Alun-alun

Alun-alun

Alun-alun pada dasarnya adalah lapangan besar di tengah kota yang bisa dijumpai hampir di semua kota di Jawa. Alun-alun telah ada sejak masa prakolonial, yaitu pada masa Majapahit sampai Mataram Islam (abad XIII sampai dengan XVIII). Pada periode itu, alun-alun merupakan bagian dari kompleks kraton. Keberadaannya tak jauh-jauh dari urusan simbol legitimasi maupun menjadi prasarana raja memamerkan kekuasaannya

Menurut Mpu Prapanca dalam kitab Nagarakretama, Majapahit memiliki dua alun-alun yang fungsinya pun berlainan. Lapangan Bubat di luar ibukota difungsikan untuk acara-acara profan atau duniawi antara lain untuk pesta rakyat serta tempat berkemah tamu-tamu negara. Lapangan lain yang bernama Waguntur lebih sakral. Lapangan tersebut terletak di dalam pura Raja Majapahit dan digunakan untuk upacara penobatan atau resepsi kenegaraan.

Kerajaan-kerajaan Jawa pasca Majapahit meneruskan keberadaan alun-alun. Kraton Yogyakarta dan Surakarta yang masih eksis sampai sekarang contohnya sama-sama memiliki 2 alun-alun, yaitu Alun-alun Lor di sebelah utara kraton dan Alun-alun Kidul di sebelah selatan kraton. Baik Alun-alun Lor dan Kidul pada dasarnya adalah ruang terbuka berbentuk segi empat.

Di tengah-tengah Alun-alun Lor maupun Kidul ada sepasang pohon beringin yang masing-masing berpagar segi empat. Orang Jawa menyebutkan “waringin kurung”. Nama waringin berasal dari dua suku kata: “wri” yang berasal dari kata “wruh” dan berarti “mengetahui”, lalu “ngin” yang berarti “berpikir” (Pigeaud,1940:180). Gabungan dua kata tersebut pada dasarnya melambangkan manusia yang arif bijaksana. Pohon beringin sendiri melambangkan langit. Kapling tanah berbentuk segi empat dan berpagar melambangkan bumi. Dengan begitu, pohon beringin kurung itu secara keseluruhan melambangkan kesatuan dan harmoni antara manusia dengan alam semesta.

Alun-alun Lor Yogyakarta pada masa lalu berbentuk ruang luar segi empat berukuran 300 x 265 meter. Selain terdapat sepasang pohon beringin kurung di tengah-tengahnya, Alun-alun Lor dikelilingi oleh 64 pohon beringin. Dulunya, permukaan alun-alun tidak berumput. Yang justru ada ialah hampara pasir halus.

alun-alun

(Sumber: Behrens, 1982:4)
Gb.1. Gambar diatas adalah keadaan alun-alun Kraton kasultanan Yogyakarta pada th. 1775.

Alun-alun utara di zaman Mataram juga digunakan oleh rakyat biasa untuk menghadap langsung kepada raja, guna meminta keputusan atau sesuatu kasus atau perselisihan. Ketika melakukannya, orang harus memakai pakaian dan penutup kepala putih. Ia wajib pula duduk menunggu di antara kedua pohon beringin sampai diperbolehkan menghadap raja. Perbuatan demikian ini disebut “pepe”.

Selain itu, alun-alun utara semasa itu juga menjadi lokasi dilangsungkannya sodoran. Itu adalah suatu olahraga ketangkasan ala para ksatria Jawa masa itu. Para penunggang kuda bersenjata tombak berujung tumpul saling serang dan mencoba menyodok lawan tandingnya hingga jatuh.

Di sebelah barat alun-alun terdapat sebuah bangunan penting yakni masjid agung, yang biasa juga disebut masjid gedhe. Di halaman mesjid tersebut terdapat dua buah bangsal terbuka untuk memainkan dua buah perlengkapan gamelan. Yang satu disebut “Kyai Sekati” dan yang lain disebut “Nyai Sekati”. Keduanya dimainkan bergantian hanya pada 3 upacara keagamaan, yaitu: Garebeg Maulud, Garebeg Sawal dan Garebeg Besar.

Sumber:
Alun-Alun sebagai Identitas Kota Jawa, Dulu dan Sekarang oleh Handinoto Staf Pengajar Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Jurusan Arsitektur Universitas Kristen Petra

Ekspedisi Kapal Samudraraksa Borobudur

ERelief-Kapal-Samudra-Raksa_kidnesiathumb630kspedisi ini bermula dari  ketakjuban Philip Beale saat melihat panel-panel relief  kapal niaga yang terpahat di dinding Candi Borobudur. Philip Beale pemuda kelahiran Salisbury,Inggris  adalah mahasiswa penerima beasiswa untuk mempelajari kapal tradisional Indonesia. Beale sendiri telah membaca kisah-kisah tentang pelaut Nusantara yang berlayar mengarungi samudera india sampai Afrika yang terkenal juga dengan jalur kayu manis.

Impian Beale menjadi nyata saat ia bekerja sama dengan Nick Burningham seorang arkeolog kelautan yang tidak asing dengan dunia pembuatan kapal di Indonesia serta seorang nelayan Madura yang sangat berpengalaman dalam pembuatan kapal yakni  As’ad Abdullah. Nelayan kelahiran tahun 1934 itulah yang kemudian memimpin tim pembuatan kapal yang dimulai pada tanggal 20 Januari 2003 dan diturunkan ke air pada tanggal 26 Mei 2003. Pemasangan cadik dilakukan tanggal 11 Juni 2003 dan diresmikan oleh I Gede Ardhika, Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, bersama UNESCO di Pelabuhan Benoa Bali pada tanggal 15 Juli 2003.

 

jalur

Kapal tersebut diberi nama Samudraraksa yang berarti pelindung samudra, adalah nama yang diberikan mantan Presiden Republik Indonesia Megawati Soekarnoputri. Ekspedisi jalur kayu manis dimulai tanggal 15 Agustus 2003 di Jakarta dengan melewati rute Indonesia, Seychelles, Madagaskar, Cape Town, dan berakhir di Ghana tanggal 23 Februari 2004. Dalam pembuatannya, Samudraraksa menggunakan tujuh jenis kayu dengan ukuran panjang 18,29 meter, lebar 4,25 meter, dan tinggi badan kapal 2,45 meter tanpa dilengkapi mesin. Saat digunakan dalam ekspedisi, kapal ini tidak menggunakan mesin tapi hanya mengandalkan layar dan dayung.

 

Setelah sukses menjalani ekspedisinya, Samudraraksa dibongkar dan dikirim kembali ke Indonesia untuk kemudian dirakit kembali dan ditempatkan di Museum Kapal Borobudur yang diresmikan tanggal 31 Agustus 2005.

sumber:http://laut-nusantara.blogspot.co.id/2006/05/sejuta-cerita-samudraraksa-1.html https://teroponginteraktif.wordpress.com/2011/06/06/samudraraksa-bukti-sejarah-ekspedisi-jalur-kayu-manis/

 

Alun-alun Selatan

alun-alun-kidul-yogyakarta

Alun alun Selatan, halaman paling selatan dalam kompleks Kraton Yogyakarta, yang dikenal juga dengan nama Alun-alun Pengkeran (Alun-alun belakang) dan masih terletak di dalam tembok baluwarti (tembok Kraton).

Pada bagian tengah Alun-alun Selatan terdapat dua batang pohon beringin yang dipagari dengan susunan batu bata dan mempunyai dekorasi berupa bulatan dan bentuk busur. Busur-busur pada pagar ini menggambarkan sifat pemuda pemudi. Beringin kurung tersebut dinamakan supit urang karena nama dan jumlahnya menggambarkan bagian tubuh yang rahasia, maka dari itu diberi pagar dan ditutupi. Busur-busur dan roda-roda (bulatan-bulatan) pada dekorasi pagarnya menggambarkan bahwa segala sesuatunya masih labil, mudah bergeser, dan mudah berubah.

Berbeda dari pasangannya yang berada di Alun-alun Utara, Alun-alun Selatan tidak mempunyai bangunan-bangunan dan pohon-pohon beringin lain di bagian pinggir. Namun hanya terdapat dua batang pohon beringin di kanan dan kiri Alun-alun Selatan yang diberi nama wok. Wok berasal dari perkataan brewok yang berarti rambut di sekitar mulut dan dagu, hal itu dijadikan suatu tanda bahwa anak telah menjadi dewasa.

Di tepi Alun-alun ditanami pohon mangga atau pelem dan kweni yang melambangkan pemuda-pemudi yang sudah akil balik dan telah mempunyai kemauan(gelem) dan keberanian (wani).Di sebelah utara ditanam pohon gayam yang mempunyai daun rindang dan bunga yang wangi. Bila angin sedang bertiup, sari bunganya akan berjatuhan sehingga akan tercium aromanya yang harum. Hal ini menggambarkan suasana pemuda pemudi dalam pelukan asmara, bahagia, sehingga segala sesuatunya dirasakan sangat menyenangkan.Selain itu di sisi barat Alun-alun Selatan terdapat sebuah kandang gajah, yang kini telah direnovasi dan difungsikan kembali.

Alun-alun Selatan juga memiliki pagar keliling setinggi 2 m dengan masing-masing dua bukaan pada bagian timur dan barat, serta sebuah bukaan pada bagian selatan. Dua buah bukaan lagi terdapat pada bagian utara, berhubungan dengan jalan supit urang. Bukaan-bukaan tersebut berhubungan dengan jalan beraspal yang melingkar di sepanjang tepi Alun-alun. Lima buah jalan tersebut yang bertemu di Alun-alun Selatan, yaitu Jalan Langenarjan, Jalan Langenastran Utara, Jalan Gajahan, Jalan Patehan, dan Jalan Gading. Lima jalan tersebut menggambarkan panca inderakita. Kemudian halaman alun-alun yang berupa pasir menggambarkan bahwa segala sesuatu yang kita terima melalui panca indera tersebut belum teratur, laksana pasir. Sehingga waktu puber (pemuda pemudi)yang dilambangkan oleh kedua pohon beringin itu adalah waktu untuk menyerap sebanyak mungkin tanggapan-tanggapan yang semuanya masih belum teratur.Luas Alun-alun Selatan tidak sebesar Alun-alun Utara, karena fungsinya hanya digunakan untuk pelatihan prajurit dan pemeriksaan  pasukan menjelang upacara grebeg

Sumber: Ensiklopedia Keraton Yogyakarta
sumber gambar : halowisata.com