelah utara kraton dan Alun-alun Kidul di sebelah selatan kraton. Baik Alun-alun Lor dan Kidul pada dasarnya adalah ruang terbuka berbentuk segi empat.

Di tengah-tengah Alun-alun Lor maupun Kidul ada sepasang pohon beringin yang masing-masing berpagar segi empat. Orang Jawa menyebutkan “waringin kurung”. Nama waringin berasal dari dua suku kata: “wri” yang berasal dari kata “wruh” dan berarti “mengetahui”, lalu “ngin” yang berarti “berpikir” (Pigeaud,1940:180). Gabungan dua kata tersebut pada dasarnya melambangkan manusia yang arif bijaksana. Pohon beringin sendiri melambangkan langit. Kapling tanah berbentuk segi empat dan berpagar melambangkan bumi. Dengan begitu, pohon beringin kurung itu secara keseluruhan melambangkan kesatuan dan harmoni antara manusia dengan alam semesta.

Alun-alun Lor Yogyakarta pada masa lalu berbentuk ruang luar segi empat berukuran 300 x 265 meter. Selain terdapat sepasang pohon beringin kurung di tengah-tengahnya, Alun-alun Lor dikelilingi oleh 64 pohon beringin. Dulunya, permukaan alun-alun tidak berumput. Yang justru ada ialah hampara pasir halus.

alun-alun

(Sumber: Behrens, 1982:4)
Gb.1. Gambar diatas adalah keadaan alun-alun Kraton kasultanan Yogyakarta pada th. 1775.

Alun-alun utara di zaman Mataram juga digunakan oleh rakyat biasa untuk menghadap langsung kepada raja, guna meminta keputusan atau sesuatu kasus atau perselisihan. Ketika melakukannya, orang harus memakai pakaian dan penutup kepala putih. Ia wajib pula duduk menunggu di antara kedua pohon beringin sampai diperbolehkan menghadap raja. Perbuatan demikian ini disebut “pepe”.

Selain itu, alun-alun utara semasa itu juga menjadi lokasi dilangsungkannya sodoran. Itu adalah suatu olahraga ketangkasan ala para ksatria Jawa masa itu. Para penunggang kuda bersenjata tombak berujung tumpul saling serang dan mencoba menyodok lawan tandingnya hingga jatuh.

Di sebelah barat alun-alun terdapat sebuah bangunan penting yakni masjid agung, yang biasa juga disebut masjid gedhe. Di halaman mesjid tersebut terdapat dua buah bangsal terbuka untuk memainkan dua buah perlengkapan gamelan. Yang satu disebut “Kyai Sekati” dan yang lain disebut “Nyai Sekati”. Keduanya dimainkan bergantian hanya pada 3 upacara keagamaan, yaitu: Garebeg Maulud, Garebeg Sawal dan Garebeg Besar.

Sumber:
Alun-Alun sebagai Identitas Kota Jawa, Dulu dan Sekarang oleh Handinoto Staf Pengajar Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Jurusan Arsitektur Universitas Kristen Petra

Ketika Orang Jawa Berhenti Menulis dan Memelihara Buku

Ketika Orang Jawa Berhenti Menulis dan Memelihara Buku

LEWAT buku, ingatan dan pengetahuan dicatat dan dimungkinkan untuk lebih mudah tersebar. Dalam perihal menuliskan buku, masyarakat Jawa melakukannya sejak medio abad IX, ditandai dengan penyaduran terhadap kisah epos Ramayana dari India. Hal ini kurang lebih beriringan dengan masa pembangunan Candi Borobudur dan Prambanan.

Kepiawaian para pujangga istana kerajaan-kerajaan zaman Jawa Kuno membuat penulisan karya sastra maupun kronik terus berjalan dalam abad-abad selanjutnya. Secara isi, karya yang ditulis berkembang, tak lagi saduran apa adanya dari kisah-kisah dari India. Pujangga-pujangga Jawa mengolah lagi banyak kisah dari India menurut kreativitasnya sehingga menghasilkan versi baru yang telah disesuaikan dengan seting maupun alam berpikir Jawa. Para pujangga Jawa juga mengangkat kisah-kisah asli yang bersumber dari dalam masyarakat Jawa sendiri. Mereka juga menciptakan format penulisan khas Jawa berupa kakawin dan kidung.

Era Kerajaan Kediri dan era Kerajaan Majapahit adalah dua periode emas emas penulisan buku di Jawa pada masa lalu. Itu karena dua era tadi memang menghasilkan begitu banyak karya sastra dan kronik. Bharatayudha,Hariwangsa, Gatokacasraya, Krisnayana, Smaradahana, dan Sumanasantaka merupakan sederet karya yang dihasilkan semasa Kerajaan Kediri. Nagarakrtagama, Sutasoma, Arjunawijaya, Lubdhaka, Wrttasancaya, Kunjarakarna, Sudamala, juga Kidung Harsawijaya adala sejumlah contoh karya yang dilahirkan era Kerajaan Majapahit.

Bentuk buku semasa Jawa Kuno adalah susunan sejumlah helai daun lontar. Sebutan khasnya adalah rontal. Penulisannya adalah helai-helai daun lontar digurat memakai semacam pisau kecil.

Kegiatan penulisan buku semasa Jawa Kuno sempat merosot ke titik nadirnya setelah runtuhnya Kerajaan Majapahit pada antara akhir abad XV dan awal abad XVI. Kala itu wilayah inti Majapahit yang meliputi seantero Jawa Timur dan Jawa Tengah terpecah menjadi empat kerajaan yang berseteru sama lain. Mereka itu masing-masing adalah pedalaman Jawa Timur dan Jawa Tengah dirajai oleh Singhawikramawarddhana serta kemudian oleh anaknya, Girindrawarddhana Dyah Ranawijaya, wilayah utara Jawa Timur berikut ibukota lama di Trowulan yang diperintah oleh Kertabhumi, wilayah bagian timur Jawa Timur yang hidup sebagai kerajaan merdeka dengan sebutan Blambangan, juga Pesisir Utara Jawa Tengah yang dikuasai oleh Raden Patah sang penguasa Demak. Perang yang susul menyusul terjadi di antara kerajaan-kerajaan tadi mengganggu kreativitas dan produktivas para pujangga Jawa. Dalam perang-perang itu, tak sedikit pula buku yang menjadi bagian kekayaan literasi Jawa masa itu menjadi musna.

Masa akhir Majapahit hingga masa awal Mataram Islam memang adalah tahun-tahun tergelap Jawa dalam hal penulisan buku. Era Kerajaan Demak dan Pajang bahkan tiada mewariskan karya sastra dan kronik kepada kita yang hidup pada masa sekarang. Bisa jadi karena karya-karya yang dihasilkan dua era itu terlalap habis oleh peperangan. Bisa jadi pula karena penulisan buku memang tidak menjadi prioritas dalam dua era tadi.

Akibatnya, berbagai peristiwa yang terjadi di semasa eksisnya Demak dan Pajang sebenarnya ada di kategori “konon”. Catatan sejarah mengenai era Demak dan Pajang yang selama ini diketahui orang dan termuat dalam buku sejarah sesungguhnya semata bersumberkan kitab-kitab yang baru dituliskan sekitar seabad hingga dua abad setelahnya, tepatnya pada pertengahan abad XVII hingga pertengahan abad XVIII, ketika Jawa sudah berada di zaman Mataram Islam. Tentang peristiwa-peristiwa yang oleh kitab-kitab dari zaman Mataram Islam disebut terjadi semasa Demak dan Pajang, berapa persen yang sungguh-sungguh didapat dari penelusuran ketat terhadap cerita lisan dan memori masyarakat, dan berapa persen yang sekadar hasil rekaan para pujangga kraton Mataram Islam,sungguh teramat sukar untuk memilah-memilahnya. Yah, beginilah jika buku-buku berhenti ditulis dan dipelihara… . (Yoseph Kelik/Periset di Museum Ullen Sentalu)

Referensi :

  • Djafar, Hasan, Masa Akhir Majapahit:Girindrawarddhana dan Masalahnya (Cetakan II), Depok, Komunitas Bambu, 2012
  • Muljana, Slamet, Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-Negara Islam di Nusantara (Cetakan IX), LKiS, Yogyakarta, 2013
  • Ras, JJ, Masyarakat dan Kesusasteraandi Jawa, Yayasan Pustaka Obor Indonesia, Jakarta, 2014
  • Toer, Pramoedya Ananta, Jalan Raya Pos, Jalan Daendels, Lentera Dipantara, Jakarta, 2005
  • Zoetmulder, PJ, Kalangwan: Sastra Jawa Kuno Selayang Pandang, Djambatan, Jakarta, 1985 (Cetakan Kedua)