Mengenal Aneka Prasasti dalam 90 Halaman

Mengenal Aneka Prasasti dalam 90 Halaman

Judul buku: Prasasti & Raja-Raja Nusantara
Penulis: Trigangga dkk.
Penerbit: Museum Nasional Indonesia
Tahun terbit: 2015
Jumlah halaman: vi+84

Kata “prasasti” bagi kebanyakan orang kiranya akan memunculkan gambaran di kepala tentang bongkahan batu yang bertuliskan aksara serta bahasa kuno. Bagi orang-orang yang cukup mengenal bacaan bertema sejarah, “prasasti” akan sangat mungkin memantik berkelebatnya sekian kata, antara lain Yupa, Ciaruteun, Tugu, Talang Tuo, dan Canggal. Bisa jadi tak juga cuma sebatas itu. Namun, sampai pula kepada Dinoyo, , Anjuk Ladang, Cane, Kambang Putih, atau bahkan Hantang, Mula Malurung dan Walandit. Sekian kata tadi adalah beberapa di antara nama-nama prasasti peninggalan kerajaa-kerajaaan kuno yang pernah eksis di Nusantara sekian ratus tahun silam: Kutai, Tarumanagara, Sriwijaya, Medang, Kahuripan, Janggala, Kediri, Singhasari, serta Majapahit.

Menghafal nama-nama prasasti dan mengingat-ingat pula mereka sebagai peninggalan kerajaan dan raja siapa sedikit banyak adalah sesuatu yang sering dilakukan murid-murid sekolah atau para mahasiswa. Makanan sehari-hari yang berkuliah di bidang sejarah serta arkeologi. Biarpun itu tentu saja tak selalu hal yang menyenangkan.

Hanya saja, sudahkan orang-orang punya pemahaman yang jelas tentang prasasti? Dalam hal ini, Museum Nasional Indonesia menerbitkan sebuah buku tipis setebal 90 halaman yang sangat membantu untuk mendapatkan pemahaman awal dan sekaligus utuh tentang prasasti. Judulnya Prasasti & Raja-Raja Nusantara. Di dalamnya termuat 50 buah prasasti di antara seluruh koleksi Museum Nasional Indonesia yang totalnya ada sekitar 500 buah. Masing-masing prasasti itu dilengkapi dengan penjelasan singkat serta foto.

Prasasti-prasasti yang dimuat dalam Prasasti & Raja-Raja Nusantara tertua berasal dari abad IV Masehi; yang paling muda berasal dari abad XVIII Masehi. Daftarnya dimulai dengan Prasasti Mulawarman (Yupa) peninggalan Kerajaan Kutai, lalu dipungkasi oleh Prasasti Suracala peninggalan Kerajaan Mataram Islam era Amangkurat II.

Prasasti & Raja-Raja Nusantara tak ketinggalan juga menguraikan aneka pengetahuan yang lumayan mendalam seputar prasasti-prasasti zaman Hindu dan Buddha. Itu antara lain terdiri dari klasifikasi bahan prasasti (batu, logam, tanah liat , lontar), klasifikasi aksara yang dipakai (Pallawa, Jawa Kuno, Sunda Kuno, Sumatra Kuno, Bali Kuno, Nagari, Tamil), hingga isi dan struktur prasasti. Khusus mengenai pembahasan isi dan struktur prasasti, pembaca dapat sekalian memperoleh pengetahuan mengenai tata masyarakat Jawa Kuno. Selain itu ada juga ulasan singkat tentang sistem pembagian waktu pada zaman itu yang punya sejumlah perbedaan dengan sistem yang dikenal sekarang.

Nah, dengan sekian macam isinya tersebut, jelaslah bahwa buku tipis ini tak bisa disepelekan kandungan “gizinya”? (Yoseph Kelik)

Nagarakretagama dan Kutaramanawa

Nagarakretagama dan Kutaramanawa

NAGARAKRETAGAMA yang ditulis Mpu Prapanca kiranya adalah sebuah kitab terpenting yang dihasilkan oleh era Majapahit. Berkat kitab yang berjudul asli Desawarnana tersebut, banyak seluk-beluk kehidupan zaman Majapahit, khususnya pada sekitar masa pemerintahan Maharaja Hayam Wuruk, dapat diketahui dengan cukup rinci. Itu antara lain berupa uraian tentang keluarga raja, deskripsi mengenai ibukota Majapahit, rincian tentang negara-negara bagian Majapahit di Jawa Timur dan Jawa Tengah,daerah-daerah vazal Majapahit di Luar Jawa, risalah mengenai lawatan keliling negara oleh Hayam Wuruk, negara-negara jiran Majapahit di kawasan Asia Tenggara, juga upacara-upacara agama dan adat yang dihelat keluarga raja. Tuturan sejarah mengenai Majapahit yang sebelum penghujung abad XIX sekadar bersumberkan isi kitab-kitab dari era kerajaan-kerajaan Islam serta cerita-cerita rakyat yang beredar secara lisan lantas beroleh pengayaan, atau sebenarnya malah serangkaian verifikasi dan koreksi.

Juli 1979, berselang 85 tahun sejak penemuan kembali pertama kali Nagarakretagama di Lombok pada 1894, sejarawan Prof Dr Slamet Muljana meluncurkan buku tulisannya yang berjudul Tafsir Sejarah Nagarakretagama. Sebagaimana terlihat dari judulnya, buku tersebut merupakan ulasan mendalam dan kontekstual sang penulis terhadap isi Nagarakretagama.

Sebagai alat bantu dalam memahami Nagarakretagama, buku ini memang cukup bisa diandalkan. Bahwa sejak terbit perdana pada 37 tahun silam, buku ini sudah setidaknya dicetak ulang setidaknya sebanyak lima kali adalah suatu petunjuk akan keandalannya. Total 13 bab dalam buku Tafsir Sejarah Nagarakretagama sungguh bukanlah tulisan yang teramat membatasi diri dalam membedah Nagarakretagama. Tanpa ragu-ragu, . Tafsir Sejarah Nagarakretagama menyodorkan serangkaian tuturan yang mundur jauh ke belakang dari periode sewaktu Nagarakretagama. Hasilnya Tafsir Sejarah Nagarakretagama terasa sebagai buku yang cukup komplit membahas sejarah negeri-negeri kuno di Jawa sepanjang era Hindu Buddha, mulai dari Kahuripan di era Airlangga hingga Majapahit.

Kutaramanawa
Salah satu hal paling menarik dalam Tafsir Sajarah Nagarakretagama ada di bab VII. Di situ ditunjukkan bahwa Maharaja Majapahit beserta para nayaka prajanya tidaklah serampangan dalam mengatur rakyatnya, khususnya dalam hal menjalankan peradilan. Untuk memutuskan segala sesuatu, mereka telah memiliki aturan hukum tertulis berupa kitab perundang-undangan bernama Kutara Manawa. Keberadaan kitab ini dijelaskan oleh kitab Nagarakretagama, Prasasti Bendasari, dan Prasasti Trowulan.

Pada dasarnya kitab hukum yang juga dikenal dengan dua sebutan lain yakni Sang Hyang Agama serta Agama ini merupakan kitab undang-undang hukum pidana. Namun, berhubung Majapahit belum mengenal pemisahan baku antara hukum pidana serta perdata, para penyusun Kutara Manawa memasukkan juga ke dalam kitab tersebut aturan-aturan yang kini digolongkan sebagai ranah hukum perdata, yakni jual-beli, pembagian warisan, utang-piutang, bahkan perkawinan, dan perceraian.

Secara keseluruhan, Kutara Manawa memuat tak kurang dari 20 bab. Masing-masing bab tersebut berisikan aturan mengenai hal-hal yang spesifik: I. ketentuan umum, II. mengenai denda, III. pembunuhan, IV. perlakuan terhadap hamba, V. pencurian, VI. paksaan, VII. jual-beli, VII. gadai, VIII. utang-piutang, IX. titipan, X. mahar, XI. perkawinan, XII. mesum, XIII. warisan, XIV. caci-maki, XV. menyakiti/penganiyaan, XVI. kelalaian, XVII. perkelahian, XVIII. tanah, dan XIX. fitnah.

Aturan-aturan yang termuat dalam Kutara Manawa diuraikan secara jelas, tapi memungkinkan untuk mudah dimengerti. Sanksi-sanksi yang dijatuhkan untuk setiap pelanggaran terasa tegas. Pasalnya, Kutara Manawa menerapkan ancaman pidana maksimal berupa hukuman mati. Kasus-kasus yang dijatuhi hukuman mati yakni tindakan kekerasan fisik serta perampasan terhadap hak orang lain antara lain pembunuhan, penganiyaan, pencurian, serta penebangan pohon orang lain tanpa izin pemiliknya. Selain itu, pidana mati juga diberlakukan untuk tindakan-tindakan yang dinilai mengganggu pasokan pangan, contohnya adalah penelantaran lahan sawah atau melalaikan perawatan binatang piaraan.

Umumnya aturan dalam Kutara Manawa sebenarnya lebih menitikberatkan sanksi-sanksi denda sejumlah uang yang harus dihaturkan kepada raja, juga disertai ganti rugi senilai beberapa kali dari nilai barang yang dibayarkan kepada pihak yang dirugikan si terpidana. Contoh-contohnya adalah perampasan ternak berupa kerbau atau sapi didenda 2 laksa yang dibayarkan kepada raja, menebang pohon milik orang lain didenda uang 4 tali, orangtua yang telah menerima mahar perkawinan untuk anak gadisnya dari seorang pelamar, tapi lalu justru menikahkannya dengan lelaki lain, didenda membayar uang 4 laksa kepada raja serta mengganti sebanyak 2 kali nilai mahar yang sebelumnya diterima, lalu orang yang merusakkan barang titipan dengan mengganti rupa ataupun memakai tanpa izin didenda membayar uang 2 laksa kepada raja serta mengembalikan barang titipan sebanyak 2 kali nilai semula. Denda yang dibayarkan kepada raja serta ganti rugi kepada pihak yang dirugikan juga dimungkinkan sebagai tebusan pengganti pidana mati pada kasus pencurian.

Oleh: Yoseph Kelik P (Periset di Museum Ullen Sentalu)
Dari Jurnal Wacana Kinerja Agustus 2016

Referensi :

  • Muljana, Slamet, Tafsir Sejarah Nagarakretagama (Cetakan V), LKiS, Yogyakarta, 2011
  • Ras, JJ, Masyarakat dan Kesusasteraandi Jawa, Yayasan Pustaka Obor Indonesia, Jakarta, 2014
  • Zoetmulder, PJ, Kalangwan: Sastra Jawa Kuno Selayang Pandang, Djambatan, Jakarta, 1985 (Cetakan Kedua)

 

Memandang Bencana Sebagai Paringan Gusti

kekuatanjiwaJudul Buku : Kekuatan Jiwa Orang Jawa Kebangkitan Dari Bencana Gempa Bumi 2006 Dan Erupsi Merapi 2010
Penyusun : Dr. Widya Nayati , M.A
Penyunting : Dr. Widya Nayati, M.A
Penerbit : Ombak
Tahun Terbit : 2012
Jumlah halaman : vii + 47
Buku berjudul Kekuatan Jiwa Orang Jawa Kebangkitan Dari Bencana Gempa Bumi 2006 Dan Erupsi Merapi 2010 merupakan buah dari program kegiatan oleh Pusat Kajian Pengembangan Kebudayaan Indonesia Universitas Gajah Mada. Merupakan tulisan kompilasi beberapa orang akademisi yang telah melalui penyuntingan oleh Dr. Widya Nayati, M.A. Isinya mengenai “rahasia” ketahanan jiwa masyarakat Yogyakarta di dua lokasi bencana alam yang pernah menimpa Yogyakarta di tahun 2006 dan 2010, hingga menjadikan mereka segera pulih dan berbenah diri dalam waktu yang relatif cepat. Buku ini berisi enam bab. Dua bab mengkisahkan ulang peristiwa gempa bumi yang menimpa Yogyakarta bagian selatan di tahun 2006 dan bagaimana masyarakat di Yogya selatan menyikapinya. Satu bab yang lain mengkisahkan peristiwa erupsi Gunung Merapi yang menimpa masyarakat Yogya bagian utara dan bagaimana mereka menyikapinya. Tiga bab sisanya mengurai bagaimana kearifan hidup orang Jawa tampil sebagai benteng pertahanan jiwa korban-korban gempa dan erupsi Merapi hingga mampu segera bangkit dari keterpurukan bahkan menyikapi bencana yang menimpa secara positif.

Tak peduli seberapa parah kerugian jiwa dan benda yang dialami, bagi para korban terdampak bencana, bencana alam tetap dipandang sebagai “paringan Gusti” yang tak bisa dihindari tetapi harus diterima. Masyarakat di lereng Merapi telah mengenal aktivitas Merapi dengan siklus empat tahunan sekali. Karenanya erupsi Merapi telah dianggap sebagai bagian dari kehidupan mereka yang pada akhirnya akan memberikan rejeki. Dalam kepercayaan setempat, erupsi Merapiadalah pertanda bahwa Eyang Merapi sedang mengadakan hajatan. Harta benda, hasil bumi, dan ternak yang musnah dalam bencana dianggap sekedar dipinjam oleh Eyang Merapi untuk keperluan hajatannya dan kelak “dikembalikan” berkali-kali lipat di masa-masa selanjutnya. Tanah tempat tinggalnya tetap dianggap tanah yang “ngrejekeni” artinya sarat rejeki meskipun rawan erupsi Merapi. Ini sekilas teladan menyikapi secara positif dalam kondisi terburuk sekalipun. Korban gempa di wilayah selatan Yogyakarta pun bersikap demikian. Terlepas dari segala kerugian harta benda yang diderita mereka masih bersyukur nyawanya masih terselamatkan. Ketika gempa terjadi (sekitar pukul 5.55 WIB), mereka sudah bangun tidur dan bekerja jauh dari rumah. Bagi mereka bangun pagi dan bekerja menjadi suatu berkat Ilahi yang telah menghindarkan mereka dari akibat terburuk “paringan Gusti” tersebut.

Hubungan yang masih kuat antara masyarakat Yogyakarta dengan raja sebagai pimpinan tertinggi dalam konteks budaya terwujud dalam kunjungan Sultan Hamengku Buwana X ke dua lokasi bencana, gempa dan erupsi. Mereka seolah memperoleh ketentraman batin setelah raja menjenguk mereka di lokasi bencana. Kehadiran raja turut menjadi sarana pemersatu. Yang utama pedoman pada nilai luhur dan prinsip hidup gotong royong, eling lan waspada, sapa obah mamah, manungsa saderma nglakoni, atau Gusti ora sare menjadikan mereka lebih mudah bangkit, tidak hanya bagi diri atau kelompok kerabatnya saja melainkan bersama-sama dengan sesama korban bencana di sekitarnya. Slogan di cover belakang buku ”Dudu Sanak Dudu Kadang Yen Mati Melu Kelangan” menekankan hal ini.

Buku setebal hanya sekitar 40-an halaman ini boleh jadi cukup komprehensif menjadi rujukan awal untuk memahami sikap hidup orang Jawa tentang bertahan dan bangkit dalam situasi sulit. Menarik pula membaca cerita-cerita lisan di masyarakat lokal yang membentuk sikap positif dalam melalui bencana atau situasi sulit. Tak menutup kemungkinan dengan membaca buku pembaca menemukan perspektif baru dalam menyikapi setiap peristiwa hidup. (Ch. Maria Goreti/ Divisi Riset Museum Ullen Sentalu)

 

Warna-Warni Budaya dalam Barisan Prajurit Yogyakarta

prajuritJudul Buku : Prajurit Kraton Yogyakarta:
Filosofi dan Nilai Budaya Yang Terkandung di Dalamnya
Penyusun : H. Yuwono Sri Suwito, RM Tirun Marwito, Marsono, Ign. Eka Hadiyanta, Sektiyadi, Dharma Gupta, Pratiwi Yuliani
Penyunting : Mustofa W. Hasyim, Dodi Ps
Penerbit : Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Yogyakarta
Tahun Terbit : 2009
Jumlah halaman : x + 94

Prajurit Kraton Yogyakarta bukan hanya barisan pria berseragam dan bersenjata, tapi juga bagian dari khazanah budaya Jawa di Yogyakarta. Memiliki sejarah sepanjang Kesultanan Yogyakarta itu sendiri, prajurit Kraton sudah berabad-abad makan asam garam dari menjadi instrumen pertahanan kerajaan dalam bentuk kesatuan militer yang sempat membuat Inggris kewalahan, terbentur kebijakan demiliterisasi dan menjadi sebatas pengawal, sampai akhirnya hadir di era Republik sebagai pelengkap seremonial adat Kraton. Fungsi yang terakhir ini semakin menyoroti sisi filosofis dan budaya dari prajurit Kraton, dan inilah yang menjadi hidangan utama buku ini.

Setelah menyediakan latar belakang berupa sejarah Yogyakarta beserta prajurit Kraton di awal, buku terbitan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Yogyakarta ini membawa pembaca menjelajah seluk beluk prajurit Kraton Yogyakarta. Di era modern, yang berada di pucuk komando para prajurit Kraton Yogyakarta adalah Manggalayudha, perwira tertinggi yang secara simbolik setara dengan Jenderal di hierarki militer modern, diikuti Pandhega yang setara dengan Kolonel. Mereka membawahi sepuluh bregada atau kesatuan prajurit, yaitu Wirabraja, Dhaeng, Patangpuluh, Jagakarya, Prawiratama, Nyutra, Ketanggung, Mantrirejo, Bugis, Surakarsa. Tiap bregada dikomando oleh perwira berpangkat Kapten, dan regu-regu dalam bregada dipimpin seorang Sersan. Setiap posisi memiliki sistem struktural, seragam, panji-panji, sampai nama senjata yang berbeda.

Selain nilai budaya fisik, buku ini juga membahas nilai filosofis di balik penamaan dan budaya perilaku prajurit Kraton. Falsafah dasar prajurit Kraton pertama kali diletakkan oleh Sultan Hamengku Buwana I yaitu “Sawiji, Greget, Sengguh, Ora Mingkuh” dapat diartikan sebagai “Konsentrasi, Semangat, Percaya Diri, Pantang Mundur”. Bahkan nama-nama bregada pun memiliki filosofi di baliknya. Sebut saja prajurit Wirabraja yang dalam Sansekerta berarti “berani” dan “tajam”, mengisyaratkan “prajurit yang sangat berani melawan musuh dan tajam serta peka panca inderanya”. Juga prajurit Dhaeng yang secara etimologis berasal dari gelar kebangsaan di Makassar, dan secara filosofis bermakna “prajurit elit gagah berani seperti prajurit Makassar pada waktu dulu melawan Belanda”. Selain nama, filosofi di balik warna-warna pada seragam dan panji tiap prajurit juga mendapat perhatian. Warna hitam diartikan sebagai keabadian dan kekuatan, merah dan jingga berkonotasi keberanian, putih berarti kesucian, kuning dan emas bermakna keluhuran, dan hijau adalah simbol pengharapan. Urutan cara berjalan, cara memberi hormat, sampai aba-aba di dalam barisan juga mendapat pembahasan mendetail.

Buku ini merupakan sumber yang komprehensif bagi mereka yang tertarik mengenal dan mendalami tentang prajurit Kraton Yogyakarta. Memang beberapa deskripsi terutama di pembahasan seragam dan busana adat banyak menggunakan istilah berbahasa Jawa, namun semua itu dilengkapi ilustrasi mendetail dan penuh warna yang sekiranya dapat membantu imajinasi pembaca. Terlebih lagi, di akhir buku terlampir glosarium istilah dan budaya Jawa, berikut tabel serta ilustrasi yang lengkap tentang perangkat busana, mata tombak, dan panji-panji yang cukup menstimulasi secara visual. Namun di sisi lain, mungkin karena buku ini adalah hasil kolaborasi beberapa penulis, hasil akhirnya masih terbaca kurang menyatu. Hal ini terutama terasa ketika ada beberapa sub-bab yang memakai format dan gaya bahasa berbeda di dalam bab yang sama. Dalam deskripsi ilustrasi juga ditemukan penggunaan istilah yang tidak konsisten, seperti “pradjoerit” dan “prajurit”. Akhir kata, terlepas dari beberapa kelalaian di formatting yang kadang menyulitkan navigasi, informasi dan pengetahuan yang disajikan buku ini bisa dibilang menyeimbangkan kekurangannya. (Widya Amasara, Intern Divisi Riset Museum Ullen Sentalu )

33 Tahun Kejayaan Mataram di Bawah Sultan Agung

puncakJudul Asli : De Regering van Sultan Agung, vorst Van Mataram, 1613-1645 en Die van Zijn Voorganger Panembahan Seda Ing Krapyak 1601-1613
Judul Terjemahan : Puncak Kekuasaan Mataram Politik Ekpansi Sultan Agung
Penulis : DR. H.J De Graaf
Penerbit : PT Pustaka Grafitipers
Jumlah Halaman : xii + 323
Tahun Terbit : 1958/ 1986

Jika anda punya ketertarikan dalam menelusuri masa kejayaan imperium Mataram maka anda akan dipuaskan dengan uraian kisah peristiwa yang ditulis dalam buku Puncak Kekuasaan Mataram Politik Ekpansi Sultan Agung. Buku ini merupakan buku sejarah yang diolah oleh sejarawan besar Belanda, DR. H.J De Graaf, yang banyak meneliti tentang Mataram Islam. Diterbitkan asli dalam bahasa Belanda di tahun 1958, buku ini merupakan salah satu dari rangkaian buku seri terjemahan Javanologi, sebagai hasil kerjasama antara Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara dengan Perwakilan Koninklijk Instituut voor Taal- Land en Volkenkunde.

Di bab-bab awal De Graaf membekali pembacanya dengan gambaran kondisi Mataram yang diwarisi Sultan Agung serta gambaran rinci sosok sang sultan ini. Selanjutnya uraian kisah mengalir bagaimana Sultan Agung menancapkan otoritas kekuasaannya sedemikian rupa atas banyak daerah di sekitar Mataram menjadikan mereka tunduk dalam kendali Mataram. Ini menempatkan Mataram menjadi imperium yang mengendalikan hampir seluruh Jawa. Ekspansi yang begitu sering selalu disertai alokasi biaya yang tak sedikit serta pengerahan sumber daya manusia yang tak terbilang banyaknya. Tapi berbuah panenan yang ajeg mengalir ke keraton bahkan sumber daya ahli yang akan berjasa memoles kemegahan kerajaan.

Penaklukan besar atas Surabaya, yang selama bertahun-tahun menjadi musuh bebuyutan Mataram, mengesahkan kendali Mataram di Jawa bagian timur. Untuk memperkuat dominasi ini diaturlah politik pernikahan lewat pernikahan antara adik perempuan Sultan Agung, Ratu Pandansari dengan putra penguasa Surabaya, Pangeran Pekik. Pangeran Pekik adalah orang yang piawai di bidang seni sehingga dengan kehadirannya semakin memoles karya seni Mataram. engan kreativitasnya ia juga menciptakan wayang krucil yang berukuran lebih kecil dibanding wayang kulit Jawa. Cerita yang diminkan umumnya mengambil dari cerita jaman Pajajaran dan Majapahit, meski tidak menutup kemungkinan memainkan cerita wayang purwa.

Tiga tahun setelah penaklukan Surabaya, Sultan Agung mengerahkan sumber daya militer secara besar-besaran menyerang VOC di Batavia. Penguasaan Gubernur Jendral VOC J.P Coen atas Batavia tahun 1619 menyadarkan Sultan Agung bahwa telah muncul kekuatan asing di tanah Jawa yang telah merebut satu bagian Pulau Jawa yang telah diincarnya sejak lama. Murka sang sultan berimbas dalam bentuk serangan besar-besaran atas Batavia hingga sebanyak dua kali di tahun 1628-1629. Walaupun berakhir dengan kegagalan di pihak Mataram tetapi keberanian Sultan Agung menyerang VOC membuat Mataram semakin disegani.

Sultan Agung membangun stabilitas kerajaan di atas alas kegagahan daya tempur aparat militer yang diimbangi legitimasi dari budaya keagamaan. Untuk ini dijalin diplomasi dengan ulama-ulama besar di Mekah untuk memberikan gelar Sultan. Di masa akhir hidupnya, Sultan Agung memandang perlu pembangunan suatu makam megah nan filosofis bagi dirinya dan keturunannya. Ini diwujudkan dalam pembangunan makam Imogiri yang ditempatkan di kawasan bukit Merak Pegunungan Seribu. Ia wafat dan dimakamkan di Imogiri tahun 1646.

Buku ini bisa dianggap sebagai rujukan yang komprehensif yang menawarkan gambaran rangkaian peristiwa masa pemerintahan Sultan Agung yang terjadi 400 tahun lalu. De Graaf yang merupakan sejarawan berkebangsaan Belanda sama sekali tidak mengabaikan sumber-sumber primer seperti babad serta cerita-cerita tradisional untuk merekonstruksi ulang peristiwa. Meski demikian penulis melakukan seleksi sumber mendalam, ini tersurat dalam bentuk perbandingan kisah peristiwa dalam sumber tradisional dengan data-data ilmiah maupun catatan orang Eropa yang sengaja disajikan dalam buku ini. Jalinan peristiwa diulas dengan sangat rinci, dengan banyak kutipan reka adegan peristiwa. Contohnya gambaran kegigihan wanita-wanita Madura ketika berperang menghadapi ekspansi Mataram atas Surabaya dituliskan :
“Dan dari orang-orang Madura tidak hanya laki-laki saja yang mempertahankan diri dengan gigih, tetapi wanita-wanita pun menyebabkan kesulitan bagi tentara Mataram. Mereka menggunakan senjata sebaik suami mereka dan memberi semangat kepada para suami sambil memaksa mereka bertempur. Beberapa orang laki-laki …, yang luka-luka berat, mengeluh tentang hal ini kepada para wanita, tetapi melihat luka-luka mereka terdapat di badan bagian belakang, para wanita itu memukul mereka sampai mati.”

Pembaca pun akan memperoleh gambaran lengkap antara lain tentang keraton, agama, masjid keraton, birokrasi kerajaan, kehidupan dalam istana, perajurit kerajaan, wabah penyakit, hingga reputasi Mataram di kawasan luar Pulau Jawa. Penerjemahan yang dilakukan dikerjakan oleh Pustaka Grafitipers bekerjasama dengan KITLV ini berhasil menyajikan gaya bahasa yang sederhana, lugas dan menstimulus imajinasi pembaca pada sorak sorai bala tentara dan ratap tangis rakyat jelata, sebagaimana yang diungkapkan dalam pengantar oleh peneribit. Namun uraian peristiwa yang sangat kronologis, font yang tidak terlalu besar ditambah spasi yang cukup rapat tidak dipungkiri cenderung menimbulkan kebosanan bagi pembacanya.

(Ch. Maria Goreti/ Educator Tour & Divisi Riset Museum Ullen Sentalu)

 

 

Bercermin Tentang Hidup Lewat Lakon Wayang

Judul Buku : Wayang dan Panggilan Manusia wayang
Pengarang : Franz Magnis Suseno
Penerbit : PT.Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit : Juli 1995 (Cetakan kedua)
Ukuran : 18 x 11 cm
ISBN : 979-511-306-2
Jumlah Halaman : viii + 107 halaman

Lakon pewayangan sangat dekat dengan hidup keseharian kita. Setiap lakonnya memuat makna tersirat tentang kompleksitas hidup manusia, yang tidak sesederhana sekedar membedakan antara baik dan buruk atau salah dan benar. Melainkan memberi gambaran jernih tentang permasalahan hidup manusia yang kompleks, kebutuhan akan eksistensi, prasangka, membuka realitas bahwa tak ada manusia yang seburuk iblis sama seperti tak ada manusia yang sesempurna malaikat.

Buku Wayang dan Panggilan Manusia menampilkan beberapa tokoh wayang yang mewakili ambiguitas sifat manusia, sebut saja Kumbakarna adik Rahwana, seorang raksasa yang hanya gemar makan dan tidur tapi nyatanya berbudi luhur, bersikap lemah lembut, dan berjiwa ksatria. Adapula Adipati Karna di kisah Mahabharata. Keduanya adalah ksatria sejati yang bersedia lebur di kubu angkara murka Rahwana dan Kurawa, karena Kumbakarna merasa berkewajiban mempertahankan tanah airnya Alengka, dan Adipati Karna tahu balas budi kepada Kurawa yang telah “membesarkannya”.

Slogan “sepi ing pamrih rame ing gawe” nyata dalam sosok Semar. Punggawa punakawan Pandawa ini sejatinya adalah Sang Batara Narada yang disegani para dewata namun mengambil rupa seorang abdi sederhana yang tidak terpelajar yang senantiasa menyertai jatuh bangun perjalanan hidup Pandawa. Kesaktian dan kebijaksanaan Semar tak diragukan lagi. Pandawa selalu selamat dan berhasil memenangkan pertarungan hidup karena selalu didampingi oleh Semar. Akan tetapi tak pernah timbul niatan untuk memperoleh imbalan kedudukan atau harta atas jasa-jasanya. Melihat pada Kumbakarna, Semar ataupun Adipati Karna siapapun diingatkan untuk selalu mawas diri, selalu memperhitungkan yang terlihat lemah, buruk atau marjinal, dan menilai seseorang harus dari segala sudut pandang.

Buku mini yang terbit perdana pada tahun 1991 ini ditulis secara apik oleh Franz Magnis Suseno. Penulis berhasil mereflesikan moral wayang dalam bahasa sederhana dan lugas tentang kompleksitas hidup manusia yang tersirat dalam lakon wayang, menjadikan buku ini cocok dibaca oleh siapapun. Nampaknya latar belakang penulis sebagai seorang cendekiawan, budayawan dan rohaniwan membuka refleksi lebih luas tentang keteladanan moral dalam wayang dengan nilai moral yang setara dalam Kitab Suci. Ini makin menegaskan bahwa moral wayang merupakan moral yang universal. (Ch. Maria Goreti/ Educator Tour & Divisi Riset Museum Ullen Sentalu)

Membaca Kisah Borobudur dalam Format Komik

Judul Buku : Borobudur, Pusaka Abadi Nan Jayaborobudur
Pengarang : Handaka Vijjãnanda
Penerbit : Ehipassiko Foundation
Tahun Terbit : 2013 (Cetakan 1)
ISBN : 978-602-8194-72-3
Jumlah Halaman : 247 Halaman

‘Komik Borobudur, Pusaka Abadi Nan Jaya’ mengupas tuntas sejarah Candi Borobudur sejak pencetusan ide pertama oleh Raja Panangkaran dari Mataram Kuno di Abad 8 Masehi hingga sekarang. Sang Penulis, Handaka Vijjãnanda menerangkan bahwa Candi Borobudur alias ‘Bhumi Sambhara (Budhara)’ dibangun selama 75 tahun dengan mengadaptasi bangunan kuil di India karena Sang Arsitek Tunggal, ‘Gunadharma’ berasal dari India. Tak hanya itu, Handaka menekankan bahwa Borobudur merupakan persemayaman 2.672 panel relief batu andesit yang teruntai seperti ‘komik gigantik’ yang sarat dengan nilai-nilai moral, seni, budaya, kemanusiaan, dan spiritual. Dengan demikian, wajar saja bila uraian proses perbaikan, pemugaran, bahkan penobatan Borobudur sebagai World Heritage No. 592 merupakan bagian mutlak dalam komik ini.

Dilihat dari sisi keunggulan, Komik Borobudur ini memiliki gaya penyampaian yang sederhana, penggambaran tokoh yang imaginatif, tampilan adegan yang full colour, dan bahasa penyampaian yang komunikatif. Hal ini membuat komik ini mudah dipahami oleh berbagai kalangan masyarakat dari anak-anak hingga orang-orang dewasa. Alur cerita yang bergerak maju juga membuat tatanan komik ini lebih mudah dipahami, bahkan oleh orang awam sekalipun. Tak hanya itu, ukuran buku yang tidak terlalu besar, membuat komik ini mudah dibawa. Meski sedikit komedi di dalam adegan tetapi Komik Borobudur seru untuk dibaca dan jika dibandingkan dengan komik-komik lain, komik ini memiliki nilai lebih dalam pengetahuan sejarah dan budaya, terutama pesan moral yang di sampaikan dari cerita panel-panel relief Borobudur. Jadi dapat dikatakan bahwa Komik Borobudur merupakan komik pendidikan yang menggali nilai-nilai luhur dalam bangunan Candi Borobudur.

‘Di balik beberapa kelebihan pasti ada kekurangan’, begitu pula pada komik ini. Penyebutan ‘Candi Dasabhumi’ untuk sub-tema pertama dapat dikatakan belum bahkan tidak ada dalam kajian Sejarah maupun Arkeologi. Penyebutan ini mungkin lebih mengarah pada sudut pandang kultural dan filosofis bukan sudut pandang ilmiah, sehingga keakuratan datanya perlu ditinjau kembali. Sementara dalam pembahasan teknik pembuatan ornamen dan relief Candi Borobudur, teknik ini dirasa belum sesuai dengan hasil rekonstruksi cara pembuatan relief Candi Borobudur yang selama ini dikenal, yaitu teknik menera langsung gambar atau pahatan pada dinding candi. Tak hanya itu, ada beberapa hal yang juga perlu mendapat penjernihan Sejarah dan perlu dipertimbangkan kembali. Jumlah panel relief di Borobudur yang ditemukan sejauh ini berjumlah 1.460 panel, bukan 2.672 panel seperti yang dituturkan Handaka. Kemudian, masalah penyebutan Gunadharma sebagai Sang Arsitek Tunggal yang benar-benar mengkonsep Borobudur dari awal hingga akhir, hal ini menutup peran arsitek lokal yang mungkin juga berperan dalam pembangunan Borobudur saat itu. Sama halnya dengan pernyataan Handaka bahwa Candi Borobudur dibangun selama 75 tahun, pernyataan ini kurang sesuai dengan bukti artefaktual dan beberapa prasasti yang menjelaskan bahwa Borobudur dibangun ± 50 tahun dari tahun 780 hingga 833 Masehi atau dari masa Raja Panangkaran hingga Raja Warak dan putrinya, Pramodhawardhani.

Terlepas dari kelebihan atau kekurangan di atas, sebuah apresiasi patut ditujukan kepada Sang Penulis, ‘Handaka Vijjãnanda’. Ia adalah seorang biksu kelahiran Temanggung, 22 Juni 1971 yang sejak tahun 2012 mulai menggeluti penulisan komik berlatarkan bangunan Candi Borobudur. Latar belakang inilah yang mungkin menyebabkan sudut pandang komik ini lebih ke arah kultural bahkan filosofis. Namun satu hal yang perlu kita kagumi, sebelum Handaka menerbitkan ‘Komik Borobudur, Pusaka Abadi Nan Jaya’ ternyata ia telah menerbitkan karya pertamanya tentang Borobudur berjudul ‘Manohara: Putri Sanfri-la’ di tahun 2012. Sebuah komik yang diterbitkan Yayasan Budha ‘Ehipassiko Foundation’, yang tak lain didirikan sendiri oleh Handaka. Untuk itu, Handaka dapat dikatakan sebagai penulis pertama yang mengupas Sejarah Borobudur dalam bentuk ‘komik’. (Restu Ambar Rahayuningsih, Peneliti di Divisi Riset Museum Ullen Sentalu)

Sri Sultan dalam Kenangan

tahtauntukrakyatJudul Buku : Tahta Untuk Rakyat:
Celah-Celah Kehidupan Sultan Hamengku Buwono IX
Penyusun : Mohammad Roem, Mochtar Lubis, Kustiniyati Mochtar, S. Maimoen
Penyunting : Atmakusumah
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit : 2011 (cetakan keempat)
Jumlah halaman : xlvi + 347

 

Bagi pembaca yang mencari informasi atau sekadar ingin tahu mengenai Sultan Hamengku Buwono IX dari Ngayogyakarta Hadiningrat, buku ini merupakan salah satu sumber paling lengkap dan komprehensif yang tersedia. Buku biografi suntingan Atmakusumah ini disusun dalam rangka memperingati ulang tahun ke-70 Hamengku Buwono IX. Pertama kali diterbitkan di tahun 1981, buku ini tidak hanya memuat perjalanan hidup sang raja Yogyakarta di masa perjuangan, tapi juga testimoni dan kesan-kesan terhadap Sultan yang ditulis oleh orang-orang di sekelilingnya. Kebanyakan tulisan testimonial ini tidak kronologis dan masing-masing hanya mengupas satu sisi kehidupan Sultan, membentuk mosaik yang sungguh layak dijuduli ‘Celah-Celah Kehidupan’. Beberapa di antara penulis testimoni adalah nama-nama yang biasa ditemukan di buku sejarah, sebut saja Mohammad Roem, A.H. Nasution, Mohammad Natsir, Sjafruddin Prawiranegara, dan istri Mohammad Hatta. Beberapa testimoni ditulis oleh orang asing seperti T.K. Critchley, George McT. Kahin, Arnold C. Brackman, dan J.H. Ritman. Buku ini menyajikan tulisan mereka dalam Bahasa Indonesia, namun juga menyertakan naskah aslinya dalam Bahasa Inggris atau Belanda.

Tulisan testimonial mencakup hampir setengah dari buku ini. Topik yang dibahas bervariasi dari sisi politik, budaya, olahraga, sampai pengalaman pribadi dengan Hamengku Buwono IX. Sudut pandang dan kesan yang diberikan juga beragam, namun hampir semuanya seiya sekata bahwa peranan dan dukungan sang Sultan Yogyakarta untuk Republik Indonesia sangat besar dan bisa dibilang menentukan nasib bangsa pada saat itu. Roem menggambarkan bagaimana Hamengku Buwono IX konsisten mendukung Republik sampai menawarkan Yogyakarta menjadi ibukota sementara, McT. Kahin menulis tentang bagaimana Sultan menolak tawaran Belanda untuk dijadikan raja seluruh Jawa, dan Rh. Kusnan serta Ny. R. Mohammad Hatta mengenang bantuan finansial dari Hamengku Buwono IX di saat-saat paling kritis bagi Republik dan para nasionalis.

Di luar kiprah politik, satu lagi yang banyak disorot dari tulisan-tulisan ini adalah pribadi Hamengku Buwono IX yang terbilang unik untuk seorang bangsawan feodal. Frans Seda, Rosihan Anwar, serta Sjafruddin Prawiranegara memujinya sebagai seorang patriot tanpa pamrih yang nasionalis dan demokratis, A.H. Nasution dan dr. A. Halim mengenang Hamengku Buwono IX sebagai sosok penguasa sederhana yang gemar menyetir sendiri mobilnya, dan Prof. Dr. Moestopo mengagumi ketangguhan fisiknya yang masih sanggup berkarya untuk negara di usia senja. Sambutan dari (kala itu) Presiden Soeharto, Wakil Presiden Adam Malik, dan surat dari Pangeran Bernhard dari Belanda juga menunjukkan dekatnya hubungan personal Hamengku Buwono dengan tokoh-tokoh kenegaraan ini.

Dalam cetakan keempatnya, buku Tahta Untuk Rakyat ini mendapat penambahan catatan Julius Pour berjudul “Perjalanan Terakhir Ngarsa Dalem—Dari Rumah Sakit George Washington sampai Astana Saptarengga” sebagai bab ke-39. Catatan yang sangat kronologis ini mengulas hari-hari terakhir Hamengku Buwono IX pada September-Oktober 1988 termasuk prosesi pemakamannya dalam 15 halaman yang mendetail dan bisa dibilang menggetarkan emosi. Penutup yang konklusif sekaligus indah dari mosaik biografi tokoh besar Yogyakarta dan Republik Indonesia ini. (Widya Amasara, intern di Divisi Riset Museum Ullen Sentalu)

Menilik Simbol Legitimasi Praja Jawa di Balik Kursi

Judul Buku : Kursi Kekuasaan Jawa
Penulis : Eddy Supriyatna Marizar
Penerbit : NARASI
Tahun Terbit : 2013
Jumlah Halaman : 408

Buku ini menawarkan kajian mendalam mengenai bentuk, fungsi dan makna simbolik sebuah kursi dalam lingkup kekuasaan Jawa dan lingkup pemerintahan Indonesia hingga akhir masa pemerintahan Presiden RI kedua, Suharto. Kursi tampil sebagai topik utama, karena kursi mewakili mebel yang unik dan misterius dibanding mebel yang lain. Secara khusus di lingkup budaya kekuasaan Jawa dan lingkup pemerintahan Indonesia, kursi tampil sebagai benda memiliki citra yang unik, penuh misteri dan sarat makna simbolik. Ulasan dalam buku ini dikembangkan dari disertasi Dr. Eddy Supriyatna Marizar, M.Hum mengenai arti penting kursi dalam lingkup budaya Jawa secara khusus di Yogyakarta meliputi Keraton Yogyakarta, Gedung Agung, dan Pura Pakualaman.

Di sini dikemukakan bahwa tradisi duduk dalam kehidupan masyarakat Asia cenderung dilakukan di lantai. Kegiatan duduk berkaitan erat dengan hierarki sosial, sebab duduk di atas kursi hanya dilakukan oleh orang berstatus sosial tinggi yakni para bangsawan atau raja. Dalam lingkup kekuasaan Jawa di Keraton Yogyakarta, istilah dhampar lebih populer daripada kursi. Mengapa demikian? Penulis yang juga merupakan dosen tetap Fakultas Seni Rupa dan Desain Universitas Tarumanegara ini memaparkan bahwa kata Al-Kursi dan juga istilah arash kursi ditafsirkan sebagai fondasi kokoh dimana di atasnya kokoh berdiri sesuatu yang dapat menahan dan menopangnya, atau sebagai tempat yang teramat tinggi, mulia, dan di atasnya hanya ada Tuhan. Bila dikaitkan dengan ayat Al-Kursi maka kursi bermakna sangat tinggi dan memberi beban psikologis besar bagi penggunanya, sehingga tempat duduk raja di lingkungan keraton tidak dinamakan kursi melainkan dhampar. Ini selaras dengan konsep Jawa bahwa raja adalah wakil Tuhan di dunia yang terejawantah dalam gelar Sultan Yogyakarta Khalifatullah. Oleh karenanya ketika Sultan duduk di dhampar kencana, Sultan diposisikan sebagai manusia yang telah sempurna dan manunggal dengan Tuhannya. Prof. Dr.R.M. Soedarsono dalam kata sambutannya menekankan hal ini merupakan fungsi kursi sebagai “status display”atau pameran status sekaligus legitimasi kekuasaan seorang raja. Fungsi kursi yang demikian terejawantahkan terutama sepanjang pemerintahan Sultan Hamengku Buwana VIII dimana sultan memperkaya desain kursi keraton yang sengaja dibalut warna kuning emas untuk menampilkan kesan mewah sebagai kompensasi dari peran sosial politik keraton yang semakin diperlemah dan dipersempit.
Tidak hanya dalam lingkup kekuasaan tradisional Jawa kursi menempati posisi sakral dan magis, melainkan juga dalam lingkup pemerintahan Indonesia. Presiden Indonesia pertama dan kedua turut memberi warna perabotan rumah tangga khususnya kursi di Gedung Agung sesuai selera mereka guna melegitimasi kekuasaan mereka. Kesakralan dan nilai magis kursi tercermin lewat ragam bentuk, gaya, ornamen yang senantiasa berubah-ubah seturut jaman dalam mewakili makna simbolis tertentu. Sehubungan dengan kolonisasi bangsa Eropa di Jawa, ragam bentuk dan ornamen kursi di keraton, Gedung Agung, maupun pura Pakualaman tak terlepas dari pengaruh meubel gaya Eropa. Seperti kursi masa Hamengku Buwana VI yang dipengaruhi gaya Victorian atau masa Hamengku Buwana VII yang dipengaruhi gaya mebel James II dari Inggris. Semakin diramaikan dengan gaya mebel Prancis seperti gaya Barok, Rokoko, Neo Klasik danEmpire.

Dr. Eddy menguraikan posisi strategis kursi secara luas dan mendalam, meski demikian pembacaakan sangat terbantu dengan foto-foto berbagai dhampar kencana, amparan, kursi kadipaten, serta kursi-kursi kepresidenan dengan berbagai gaya serta gambar ilustrasi yang berkaitan dengan simbolisasi sebuah kursi. (Ch. Maria Goreti/Edukator Tour dan Divisi Riset Museum Ullen Sentalu)

Mengenal Satu Per Satu Adipati Mangkunegaran

250mangkunegaranJudul buku : 250 Tahun Pura Mangkunegaran
Penulis : Krisnina Maharani A. Tandjung
Penerbit : Yayasan Warna Warni Indonesia, Cetakan I, November 2007
Tebal : x + 128

SATU di antara kiblat budaya yang sampai sekarang masih ada di Kota Solo adalah Pura Mangkunegaran. Keberadaan Pura Mangkunegaran sedikit banyak memberikan kontribusi dan warna dalam geliat budaya masyarakat Solo, baik berupa karya sastra, seni infrastruktur atau arsitektur bangunan, seni tari, seni karawitan, dan seni pewayangan. Bahkan, jika ditimbang-timbang, sumbangsih Pura Mangkunegaran dalam kebudayaan tersebut tak lagi sebatas di tingkat Kota Solo, tetapi sudah turut memerkaya budaya Jawa pada umumnya, bahkan juga Nusantara. Semua kontribusi tadi berlangsung turun-temurun sejak KGPAA Mangkunegara I yang menjabat pada media abad XVIII hingga KGPAA Mangkunegara IX yang menjabat sekarang ini.

250 Tahun Pura Mangkunegaran merupakan buku ringkas berbahasa sederhana karya Krisnina Maharani A. Tandjung yang sangat membantu para pemula yang ingin mendapatkan pengetahuan mengenai Pura Mangkunegaran. Buku ini dilengkapi dengan keterangan dan foto – foto yang antara lain didapat penulisnya dari arsip di negara Belanda.

Bagian Pertama
Bagian pertama dari buku ini membahas tentang sejarah berdirinya Mangkunegaran yang bermula dari pergolakan dalam kerajaan Mataram Islam pada medio abad XVIII semasa pemerintahan Susuhunan Pakubuwana II. Pada periode tersebut, Mataram tercatat mengalami mengalami dua perang saudara besar yakni Perang Geger Pacina pada 1740-1743 ketika ibukota Kartasura sempat diduduki para pemberontak dari trah mantan Raja Amangkurat III yang bersekutu dengan kaum Tionghoa yang eksodus dari Batavia, tak berapa lama kemudian pada 1746 pecah lagi perang saudara bernama Perang Suksesi Jawa III yang berlangsung sampai 1755. Dua perang saudara tersebut memang saling berkaitan. Perang Suksesi Jawa III pecah sebagai dampak ketikdakpuasan kalangan internal Kraton Mataram terhadap Perjanjian 1743 antara Pakubuwana II dan VOC, yang mana wilayah Pantai Utara Jawa beserta kota–kota pentingnya disewakan dengan nilai rendah kepada VOC sebagai imbalan bantuan mereka dalam memenangkan Perang Geger Pacina. Dalam Perang Suksesi Jawa III, Pangeran Mangkubumi dan Raden Mas Saaid adalah sepasang pemimpin dari para bangsawan Mataram yang memerangi Pakubuwana II dan VOC.

Perang Suksesi Jawa III berakhir setelah Pakubuwana II wafat. Mataram lalu dibagi menjadi dua kerajaan oleh VOC pada 1755 melalui Perjanjian Giyanti. Separo disebut Surakarta yang dipimpin putra Pakubuwana II yakni Pakubuwana III; separo lainnya disebut Yogyakarta yang dipimpin Pangeran Mangkubumi, yang kemudian mengambil gelar sebagai Sultan Hamengkubuwana. Namun, Raden Mas Said masih meneruskan perlawanan baik kepada VOC, Surakarta, maupun juga Yogyakarta. Perlawanan pria yang juga dijuluki sebagai Pangeran Sambernyawa tersebut baru berakhir setelah Pakubuwana III atas dorongan VOC mengajaknya berunding pada 17 Maret 1757 di Salatiga. Perundingan itu menghasilkan Perjanjian Salatiga yang menyatakan Raden Mas Said diangkat sebagai adipati dengan gelar Mangkunegara, yang berkedudukan di bawah Sunan Paku Buwana III di Surakarta dan berhak atas wilayah 4.000 karyo (kepala keluarga).

Bagian Kedua
Pada bagian kedua, penulis membahas masa muda, pemerintahan, karir, dan peninggalan budaya para adipati di Mangkunegaran mulai dari Mangkunegara I hingga adipati Mangkunegaran yang sekarang, Mangkunegara IX. Masing-masing memeroleh pembahasan dalam bab-bab yang tersendiri.

Mangkunegara I sebagai sosok pendiri Mangkunegaran jelas memeroleh pembahasan yang cukup rinci tentang masa pemerintahannya. Sosok yang cakap berperang dan sanggup memerangi Belanda sampai 15 tahun, ternyata memiliki pula keahlian dalam karawitan, seni tari, wayang kulit, dan wayang orang. Mangkunegara I tercatat menciptakan 3 tarian yang sampai sekarang dianggap sebagai pusaka oleh pihak Mangkunegaran, yakni Bedhoyo Anglir Mendung yang menceritakan pertempuran di Ponorogo, Bedhoyo Diridometo yang menceritakan perjuangan berperang di hutan Sitokepyak, serta Bedhoyo Sukopratomo yang menceritakan kisah penyerangan benteng Kompeni di Yogyakarta.

Mangkunegara IV adalah sosok yang mengadopsi sistem kewirausahaan modern ala Barat ke dalam Praja Mangkunegaran. Itu diwujudkannya dengan membangun perkebunan-perkebunan dan pabrik-pabrik bagi komoditas yang laku diekspor. Yang paling terkenal adalah perkebunan tebu dan 2 pabrik gula besar yakni Colomadu serta Tasikmadu. Ia aktif pula di bidang budaya dengan menulis tak kurang dari 42 buku mengenai sastra Jawa, antara lain Nojokaworo, Salokatomo, Wirowiyoto, Tripomo, Jogatomo, dan Serat Wedhotomo. Ia tercatat pula mendirikan Perpustakaan Mangkunegaran pada tahun 1867, juga menjadi Ketua Komisi Sekolah Guru Jawa pada media abad XIX.

Mangkunegara VI yang memerintah pada awal abad XX adalah peletak dasar reformasi budaya Jawa. Ia mengelola praja Mangkunegaran dengan sangat hemat karena perekonomian sempat terpuruk oleh resesi dan salah urus dari pemerintahan sebelumnya. Sang adipati ini juga menyederhanakan tata-krama, yaitu nara praja yang akan melapor atau menghadap tidak diperbolehkan duduk di bawah, melainkan duduk sama-sama di kursi atau berdiri, juga tidak perlu menyembah berkali-kali. Dalam bidang kesehatan, Mangkunegara VI mengusahakan pelayanan dokter umum hingga pedesaan.

Mangkunegara VII adalah tokoh yang melanjutkan kegiatan dan pembangunan, sangat peduli terhadap bidang pendidikan dan kebudayaan. Pada masa pemerintahannya, banyak dibuka sekolah untuk rakyat sampai ke desa-desa. Ada pula pendirian perpustakaan-perpustakaan seperti Sono Pustoko dan Panti Pustoko. Para nara praja pun diwajibkan belajar menari dan karawitan serta diadakan penelitian tentang cara belajar nembang. Mangkunegara VII juga berjasa dalam merintis penyiaran di Indonesia, yaitu dengan mendirikan stasiun radio swasta pertama Solosche Radio Vereeniging (SRV) tahun 1933. Dalam dunia politik, Mangkunegara VII juga aktif dalam organisasi sosial sepeti Boedi Oetomo dan Jong Java.

Sekali lagi, buku ini sangat bagus dibaca oleh orang awam yang ingin mengetahui sejarah berdirinya Pura Mangkunegaran. Sayangnya, untuk beberapa kata ada yang salah dalam pengejaan dan buku ini hanya terpusat pada sejarah dan para adipati yang memerintah di Mangkunegaran. Alangkah lebih baik apabila penulis juga mencantumkan beberapa ornamen/bangunan di dalam kraton sehingga pembaca lebih mengenal dan bisa berimajinasi tentang setting kraton tersebut. (Ambar WS/Edukator Tur dan Konservator di Museum Ullen Sentalu)