Cerita Panji dalam Kepurbakalan Indonesia (Bagian 5 dari serial artikel seputar lakon Panji)

Cerita Panji dalam Kepurbakalan Indonesia (Bagian 5 dari serial artikel seputar lakon Panji)

Keberadaan Cerita Panji dalam bentuk karya sastra masih dapat disaksikan hingga saat ini melalui beberapa temuan relief maupun arca yang melukiskan adanya tokoh panji. Hal itu lebih didasarkan pada keadaan data yang bertahan hingga kini, terutama data yang bersifat artefaktual (material culture).

Data relief candi yang berasal dari abad ke-13—15 M masih relatif banyak dijumpai, tersebar pada beberapa candi yang berlokasi di Jawa Timur. Cerita Panji dipahatkan di 7 kepurbakalaan, yaitu candi Jawi, Pendopo Teras II Panataran, Surawana, Miri Gambar, serta 3 punden berundak di Gunung Penanggungan.

Tokoh panji pertama kali diidentifikasikan dengan penciri utama berupa figur pria digambarkan mengenakan tutup kepala yang disebut tekes, badan bagian atas digambarkan tidak mengenakan pakaian, sedangkan bagian bawahnya digambarkan memakai kain yang dilipat-lipat hingga menutupi paha. Jika berpegangan pada tolok ukur bahwa tokoh Panji selalu digambarkan bertopi tekes, maka akan banyak tokoh Panji yang dijumpai dalam relief-relief candi jawa Timur.
Relief cerita Panji yang dapat diketahui secara pasti hanyalah terdapat pada beberapa candi saja dalam masa Majapahit. Penggambaran relief tokoh Panji yang dikenal dalam cerita Panji pada satu panil relief dari daerah Gambyok, Kediri yang nyata-nyata menggambarkan tokoh Panji beserta para pengiringnya. Penggambaran relief Panji di Gambyok tersebut menurut Poerbatjaraka sesuai dengan salah satu episode kisah Panji Semirang, yaitu saat Panji bertemu dengan kekasihnya yang pertama, Martalangu, di dalam hutan.

Pada panil relief Panji Gambyok digambarkan adanya tokoh pria bertopi tekes yang sedang duduk di bagian depan kereta, tokoh itu tidak lain ialah Panji. Sementara tokoh yang duduk si hadapannya di atas tanah ialah Prasanta. Tokoh paling depan di antara empat orang yang berdiri ialah Pangeran Anom, di belakangnya ialah Brajanata, saudara Panji berlainan ibu. la digambarkan tinggi besar dengan rambutnya yang keriting tapi dibentuk seperti tekes. Dua tokoh berikutnya adalah para kudeyan yaitu, Punta dan Kertala. Dalam relief digambarkan bahwa keretanya belum dilengkapi kuda, karena sesuai dengan cerita bahwa mereka baru merencanakan akan membawa Martalangu ke kota malam itu. Sementara sikap kedinginan yang ditunjukkan oleh para tokoh adalah sesuai juga dengan cerita, yaitu mereka berada di luar saat malam yang dingin.

Dengan berpatokan pada penggambaran adegan relief tersebut dapatlah ditentukan bahwa, suatu panil relief yang menggambarkan cerita Panji jika dalam panil tersebut:
1.Terdapat tokoh pria yang bertopi tekes, mengenakan kain sebatas lutut atau lebih rendah lagi menutupi tungkainya dan kadang membawa keris di bagian belakang pinggangnya. Tokoh tersebut ialah Raden Panji.
2.Tokoh selalu disertai pengiring berjumlah 1, 2, atau lebih dari dua. Para pengiring tersebut ialah saudara atau teman Panji. Biasanya ada di antara para pengiring ada yang berperawakan tinggi besar dengan rambut keriting, dialah Brajanata atau berperawakan lucu, pendek, gemuk, dengan rambut dikuncir ke atas dialah Prasanta.
Selain dalam bentuk relief, penggambaran Panji juga dijumpai dalam bentuk arca perwujudan tiga dimensi. Salah satu arca Panji masih dijumpai dari Candi Selakelir di lereng barat laut Gunung Penanggungan. Arca tersebut berukuran 1, 5 mter dalam sikap berdiri, kedua tangannya berada di samping tubuh, mengenakan tekes dan selain juga kalung, upawita dari kain yang menjuntai hingga paha, serta sarung yang mencapai punggung telapak kaki.

Bentuk arca seperti ini mengingatkan pada arca-arca perwujudan dari masa Majapahit akhir lainnya. Misalnya adalah arca Siwa dari Mojokerto, tinggi 84,5 cm, yang sekarang tersimpan di Museum Nasional Jakartan. Arca-arca tersebut memang lebih berkesan static/kaku, mengingatkan pada tubuh orang yang telah meninggal. Menurut Van Romondt, sangat mungkin arca-arca tersebut sebenarnya merupakan arca peringatan bagi leluhur yang telah wafat dan dianggap telah bersatu dengan dewanya.

Berdasarkan data yang ada dapatlah diketahui bahwa penggambaran tojoh Panji dalam bentuk relief atau arca baru muncul ketika Majapahit telah melewati masa kejayaannya, yaitu dalam abad 14 M. Penampilan tokoh tersebut dalam relief sangat mungkin dipengaruhi oleh figur-figur ksatrya yang telah dipahatkan sebelumnya, seperti Sidapaksa dan Sang Satyawan. Tokoh-tokoh itu digambarkan bertopi tekes, dengan pakaian sederhana tidak seperti tokoh-tokoh ksatrya dalam cerita epos India yang berpakaian lebih raya. Walaupun penggambaran Panji dalam bentuk relief hampir mirip dengan tokoh ksatrya, namun cerita Panji mempunyai ciri utama dalam pemahatannya, yaitu selalu hadirnya tokoh-tokoh pengiring, dan hal ini sesuai dengan jalan ceritanya.

Oleh Divisi Riset Museum Ullen Sentalu

 

Penyebaran Cerita Panji (Bagian 3 dari serial artikel seputar lakon Panji)

Penyebaran Cerita Panji (Bagian 3 dari serial artikel seputar lakon Panji)

Sebagai suatu karya sastra yang berkembang dalam masa Jawa Timur Klasik, kisah Panji telah cukup mendapat perhatian para ahli. Cohen Stuart pada 1853 telah membicarakannya dari segi kesusasteraannya. Roorda pada 1869 telah mengulasnya dari segi kisah yang mandiri Poerbatjaraka pada 1968 telah membandingkannya dengan berbagai macam cerita Panji yang telah dikenal.

Menurut C.C.Berg pada 1928, masa penyebaran lakon Panji di Nusantara berkisar antara tahun 1277 M (Pamalayu) hingga ± 1400 M. Ditambahkannya bahwa tentunya telah ada cerita Panji dalam bahasa Jawa Kuno dalam masa sebelumnya, kemudian cerita tersebut disalin dalam bahasa Jawa Tengahan dan Bahasa Melayu. Berg selanjutnya berpendapat bahwa cerita Panji mungkin telah populer di kalangan istana raja-raja Jawa Timur. Namun, cerita itu terdesak oleh derasnya pengaruh Hinduisme yang datang kemudian. Dalam masa selanjutnya cerita tersebut dapat berkembang dengan bebas dalam lingkungan istana-istana Bali.

R.M.Ng. Poerbatjaraka membantah pendapat Berg tersebut. Ia justru berpandangan bahwa cerita Panji merupakan suatu bentuk revolusi kesusastraan terhadap tradisi lama yang berasal dari India. Poerbatjaraka juga menyetujui pendapat W.F.Stutterheim bahwa relief tokoh Panji dan para pengiringnya yang diketemukan di daerah Gambyok, Kediri, dibuat sekitar tahun 1400 M. Akhirnya Poerbatjaraka menyimpulkan bahwa mula timbulnya cerita Panji terjadi dalam zaman keemasan Majapahit, atau dalam masa akhir kejayaan kerajaan tersebut, dengan penulisan dalam Bahasa Jawa Tengahan.

Penyebaran lakon Panji ke Luar Jawa terjadi dalam masa yang lebih kemudian lagi dengan cara penuturan lisan. Dalam perkembangan selanjutnya cerita tersebut ditulis dengan huruf Arab-Melayu. Dalam bentuk naskah Arab-Melayu itulah lakon Panji diperkenalkan ke wilayah Asia Tenggara Daratan. Alhasil, lakon Panji kini tersebar ke daerah di Nusantara meliputi seluruh Jawa dan Bali, Nusa Tenggara, dan berbagai daerah Sumatra, juga hingga menyebar ke negara lain di Asia Tenggara meliputi Thailand, Kamboja, dan Myanmar.

Cerita Panji berkembang melalui berbagai aspek kehidupan dan bentuk seni seperti seni tari, sastra, teater, wayang, seni lukis, dan seni pahat. Meski terdiri dari berbagai versi, sebagai hasil interaksi dengan lingkungan kebudayaan yamg menjadi habitatnya, inti cerita Panji selalu bercerita tentang kehidupan tokoh Raden Panji (Panji Asmorobangun) dari Kerajaan Jenggala dan Putri Candrakirana (Dewi Sekartaji) dari Kerajaan Daha atau Kediri. Raden Panji dianggap sebagai titisan Dewa Wisnu, sedang Dewi Sekartaji sebagai titisan dari Dewi Sri. Penyatuan Panji dan Sekartaji, sebagai bentuk penyatuan pria dan wanita yang menghasilkan kesuburan atau keturunan,dijadikan simbol kesuburan padi.

Dalam kesusastraan Melayu Lama, berbagai versi lakon Panji yang dikenal yaitu Hikayat Jaran Panji Asmaradana, Hikayat Anom Mataram, Hikayat Mesa Gimang, Hikayat Panji Kuda Semirang, dan Hikayat Panji Semirang. Di Bali, lakon Panji dikenal dengan Cerita Malat dan di Palembang dikenal dengan cerita Panji Anggraeni.

Di Jawa sebagai tempat munculnya cerita Panji juga dijumpainya berbagai versi cerita panji sejak masa bahasa Jawa Tengahan. Ini bisa dilihat dari keberadaan naksah-naskah seperti Wangbang Wideya dan Panji Angreni. Dalam bahasa Jawa baru, pujangga Kraton Surakarta,Ronggowarsito, ikut menghasilkan versi gubahannya yang berjudul Panji Jayeng Tilam.

Variasi versi cerita Panji juga mempengaruhi penamaan tokoh-tokoh di dalamnya. Contohnya penyebutan tokoh utama dalam lakon Panji ala Kamboja disebut Eynao. Beda lagi dalam Panji versi Thailand, tokoh utamanya disebut Dalang dan Ari Negara. Walaupun terjadi variasi penyebutan tokoh maupun negara-negera dalam dalam cerita Panji, namun cerita panji tersebut ternyata juga mempunyai pola plot yang sama. Ada pula kemiripan latar negara asal para tokoh yang diceritakan, yaitu Kerajaan Koripan (Kahuripan), Jenggala, Gegelang, Daha (Kediri), Mamenang, Urawan, dan Singasari.
Pola plot cerita intinya berawal dari kisah percintaan putra raja dengan putri raja dari negara yang berbeda yang kemudian dipisahkan. Mereka kemudian berkelana untuk mencari pasangannya. Dalam pengelanaan, mereka melakukan penyamaran. Ketika akhirnya mereka bertemu, penyatuan paripurna mereka ditandai dengan perkawinan.

Oleh Divisi Riset Museum Ullen Sentalu

 

Cerita Panji dalam Relief di Gambyok (Bagian 2 dari serial artikel seputar lakon Panji)

Cerita Panji dalam Relief di Gambyok (Bagian 2 dari serial artikel seputar lakon Panji)

Seringkali, orang menyatakan bahwa ciri utama tokoh Panji dalam penggambaran relief dan arca adalah jika ada figur pria yang digambarkan memakai topi tekes, topi mirip blangkon Jawa, tapi tanpa tonjolan di belakang kepala. Itu sedikit banyak lebih mirip dengan blangkon gaya Surakarta. Badan bagian atas tokoh tersebut digambarkan tidak mengenakan pakaian, sedangkan bagian bawahnya digambarkan memakai kain yang dilipat-lipat hingga menutupi paha.

Pada beberapa relief atau arca, ada yang digambarkan membawa keris yang diselipkan di bagian belakang pinggang. Ada juga yang digambarkan membawa senjata seperti tanduk kerbau, sebagaimana yang dipahatkan di Candi Gajah Mungkur di lereng Gunung Penanggungan.

Jika berpegangan pada tolok ukur bahwa tokoh Panji selalu digambarkan bertopi tekes, maka akan banyak tokoh Panji yang dijumpai dalam relief-relief candi jawa Timur. Ini karena tokoh Sidapaksa suami Sri Tanjung yang dipahatkan di Candi Surawana dan Jabung akan dianggap sebagai tokoh Panji. Demikian pula tokoh Sang Satyawan yang dipahatkan pada pendopo teras II Panataran dan dua figur pria dalam relief cerita Kunjarakarna di Candi Jago akan dapat dianggap sebagai tokoh Panji.

Lalu bagaimana sebenarnya penggambaran relief tokoh Panji yang dikenal dalam cerita Panji?
W.F.Stutterheim (1935) secara gemilang telah berhasil menjelaskan satu panel relief dari daerah Gambyok, Kediri yang nyata-nyata menggambarkan tokoh Panji beserta para pengiringnya. Pendapat Stutterheim tersebut didukung oleh para sarjana lainnya, seperti Poerbatjaraka (1968) dan Satyawati Suleiman (1978). Penggambaran relief Panji di Gambyok tersebut menurut Poerbatjaraka sesuai dengan salah satu episode kisah Panji Semirang, yaitu saat Panji bertemu dengan kekasihnya yang pertama, Martalangu, di dalam hutan.

gambyok-700x300Gambar Relief dari Gambyok

Pada panil itu digambarkan adanya tokoh pria bertopi tekes yang sedang duduk di bagian depan kereta. Tokoh itu tidak lain ialah Panji. Sementara tokoh yang duduk di hadapannya di atas tanah ialah Prasanta. Tokoh paling depan di antara empat orang yang berdiri ialah Pangeran Anom, di belakangnya ialah Brajanata, saudara Panji berlainan ibu. la digambarkan tinggi besar dengan rambutnya yang keriting tapi dibentuk seperti tekes. Dua tokoh berikutnya adalah para kudeyan yaitu Punta dan Kertala.

Dalam relief digambarkan bahwa keretanya belum dilengkapi kuda, karena sesuai dengan cerita bahwa mereka baru merencanakan akan membawa Martalangu ke kota malam itu. Menurut Poerbatjaraka, sikap kedinginan yang ditunjukkan oleh para tokoh adalah sesuai juga dengan cerita, yaitu mereka berada di luar saat malam yang dingin.

Oleh Divisi Riset Museum Ullen Sentalu

Jelajah Gendhing Jawa hingga Luar Angkasa

Jelajah Gendhing Jawa hingga Luar Angkasa

Gending Ketawang Puspawarna menjadi tembang yang istimewa dan terkenal dibandingkan dengan komposisi gendhing lainnya karena terpilihnya komposisi gending Ketawang Puspawarna sebagai salah satu diantara 26 komposisi musik dunia dari berbagai negara yang dikirim keluar angkasa.

Pada bulan Agustus tahun 1977, Badan Ruang Angkasa Amerika Serikat, NASA, secara berturut-turut meluncurkan wahana antariksa kembar bernama Voyager I dan II. Pada awalnya, kedua wahana ini diprogram untuk melakukan pengamatan atas planet-planet luar tata surya, seperti Yupiter, Saturnus, Uranus, dan Neptunus. Ketika tugasnya selesai, maka Voyager diprogram ulang untuk melakukan penjelajahan sampai ke Heliopause, batas di mana pengaruh Matahari berakhir dan ruang antar bintang dimulai. Kedua wahana saat ini bergerak meninggalkan tata surya dengan kecepatan 17 kilometer per detik. Misi mereka diperkirakan berakhir tahun 2020, saat suplai bahan bakar benar-benar habis.

Dalam setiap Voyager dilengkapi dengan sebuah piringan tembaga berlapis emas, berdiameter 12 inci yang berisi rekaman pesan-pesan dari Bumi sebagai ucapan salam kepada makhluk luar angkasa manapun yang menemukannya. Piringan ini mampu bertahan sampai setengah miliar tahun, sebuah produk terawet yang pernah diciptakan manusia.

Piringan itu menyimpan suara-suara dan gambar-gambar yang mewakili keragaman penghidupan dan kebudayaan Bumi. Didalam rekaman piringan tersebut tersimpan ucapan salam yang diucapkan dalam 60 bahasa (bahasa Indonesia diwakili dengan ucapan salam: “Selamat malam hadirin sekalian. Selamat berpisah, dan sampai bertemu lagi di lain waktu”). Selain itu, rekaman dalam piringan juga berisi 115 gambar dan foto (Indonesia diwakili oleh gambar penari Bali yang dipotret oleh Donna Grosvenor) dan rekaman musik berdurasi satu setengah jam dari berbagai kebudayaan. Nah, komposisi musik yang terdiri dari 26 komposisi musik ini diantaranya terdapat Gending Ketawang Puspawarna.
Ketawang Puspawarna yang direkam pada piringan tembaga berlapis emas tersebut merupakan satu-satunya komposisi musik khas Indonesia yang terpilih untuk ikut serta diterbangkan wahana Voyager ke luar angkasa. Awalnya, seorang guru besar Wesleyan University (AS) yang merupakan pakar musik dunia yaitu Prof. Robert E. Brown yang berjasa dalam memilih komposisi gending Ketawang Puspawarna untuk ikut serta dalam misi Voyager. Mengapa Prof. Robert E. Brown memilih Gendhing ketawang Puspawarna untuk misi Voyager? Beliau memilih Gending Ketawang Puspawarna dikarenakan keindahan dan komposisi gending yang tak terlampau panjang hanya berdurasi 4:43 menit serta mewakili sistem nada slendro sehingga pendengar dapat membandingkannya dengan komposisi-komposisi lain yang ada dalam piringan tersebut. Semua yang mendengar akan segera tahu bahwa sistem nada di Jawa berbeda, bahwa musik dunia memiliki kekayaan sistem nada yang luar biasa.

Gendhing ketawang Puspawarna ini direkam oleh Prof. Robert E. Brown pada akhir tahun 1960-an dalam rangka siaran radio perayaan ulang tahun Paku Alam, dimainkan oleh gamelan istana Paku Alaman, Yogyakarta, yang diarahkan oleh KRT Wasitodipuro (sekarang KPH Notoprojo).
mangkunegoro-iv-notoprojo

Gendhing Ketawang Puspawarna ini biasanya dibunyikan sebagai tanda kedatangan pangeran maupun untuk mengiringi tarian. Gendhing ini memiliki lirik mengenai berbagai jenis bunga yang melambangkan beragam suasana, rasa, atau nuansa. Konon, lirik dan melodi dalam Ketawang Puspawarna dipersembahkan oleh Mangkunegara IV (1853 – 1881) untuk mengenang istri dan selirnya.

Oleh karena itu, kita patut berbangga terhadap hasil kebudayaan sendiri. Apalagi, Gendhing ketawang Puspawarna yang mungkin tidak dikenal lagi oleh masyarakat jawa saat ini ternyata mampu memberikan kontribusi dan memperkenalkan musik tradisional jawa sehingga mulai dikenal masyarakat dunia sejak peluncuran perdana Voyager di Pasadena.

Sumber pustaka:
Putu Fajar Arcana. Brown Pilih “Ketawang Puspawarna”. Kompas Minggu, 21 Agustus 2005
www.wikipedia.org

Kala dan Makara

Kala adalah raksasa yang menakutkan, sedangkan makara berarti wujud binatang bisa berbentuk gajah, buaya, ikan.Hiasan kalamakara terdapat pada bagian atas pintu masuk candi. Kepala Kala dipahatkan pada bagian atas pintu masuk candi, sedangkan Makara terdapat pada bagian bawah pintu masuk. Hiasan Kala dan Makara selalu merupakan sebuah kesatuan, sehingga keduanya sering disebut sebagai satu nama, yakni Kalamakara.   Hiasan ini dipasang di pintu masuk candi sebagai tolak bala. Karena bentuknya yang menakutkan, yakni kepala raksasa yang sedang menyeringai, maka ia diharapkan dapat mengusir roh-roh jahat yang akan memasuki bangunan candi yang dianggap suci.  Di samping kalamakara yang bertugas menjaga kesucian candi, pada pintu masuk candi, agak ke depan, biasanya terdapat pula patung-patung raksasa yang disebut Dwarapala. Tetapi patung raksasa yang amat besar dengan sikap duduk dan memegang penggada ini, biasanya hanya terdapat di muka pintu utama yang menuju ke kompleks candi. Pada candi Budha sering terdapat patung singa di depan kalamakara. Tugasnya masih menjaga kesucian candi.

Sosok Ganesha

Tokoh Ganesha sangat dipuja selain Trimurti (Siwa,Brahma,Wisnu). Diceritakan bahwa Ganesha adalah anak  bhatara siva. Di kalangan masyarakat Hindu, Ganesha dianggap setengah manusia dan setengah dewa. Masyarakat Hindu percaya Ganesha merupakan dewa ilmu pengetahuan, kecerdasan, kebijaksanaan.

Maka di banyak tempat, termasuk di Indonesia, sampai sekarang masyarakat Hindu sering membangun kuil berisi Dewa Ganesha. Konon hal ini dimaksudkan agar anak-anak yang dilahirkan menjadi pintar dan berbakti kepada orang tua.Ganesha selalu mengundang kekaguman para pakar karena bentuk, gaya seni, dan langgamnya yang berbeda-beda. Namun ciri utama Ganesha tetap sama, yakni memiliki belalai yang sedang mengisap isi mangkok dalam genggaman tangan depannya.Mangkok tersebut, menurut mitologi Hindu, berisi cairan ilmu pengetahuan yang tidak habis-habisnya walaupun diisap terus-menerus olehnya. Hal inilah yang kemudian diidentikkan dengan ilmu pengetahuan, yang tak pernah habis digali dan tak pernah henti digarap. Mungkin, hal demikianlah yang diharapkan dari para manusia.Karena popularitas Ganesha sangat tinggi, dia juga dipuja sebagai dewa penyingkir segala rintangan, baik gangguan gaib (magis) maupun gangguan fisik. Ini dapat dilihat pada perlambangnya yang menggunakan simbol gajah sebagai binatang terbesar dan tanpa ada yang berani melawannya.

Tidak seperti dewa-dewi lainnya, penggambaran sosok Ganesa memiliki berbagai variasi yang luas dan pola-pola berbeda yang berubah dari waktu ke waktu.Dia kadangkala digambarkan berdiri, menari, beraksi dengan gagah berani melawan para iblis, bermain bersama keluarganya sebagai anak lelaki, duduk di bawah,atau bersikap manis dalam suatu keadaan.

Seperti arca ganesha di karang kates.Tinggi arca besar itu hampir 3 meter. Postur tubuhnya lebih tambun dari arca Ganesha pada umumnya. Ia berdiri menginjak tengkorak, sedangkan kedua tangannya memegang mangkuk dan kapak.Ujung belalainya masuk ke dalam mangkuk tersebut. Hiasan kepala, motif kain yang dikenakan, dan perhiasan tubuhnya penuh dengan tengkorak manusia.Ganesha berdiri itu ditemukan ketika Bendungan Karangkates dibangun.

Selain di Karangkates, satu arca pernah ditemukan di candi Singosari yang kini dibawa ke Leiden, Belanda.Arca dengan tinggi sekitar 1,3 meter memiliki 4 masing-masing memegang kapak, gantungan, dan kepala tengkorak yang terbalik. Dia duduk diatas alas berhiaskan 10 kepala tengkorak.Ganesha Singosari ini juga merupakan perwujudan dari Kertanegara itu sendiri.Jumlah 10 tengkorak pada batur alasnya merupakan simbol dari keutamaan Kertanegara dalam pemahaman 10 laku utama agama Budha atau disebut Paramita, yakni dhana (derma), sila (tata susila), ksanti (sabar), virya (perwira), dyana (samadi), prajna (kebijaksanaan), upaya kausalya (upaya sarana), pradinata (teguh), bala (kekuasaan), dan jnyana (pengetahuan).Seperti diketahui dari berbagai sumber bahwa Kertanegara terkenal sebagai raja yang sangat paham tentang prinsip-prinsip keagamaan. Yang tidak lazim dari Ganesha ini adalah posisi duduknya yakni jigang atau sikap 2 kaki membentuk sudut siku-siku.Hal ini melukiskan Kertanegara adalah orang yang memegang teguh norma-norma tata susila. Kepalanya memiliki mahkota bersusun tiga dan dibagian paling atas berbentuk stupa yang merupakan symbol penghormatan Kertenegara terhadap agama Budha yang dianutnya selain Siwa.Tangan berjumlah empat buah. Tangan kanan depan memegang batok yang digambarkan berisi perhiasan melimpah ruah, dan tangan kiri depannya memegang batok yang berisi darah yang dihisap melalui belalainya. Simbolis ini adalah bahwa kerjaan Singosari mengalami kemakmuran melimpah ruah sementara dia sendiri adalah orang yang terus menerus belajar tentang keutamaan dalam agama. Sementara tangan kanan belakang mmegang kunci pintu gerbang dan tagan kiri belakang memegang kapak. Ini merupakan perlambang Kertanegara yang teguh menjaga kedaulatan kerajaan besar Singosari dan menghancurkan musuh-musuh nya.

Arca Ganesha yang unik lainnya ditemukan di Candi Sukuh.Menarik bahwa ditemukan relief Ganesha sedang menari.Gambaran Ganesayang sedang menari ini memiliki persamaan dengan ritual tantrayana di sejarah budism tibet. Sosok ganesha ini dikenal dengan nama Maharakta

Menurut ahli ke tiga arca tersebut merupakan arca Ganesha aliran Tantrayana.Tantrayana sendiri sudah ada sejak abad 500M sampai 1000M, merupakan aliran yang percaya pada occultisme (kegaiban). Aliran ini bersifat esoterik atau batin, sehingga diajarkan secara rahasia.Secara esoterik, tantrayana berarti menenun yang berkaitan dengan aktivitas batini manusia. Lama merupakan guru kebuddhaan yang pertama mengajarkan Tantra.Menurut Tantrayana, pencapaian kebuddhaan dapat diraih sekejap melalui upacara atau ritual-ritual keagamaan.

sumber :

https://id.wikipedia.org/wiki/Ganesa

https://hurahura.wordpress.com/2013/08/25/situs-bersejarah-singasari-puncak-kejayaan-seni/

http://budha-dhamma.blogspot.co.id/2013/06/aliran-hinayana-dan-mahayana-dan-aliran.html

https://linggahindusblog.wordpress.com/2009/09/15/ganesha-sebagai-manifestasi-tuhan

http://wongrogonoto.blogspot.co.id/2012/09/patung-ganesha.html

Dari Yogya Sejarah Ibu Berawal

Setiap tanggal 22 Desember kita memperingati sebagai Hari Ibu Nasional. Perayaan ini diresmikan oleh Presiden Soekarno berdasarkan Dekrit Presiden No. 316 Tahun 1953, pada saat acara ulang tahun ke-25 Kongres Perempuan Indonesia 1928.

Pada saat itu tanggal 22 Desember 1928 di Yogyakarta dengan antusias perempuan-perempuan yang datang dari 30 organisasi perempuan dari 12 kota di Jawa dan Sumatera bergegas memasuki ruang kongres. Hadir juga  Soejatin, Nyi Hajar Dewantara, Ny. Soekonto, dan masih banyak lagi. Sebagian besar mereka masih berusia muda.

Sentimen rasa nasionalis pada tahun itu memang sedang tinggi, hal ini ditandai dengan telah dilakukannya Kongres Pemuda Indonesia Ke-2 yang mendahului Kongres Perempuan, namun sejarah organisasi perempuan Indonesia sebenarnya telah dimulai tahun 1912, karena jika ditelusuri dari berdirinya organisasi perempuan pertama adalah pada tahun 1912.

Kongres diadakan di sebuah pendopo Dalem Jayadipuran, milik seorang bangsawan, R.T. Joyodipoero. Sekarang ini gedung tersebut sudah digunakan sebagai kantor Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional di Jalan Brigjen Katamso, Yogyakarta.

Meskipun pihak panitia sudah memberi kabar, kongres yang mereka gelar memiliki dukungan legalitas dari pemerintah kolonial. Namun kekhawatiran tetap terasa. Maklum, sejak kongres pemuda digelar dan melahirkan Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928, pemerintah kolonial terkesan lebih waspada. Karena Sumpah Pemuda, tak hanya meninggalkan rasa malu yang luar biasa bagi Belanda. Tapi juga segudang ketakutan. Karena bagi mereka, tak ada ancaman yang lebih hebat selain kesadaran menjadi bangsa yang merdeka.

Agenda yang mereka bicarakan adalah peran perempuan dalam perjuangan kemerdekaan, peran dalam berbagai aspek pembangunan, perbaikan gizi, bahkan kesehatan ibu dan balita. Selain itu, isu kesetaraan gender juga jadi bahan pembicaraan serius selama kongres. Sampai akhirnya, ditetapkan beberapa keputusan strategis, diantaranya, mengirimkan mosi kepada pemerintah kolonial untuk menambah sekolah bagi anak perempuan.  Lalu, kongres juga memtuskan pemerintah wajib memberikan surat keterangan pada waktu nikah (undang undang perkawinan), diadakan peraturan yang memberikan tunjangan pada janda dan anak-anak pegawai negeri Indonesia, dan masih banyak lagi.

Tujuh tahun kemudian, dilaksanakan Kongres Perempuan Indonesia II. Dalam kongres kali ini, dibentuklah BPBH (Badan Pemberantasan Buta Huruf). Dan tak lama kemudian, tahun 1938, digelar Kongres Perempuan Indonesia III. Dalam kongres ini, muncul gagasan penetapan tanggal 22 Desember sebagai Hari Ibu. Pengukuhan Hari Ibu sendiri secara resmi baru dilakukan setelah Indonesia merdeka. Lewat salah satu dekritnya, Presiden Soekarno menetapkan 22 Desember sebagai Hari Ibu. Penetapan ini dilakukan sebagai penghormatan pada semangat para wanita yang turut berperan dalam perjuangan merebut kemerdekaan, sekaligus jadi pilar penting keluarga Indonesia.

Soekarno yang dikenal sangat mencintai ibunya, sangat memahami bahwa peran ibu di masa perjuangan memiliki dua makna istimewa. Wanita tak hanya jadi pendamping, tapi justru bahu membahu berlaga di medan perang. Mulai dari peran sebagai tukang masak di dapur, di rumah sakit, hingga ikut angkat senjata melawan penjajah. Di sisi lain, perempuan adalah ibu bagi anak-anaknya. Di tangan seorang ibu, anak mendapat perawatan dengan penuh kasih sayang, hingga kelak dewasa.

sumber:http://kowani.or.id/

Simbol Ganesha

ganesha_symbolism

Ganesha atau yang dikenal juga dengan Ganapati dan Vinayaka adalah salah satu dewa yang paling terkenal dan dipuja oleh masyarakat hindu.Mereka  percaya Ganesha merupakan dewa ilmu pengetahuan, kecerdasan, kebijaksanaan. Ganesha dengan atributnya mengandung filosofi yang sangat menakjubkan.

Ganesha memiliki kepala yang besar dengan dua telinga besar dan mata yang sipit. Kepala besar melambangkan kita sebagai manusia seharusnya lebih banyak menggunakan akal daripada fisik dalam memecahkan masalah.Sedangkan mata yang sipit berarti konsentrasi. Pikiran harus diarahkan ke hal-hal positif untuk memperbaiki daya nalar dan pengetahuan.

Ganesha juga memiliki dua telinga besar yang mengajarkan supaya kita beljar mendengarkan orang lain lebih banyak. Kita selalu mendengar, tetapi jarang sekali kita mendengarkan orang lain dengan baik.

Ganesha mematahkan satu gadingnya untuk menggurat Kitab Suci di atas daun tal. Satu gading berarti kesatuan. Simbol ini menyarankan manusia hendaknya bersatu untuk satu tujuan mulia & suci.

Ganesha juga memiliki mulut yang kecil dan hampir tidak kelihatan karena tertutup belalainya yang dengan rakus ”menghirup rasa” manisan susu ilmu di tangannya. Mulut yang kecil itu mengajarkan agar kita mengontrol gerak mulut dan lidah. Maksudnya adalah bahwa kita harus mengurangi pembicaraan yang tidak-tidak. Sementara belalai yang menjulur melambangkan efisiensi dan adaptasi yang tinggi.

Beralih ke badan Ganesha yang besar. Hal pertama yang kita lihat adalah perutnya, karena perut itu memang buncit. Perut buncit melambangkan keseimbangan dalam menerima baik-buruknya gejolak dunia. Dunia diliputi oleh sesuatu yang berpasangan, yakni pasangan dua hal yang bertolak belakang. Ada senang, ada pula sedih. Ada siang, ada pula malam. Ada wajah suram kesedihan di balik tawa riang kita. Dan sebaliknya, ada keriangan dan semangat dibalik kesenduan kita. Itulah hidup, dan kita harus menyadarinya.

Simbol Ganesha memegang sebilah kapak. Kapak berarti menumpas segala halangan dalam karya. Sementara itu, di tangan kiri Ganesha terdapat semangkuk manisan susu.

sumber :https://linggahindusblog.wordpress.com/2009/09/15/ganesha-sebagai-manifestasi-tuhan/

Vorstenlanden

Apa Itu Vorstenlanden?

VORSTENLANDEN  merupakan satu istilah yang dipakai pada sejarah jawa untuk menyebut daerah-daerah yang berada di bawah otoritas empat monarki asli Jawa pecahan Dinasti Mataram Islam: Kasunanan Surakarta, Kasultanan Yogyakarta, Kadipaten Mangkunegaran, serta Kadipaten Pakualaman. Daerah-daerah yang termasuk Vorstenlanden tersebut ada di pedalaman Jawa. Awalnya, Vorstenlanden membentang di sepanjang sisi selatan mulai dari sekitar Gunung Slamet di  Jawa Tengah sampai dengan sekitar Gunung Kelud di Jawa Timur. Kondisi demikian  berlangsung  75 tahun, yakni antara 1755 sampai dengan 1830.

Sejak 1830, sebagai dampak kebijakan Pemerintah Kolonial Belanda pasca Perang Jawa/Diponegoro (1825-1830), luas wilayah yang termasuk Vorstenlanden menciut secara drastis. Sejak tahun tersebut, Vorstenlanden tinggal meliputi daerah-daerah yang kini dikenal sebagai eks Karesidenan Surakarta dan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Bahkan, sejak 1946, tinggal Kasultanan Yogyakarta dan Kadipaten Pakualaman saja daerah Vorstenlanden yang terbilang masih memiliki otonomi untuk menjalankan pemerintahan. Itu pun keduanya pada dasarnya bertranformasi dalam bentuk Daerah Istimewa Yogyakarta, yang merupakan satu dari 34 provinsi dalam Republik Indonesia.

Untuk Kasunanan Surakarta dan Kadipaten Mangkunegaran, keduanya  sejak 1946  bisa dibilang benar-benar kehilangan otonomi bidang pemerintahan atas daerah-daerah yang antara 1830-1946 di bawah kekuasaan mereka. Sejak sekitar setahun setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, dua pecahan Dinasti Mataram Islam tersebut memang mesti merelakan seluruh wilayahnya diambil alih Pemerintah Republik Indonesia. Bekas wilayah Kasunanan dan Mangkunegaran lantas dijadikan bagian dari Provinsi Jawa Tengah. Kini, gabungan wilayah dari dua pecahan Dinasti Mataram Islam itulah yang lazim dikenal sebagai wilayah Eks Karesidenan Surakarta.

Berawal dari Bovenlanden
Tentang kapan tepatnya otoritas Kolonial Belanda di Jawa mengadopsi istilah Vorstenlanden, penjelasan dari Dosen sekaligus Ketua Jurusan Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada, Dr Sri Margana, dapat memberikan gambaran.
“Awalnya ketika Mataram belum terpecah, hanya ada satu raja, istilahnya yang dipakai dulu (oleh Belanda) adalah Bovenlanden,” kata Dr Sri Margana ketika diwawancara oleh Tim Riset dan Dokumentasi Museum Ullen Sentalu pada 20 Juni 2014, “Ketika kemudian terpecah menjadi empat, mereka (Belanda) lalu menyebutnya Vorstenlanden .“

Imbuh Dr Sri Margana, vorsten pada Vorstelanden dalam bahas Belanda berarti raja-raja atau penguasa-penguasa. Dengan demikian Vorstenlanden berarti tanah raja-raja. Katanya lagi, penggunaan istilah Vorstenlanden cocok dengan aturan hukum kolonial yang diberlakukan Belanda pada masa itu, yakni raja-raja penguasa lokal keturunan Dinas Mataram Islam di daerah Vorstenlanden memang menyandang status semiotonom, boleh mengontrol wilayah mereka.

Mengamati semua uraian tadi, bisa disimpulkan bahwa istilah vorstenlanden dipilih otoritas kolonial untuk menyebut daerah-daerah bekas kekuasaan Mataram Islam karena istilah itu terbilang paling diakrabi oleh orang Belanda. Istilah vorstenlanden mampu menyederhanakan penyebutan bagi bekas Mataram Islam yang pasca 1755 terpecah menjadi empat bagian besar.

Semasa Inggris menguasai Jawa pada 1811-1816, mereka memakai satu istilah lain untuk menyebut bekas daerah Mataram Islam, di luar istilah Vorstenlanden maupun Principalities. Satu istilah lain itu adalah Native Provinces. Ini paling tidak terdokumentasikan dalam buku karya Thomas Stamford Raffles yakni The History of Java yang terbit pada 1817.

Istilah Vorstenlanden pada dasarnya adalah juga tandingan bagi istilah “Mataram”, yang menurut bahasa Sansekerta berarti “tanah air” dan sejak medio milenia I Masehi merupakan sebuah kata yang dihormati dalam masyarakat Jawa. Jadi, pemakaian istilah Vorstenlanden adalah upaya Belanda memadamkan kepercayaan diri maupun ingatan masyarakat Jawa terhadap kejayaan mereka di masa silam.

Tembakau dan Batik Vorstenlanden
Sekitar tiga perempat abad terakhir, istilah Vorstenlanden tak banyak lagi terdengar dalam keseharian. Boleh jadi, menghilangnya istilah Vorstenlanden telah terjadi ketika Jepang menggusur Belanda dari Nusantara pada 1942. Jadi, istilah Vorstenlanden bernasib  sama dengan sejumlah penyebutan daerah dalam bahasa Belanda yang begitu Jepang berkuasa di Indonesia pada 1942-1945, berlanjut dengan merdekanya Indonesia sejak 1945, lantas diganti dengan istilah-istilah dalam bahasa Indonesia. Ingat apa yang terjadi dengan Batavia yang diganti Jakarta, Buitenzorg yang diganti Bogor, dan Fort de Cock yang diganti Bukittinggi.
Biarpun demikian, istilah Vorstenlanden tak pula benar-benar lenyap. Istilah tersebut sampai kini melekati jenis tembakau berkualitas tinggi yang dibudidayakan di sekitar Kabupaten Klaten. Istilah Vorstenlanden galib juga dipakai untuk menyebut kain-kain batik gaya Surakarta dan Yogyakarta yang cenderung memiliki warna dasar soga hingga putih, serta terkesan memiliki motif-motif klasik. Penggunaan istilah demikian untuk batik-batik asal Surakarta dan Yogyakarta adalah sebagai pembeda dengan batik-batik asal Pesisir Utara yang umumnya lebih berwarna-warni. Dalam hal penggunaan istilah Vorstenlanden pada budi daya tembakau dan produksi batik, secara umum rasa bahasanya terbilang positif, tak selalu diingat dan dikaitkan dengan eksistensinya di zaman kolonial. Ini agaknya adalah cerminan citra klasik dan pesona peradaban Barat/Eropa  yang memang melekati istilah Vorstenlanden.
Referensi

  • Houben, Vincent JH, Kraton and Kumpeni: Surakarta and Yogyakarta, 1830-1870, KITLV Press, Leiden, 1994
  • Onghokham, Wahyu yang Hilang, Negeri yang Guncang, Pusat Data dan Analisis TEMPO, Jakarta, 2003
  • Raffles, Thomas Stamford, The History of Java, Volume One, Oxford University Press, Kuala Lumpur, 1965
  • The History of Java, Volume Two, Oxford University Press, Kuala Lumpur, 1965
  • Scherer, Savitri, Keselerasan & Kejangggalan, Komunitas Bambu, Jakarta, 2012
  • Simbolon, Parakitri T, Menjadi Indonesia, KOMPAS, Jakarta, 1995
  • Soeratman, Darsiti, Kehidupan Dunia Kraton Surakarta 1830-1939, Tamansiswa, Yogyakarta, 1989

Oleh Yoseph Kelik