All posts by Restu Rahayuningsih

file-20171115-19799-1rn76me

Mengobati, Meneliti, dan Menulis: Suatu Kisah Pembuktian Diri Para Dokter Bumiputra

“Dan jika sekarang Islam dan higiene beriringan, dan jika tiap dokter di suatu wilayah Islam mencurahkan lebih banyak perhatian daripada sekarang pada agama yang dianut masyarakat tempat ia bekerja – karena ia propaganda pengobatan Barat modern yang ditunjuk – maka konstruksi pendidikan kesehatan bagi muslim-Indonesia berdasar banyak teks suci dalam Quran dan Hadis sangat mungkin di masa datang.”

Romali dalam jurnal GNTI tahun 1933: 881

 

PENDUDUK pribumi berbicara dalam bahasa mereka sendiri. Mereka pun memiliki keyakinan, adat, dan pandangan sendiri tentang kesehatan serta pengobatan. Semasa Belanda memertuan Nusantara, hal demikian menjadi tantangan bagi para tenaga medis Belanda. Khususnya di Jawa dan Madura yang berpenduduk 9,5 juta pada 1850, banyak sumber mengisahkan tentang berbagai cara penolakan penduduk pribumi terhadap pengobatan dan tenaga kesehatan Barat. Penduduk pribumi lebih suka dirawat dan berobat ke dukun pribumi ketimbang ke dokter Eropa.

Continue reading

Image_2-1024x670

Dari Kuman dan Vaksin hingga Vitamin dan Kina

DI Inggris pada 1749-1823 hiduplah seorang pria cerdas bernama Edward Jenner. Ia seorang dokter bedah, tapi sekaligus tetap menjadi dokter keluarga di pedesaan kampung halamannya.

Lebih dari itu, Jenner adalah pula peneliti cermat yang memiliki kapabilitas menghasilkan penemuan berlevel terobosan. Merujuk tulisan AW Beasley dalam Journal of the Royal College of Physicians Edinburgh 2011; 41 halaman 361–365, Jenner pada sekitar 200 tahun silam telah melakukan riset tentang angina pectoris, suatu nyeri dada yang berkaitan dengan gangguan jantung. Namun, penemuannya yang paling penting lagi paling berpengaruh terjadi pada 1796, mengantar Jenner jadi sosok yang terus dihormati hingga kini. Penemuan Jenner tersebut berupa vaksin cacar.

Continue reading

44

Kisah Singkat tentang Willem Bosch dan Tiga Andilnya dalam Penjinakan Wabah di Jawa

“Banyaknya orang Eropa yang bermigrasi dan ingin menetap di Hindia-Belanda mendorong penelitian higienitas sebagai jaminan keamanan dan kecocokan lokasi yang akan ditinggali.”

Sejarawan Gani Ahmad Jaelani dalam peluncuran dan diskusi buku The Medical Journal of the Dutch-indies 1852-1942di Perpustakan Nasional, 16 November 2017.

 

JAUH sebelum maraknya wabah Covid-19 serta demam berdarah, ada cacar, malaria, beri-beri, pes, dan kolera yang silih berganti menjangkiti para penduduk Nusantara dari berbagai warna kulit tanpa kecuali. Penyakit-penyakit tersebut pernah merajalela dalam rentang waktu yang begitu lama, berabad-abad. Baru terbilang menjinak sejak sekitar 100 atau 50 tahun terakhir.

Continue reading

“Sekolah” Asli Jawa  Sebelum Sekolah ala Barat (#2): Pesantren

“Sekolah” Asli Jawa Sebelum Sekolah ala Barat (#2): Pesantren

Ketika Islam berkembang di Jawa,  menurut  Adabi Darban dalam Fragmenta Sejarah Islam di Indonesia (2008), gerakan dakwah tidak begitu saja menghapus model pendidikan padepokan. Alih-alih yang terjadi adalah modifikasinya sesuai dengan kaidah Islam. Padepokan lantas berganti nama menjadi pesantren, tempat Kyai atau Nyai sebagai gurunya dan santri sebagai siswanya. Konsep pesantren juga mirip dengan wihara, dimana para siswanya tinggal bersama dan belajar di bawah bimbingan guru, serta memiliki asrama (pondok) untuk tempat menginap. Bahkan sejak abad XV di Jawa, pendidikan pesantren dipercaya sebagai alat penyebaran Islam oleh walisanga.

Salah satu cerita yang agaknya menjadi contoh pola peralihan dari model padepokan ala Hindu-Buddha kepada model pesantren kurang lebih bisa diraba dari sekuen Babad Tanah Jawa tentang masa muda Mas Karebet alias Jaka Tingkir, sosok Maharaja Pajang nantinya pada medio abad XVII. Sebagai bentuk menuruti permintaan ibu tirinya supaya meninggalkan kebiasaam menepi di hutan dan gunung, Karebet lantas berguru kepada sejumlah tokoh Muslim di berbagai daerah di Jawa Tengah. Daftarnya di dalam Babad Tanah Jawa meliputi Ki Ageng Sela, Ki Ageng Butuh, Ki Ageng Ngerang, serta Ki Buyut Banyu Biru.

Continue reading

Sekolah” Asli Jawa  Sebelum Mengenal Sekolah ala Barat (#1): Padepokan

“Sekolah” Asli Jawa Sebelum Mengenal Sekolah ala Barat (#1): Padepokan

Jauh sebelum adanya sekolah-sekolah model Barat, masyarakat Jawa telah memiliki model pendidikan aslinya sediri, yang juga dijalankan dalam lingkup lembaga semacam sekolah. Meski agaknya cuma menjangkau sebagian kecil populasi. Padepokan dan pesantren adalah model pendidikan “sekolah” ala Jawa tersebut.

Perbedaan dari keduanya, padepokan eksis ketika masa budaya klasik (Hindu/Budha), sementara pesantren muncul sebagai proses Islamisasi Jawa yang mempertahankan budaya padepokan, tetapi telah diisi kaidah Islam. Demikianlah penjelasan tentang keduanya sebagaimana dipaparkan Nurinda KS Hendrowinoto dalam Ibu Indonesia dalam Kenangan (2004:137). Uniknya, selain banyak mencurahkan perhatian dalam perihal pembentukan karakter melalui pengajaran falsafah keagamaan, padepokan maupun pesantren pada dasarnya memiliki cakupan murid yang luas tanpa membatasi usia.

Continue reading

Medium sized JPEG (1)

Selayang Pandang Grebeg Mulud di Kraton

Hari kelahiran Nabi Muhammad merupakan hari istimewa bagi masyarakat muslim, tak terkecuali di Jawa. Dalam Kalender Jawa yang memadukan penanggalan Hijriah dan Saka, peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad jatuh setiap tanggal 12 Mulud. Pada hari istimewa itu, Kraton Yogyakarta maupun Surakarta rutin mengadakan suatu upacara ageng yang dinamai “Grebeg Mulud”. Selama beberapa hari sebelumnya dihelatpulasuatu pesta rakyat yang lazim disebut sebagai Sekaten.

Di Kraton Yogyakarta, keseluruhan rangkaian prosesi upacara ageng bulan Mulud tersebut diawali pada tanggal 5 Mulud pukul 16.00. Tepatnya dengan dikeluarkannya Gamelan Sekati Kangjeng Kyai Nagawilaga dan Kangjeng Kyai Gunturmadu dari Bangsal Pamonggangan. Gamelan pusaka tersebut lantas diletakkan di tratag timur dan barat Bangsal Ponconiti di area Kemandhungan Ler atau yang disebut juga sebagai Keben. Gamelan-gamelan pusaka itu kemudian dibunyikan selepas Isya’  atau kurang lebih 19.00 sebagai pengiring bagi gendhing para wali.

Continue reading