Category Archives: Sejarah

Nyai dan Para Lelaki Belanda

Kisah Nyai dan Para Lelaki Belanda yang Butuh Pelipur Sepi

Kata nyai dalam arti sesungguhunya adalah julukan untuk seorang perempuan dengan tujuan memuliakan (Suganda, 2014: 149). Dalam budaya Jawa, perempuan yang menyandang julukan tersebut adalah orang yang cukup terkemuka. Misalnya Nyai Ageng Serang, seorang panglima perempuan Jawa yang sanggup menggetarkan pasukan Belanda (Carey dan Houben, 2016: 30-35). Nyai juga digunakan untuk menyebut istri dari seorang ulama atau Kyai. Contohnya adalah Nyai Ahmad Dahlan (Hera dan Wijaya, 2014:50). Namun, sebutan nyai memiliki konotasi yang berbeda pada dunia perkebunan Masa Kolonial. Nyai bersinonim dengan gundik atau perempuan simpanan laki-laki Eropa. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata gundik merujuk pada istri gelap atau perempuan yang tidak dinikah secara resmi.

Continue reading

Diorama Suasana Kongres Pemuda ke-II di Museum Sumpah Pemuda Jakarta

(Foto diambil dari Tempo.co)

Bahasa Persatuan Bangsa: Dari Bahasa Melayu ke Bahasa Indonesia

“Kami putra-putri Indonesia, mengaku bertumpah darah satu, tanah air Indonesia.

Kami putra-putri Indonesia, mengaku berbangsa satu, bangsa Indonesia.

Kami putra-putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia.”

 Di dalam ruang Kongres Pemuda ke-II, 28 Oktober 1928, para pemuda memutuskan 3 poin penting di atas mengenai cita-cita berdirinya negara Indonesia, atau dikenal sebagai Sumpah Pemuda. Poin terakhir mengukuhkan bahasa nasional bagi bangsa Indonesia hingga seterusnya. Ya, bahasa Indonesia!

Continue reading

Ekspedisi Kapal Samudraraksa Borobudur

ERelief-Kapal-Samudra-Raksa_kidnesiathumb630kspedisi ini bermula dari  ketakjuban Philip Beale saat melihat panel-panel relief  kapal niaga yang terpahat di dinding Candi Borobudur. Philip Beale pemuda kelahiran Salisbury,Inggris  adalah mahasiswa penerima beasiswa untuk mempelajari kapal tradisional Indonesia. Beale sendiri telah membaca kisah-kisah tentang pelaut Nusantara yang berlayar mengarungi samudera india sampai Afrika yang terkenal juga dengan jalur kayu manis.

Continue reading

Vorstenlanden

Apa Itu Vorstenlanden?

VORSTENLANDEN  merupakan satu istilah yang dipakai pada sejarah jawa untuk menyebut daerah-daerah yang berada di bawah otoritas empat monarki asli Jawa pecahan Dinasti Mataram Islam: Kasunanan Surakarta, Kasultanan Yogyakarta, Kadipaten Mangkunegaran, serta Kadipaten Pakualaman. Daerah-daerah yang termasuk Vorstenlanden tersebut ada di pedalaman Jawa. Awalnya, Vorstenlanden membentang di sepanjang sisi selatan mulai dari sekitar Gunung Slamet di  Jawa Tengah sampai dengan sekitar Gunung Kelud di Jawa Timur. Kondisi demikian  berlangsung  75 tahun, yakni antara 1755 sampai dengan 1830.

Sejak 1830, sebagai dampak kebijakan Pemerintah Kolonial Belanda pasca Perang Jawa/Diponegoro (1825-1830), luas wilayah yang termasuk Vorstenlanden menciut secara drastis. Sejak tahun tersebut, Vorstenlanden tinggal meliputi daerah-daerah yang kini dikenal sebagai eks Karesidenan Surakarta dan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Bahkan, sejak 1946, tinggal Kasultanan Yogyakarta dan Kadipaten Pakualaman saja daerah Vorstenlanden yang terbilang masih memiliki otonomi untuk menjalankan pemerintahan. Itu pun keduanya pada dasarnya bertranformasi dalam bentuk Daerah Istimewa Yogyakarta, yang merupakan satu dari 34 provinsi dalam Republik Indonesia.

Untuk Kasunanan Surakarta dan Kadipaten Mangkunegaran, keduanya  sejak 1946  bisa dibilang benar-benar kehilangan otonomi bidang pemerintahan atas daerah-daerah yang antara 1830-1946 di bawah kekuasaan mereka. Sejak sekitar setahun setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, dua pecahan Dinasti Mataram Islam tersebut memang mesti merelakan seluruh wilayahnya diambil alih Pemerintah Republik Indonesia. Bekas wilayah Kasunanan dan Mangkunegaran lantas dijadikan bagian dari Provinsi Jawa Tengah. Kini, gabungan wilayah dari dua pecahan Dinasti Mataram Islam itulah yang lazim dikenal sebagai wilayah Eks Karesidenan Surakarta.

Berawal dari Bovenlanden
Tentang kapan tepatnya otoritas Kolonial Belanda di Jawa mengadopsi istilah Vorstenlanden, penjelasan dari Dosen sekaligus Ketua Jurusan Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada, Dr Sri Margana, dapat memberikan gambaran.
“Awalnya ketika Mataram belum terpecah, hanya ada satu raja, istilahnya yang dipakai dulu (oleh Belanda) adalah Bovenlanden,” kata Dr Sri Margana ketika diwawancara oleh Tim Riset dan Dokumentasi Museum Ullen Sentalu pada 20 Juni 2014, “Ketika kemudian terpecah menjadi empat, mereka (Belanda) lalu menyebutnya Vorstenlanden .“

Imbuh Dr Sri Margana, vorsten pada Vorstelanden dalam bahas Belanda berarti raja-raja atau penguasa-penguasa. Dengan demikian Vorstenlanden berarti tanah raja-raja. Katanya lagi, penggunaan istilah Vorstenlanden cocok dengan aturan hukum kolonial yang diberlakukan Belanda pada masa itu, yakni raja-raja penguasa lokal keturunan Dinas Mataram Islam di daerah Vorstenlanden memang menyandang status semiotonom, boleh mengontrol wilayah mereka.

Mengamati semua uraian tadi, bisa disimpulkan bahwa istilah vorstenlanden dipilih otoritas kolonial untuk menyebut daerah-daerah bekas kekuasaan Mataram Islam karena istilah itu terbilang paling diakrabi oleh orang Belanda. Istilah vorstenlanden mampu menyederhanakan penyebutan bagi bekas Mataram Islam yang pasca 1755 terpecah menjadi empat bagian besar.

Semasa Inggris menguasai Jawa pada 1811-1816, mereka memakai satu istilah lain untuk menyebut bekas daerah Mataram Islam, di luar istilah Vorstenlanden maupun Principalities. Satu istilah lain itu adalah Native Provinces. Ini paling tidak terdokumentasikan dalam buku karya Thomas Stamford Raffles yakni The History of Java yang terbit pada 1817.

Istilah Vorstenlanden pada dasarnya adalah juga tandingan bagi istilah “Mataram”, yang menurut bahasa Sansekerta berarti “tanah air” dan sejak medio milenia I Masehi merupakan sebuah kata yang dihormati dalam masyarakat Jawa. Jadi, pemakaian istilah Vorstenlanden adalah upaya Belanda memadamkan kepercayaan diri maupun ingatan masyarakat Jawa terhadap kejayaan mereka di masa silam.

Tembakau dan Batik Vorstenlanden
Sekitar tiga perempat abad terakhir, istilah Vorstenlanden tak banyak lagi terdengar dalam keseharian. Boleh jadi, menghilangnya istilah Vorstenlanden telah terjadi ketika Jepang menggusur Belanda dari Nusantara pada 1942. Jadi, istilah Vorstenlanden bernasib  sama dengan sejumlah penyebutan daerah dalam bahasa Belanda yang begitu Jepang berkuasa di Indonesia pada 1942-1945, berlanjut dengan merdekanya Indonesia sejak 1945, lantas diganti dengan istilah-istilah dalam bahasa Indonesia. Ingat apa yang terjadi dengan Batavia yang diganti Jakarta, Buitenzorg yang diganti Bogor, dan Fort de Cock yang diganti Bukittinggi.
Biarpun demikian, istilah Vorstenlanden tak pula benar-benar lenyap. Istilah tersebut sampai kini melekati jenis tembakau berkualitas tinggi yang dibudidayakan di sekitar Kabupaten Klaten. Istilah Vorstenlanden galib juga dipakai untuk menyebut kain-kain batik gaya Surakarta dan Yogyakarta yang cenderung memiliki warna dasar soga hingga putih, serta terkesan memiliki motif-motif klasik. Penggunaan istilah demikian untuk batik-batik asal Surakarta dan Yogyakarta adalah sebagai pembeda dengan batik-batik asal Pesisir Utara yang umumnya lebih berwarna-warni. Dalam hal penggunaan istilah Vorstenlanden pada budi daya tembakau dan produksi batik, secara umum rasa bahasanya terbilang positif, tak selalu diingat dan dikaitkan dengan eksistensinya di zaman kolonial. Ini agaknya adalah cerminan citra klasik dan pesona peradaban Barat/Eropa  yang memang melekati istilah Vorstenlanden.
Referensi

  • Houben, Vincent JH, Kraton and Kumpeni: Surakarta and Yogyakarta, 1830-1870, KITLV Press, Leiden, 1994
  • Onghokham, Wahyu yang Hilang, Negeri yang Guncang, Pusat Data dan Analisis TEMPO, Jakarta, 2003
  • Raffles, Thomas Stamford, The History of Java, Volume One, Oxford University Press, Kuala Lumpur, 1965
  • The History of Java, Volume Two, Oxford University Press, Kuala Lumpur, 1965
  • Scherer, Savitri, Keselerasan & Kejangggalan, Komunitas Bambu, Jakarta, 2012
  • Simbolon, Parakitri T, Menjadi Indonesia, KOMPAS, Jakarta, 1995
  • Soeratman, Darsiti, Kehidupan Dunia Kraton Surakarta 1830-1939, Tamansiswa, Yogyakarta, 1989

Oleh Yoseph Kelik

Tetenger

KOTA Perjuangan sekaligus Kota Kuno merupakan dua predikat yang memang layak disandang Yogyakarta.Kota Perjuangan karena di daerah ini Jenderal Sudirman dan Pangeran Diponegoro pernah membangun perlawanan bersenjata yang teramat merepotkan pihak kolonial Belanda. Itu adalah pada Perang Revolusi Kemerdekaan (1945-1949) serta Perang Jawa (1825-1830), yang dijalankan lewat pilihan siasat perang gerilya.

Sedangkan predikat Kota Kuno atau Ibukota Kuno (ancient capital city) diwarisi Yogyakara pertama-tama dari kenyataan sejarah bahwa lokasi kerajaan Mataram Kuno atau Mataram Hindu dan Budha dahulu ada di seputaran daerah ini.  Selanjutnya, kerajaan Mataram Islam pun meninggalkan situs-situs ibukota pada jarak 5 hingga 12 kilometer di sebelah tenggara serta selatan dari pusat Kota Yogyakarta: Kotagede, Kerta, dan Plered. Di tiga situs bekas ibukota Mataram Islam itu dapat ditemukan berbagai peninggalan antara lain berupa tembok kuno, fondasi baluwarti yang merupakan benteng luar kraton, juga bangunan pendopo.

Sedangkan pada masa kerajaan Mataram Islam Periode Kedua, yakni masa selepas Perjanjian Giyanti 1755, peninggalan dapat terlihat dalam bentuk tata kota Kota Yogyakarta serta komplek bangunan kraton yang letaknya diapit oleh dua sungai, yaitu Kali Winongo pada sisi barat dan Kali Code pada sisi Timur, juga terletak di antara sumbu filosofis utara-selatan mulai dari Tugu Pal Putih di utara yang berujung kepada Gunung Merapi, sedangkan pada bagian selatannya ada Panggung Krapyak yang berujung kepada Segara Kidul alias Samudera Hindia. Konon, jarak antara Panggung Krapyak maupun Tugu Pal Putih dengan Kraton adalah sama yaitu masing-masing 2 kilometer. Konon juga, jarak antara Kraton ke Pantai Parangtritis adalah sama dengan jarak Kraton ke Kaliurang, yaitu masing-masing 27 kilometer. Pun jarak Kraton dengan dua sungai di kiri-kanannya, yaitu Sungai Winongo dan Sungai Code, masing-masing 3 kilometer.

Demikian pula dalam hal zonasi di Kota Yogyakarta, otoritas Kasultanan membagi tempat tinggal penduduk disesuaikan dengan profesi. Pembagian daerah semacam ini selanjutnya mewujud kepada penamaan kampung serta jalan. Contohnya antara lain Kampung Bugisan memiliki awal mula sebagai tempat tinggal pasukan Kraton yang berasal dari suku Bugis; Kampung Surokarsan serta Jalan Surokarsan memiliki asal-usul dari tempat tinggal para prajurit Surakarsa yang merupakan satuan pengawal bagi Putra Mahkota; Kampung Pandean memiliki muasal sebagai daerah permukiman abdi dalem pande yaitu para pandai besi atau tukang-tukang pembuat barang-barang dan alat-alat dari bahan besi; Kampung Dagen dan Jalan Dagen memiliki awal mula sebagai tempat tinggal abdi dalem undhagi alias tukang kayu; Jalan Gamelan dan Kampung Gamelan dulunya merupakan tempat tinggal para abdi dalem gamel, yaitu pengurus kuda di Kraton.

Penyebutan daerah permukiman penduduk juga acap ditetapkan mengikuti keberadaan tokoh bangsawan tinggi yang bertempat tinggal dalam ndalem (rumah besar) di tengah kawasan tersebut. Beberapa contohnya antara lain Kampung Wijilan beroleh namanya karena dulu di situ ada ndalem kediaman KRT Wijil, suami GKR Dewi yang putri ke-38 Sultan Hamengkubuwana VII dari garwa permaisuri GKR Kencana; Bintaran beroleh namanya karena dulunya di situ ada ndalem kediaman BPH Bintoro yang merupakan putra ke-61 Sultan Hamengkubuwana II dari garwa BMAj. Sasmitowati; Dipowinatan  beroleh namanya karena dulu di situ ada ndalem kediaman seorang bupati bernama KRT Dipowinoto.

Ndalem memberikan pula keunikan bagi tata kota Yogyakarta. Itu terlihat dari lokasi dan bentuk rumah-rumah besar para bangsawan tinggi kerabat Kraton tersebut. Ndalem para pangeran  biasanya menempati wilayah luas dengan gerbang pada bagian depannya yang disebut regol. Halaman depannya cukup luas dan biasanya ditumbuhi pohon sawo, mangga, dan lainnya.  Di halaman depan itu ada pendopo yang digunakan untuk menerima tamu atau menyelenggarakan acara, contohnya pementasan wayang kulit semalam suntuk atau pentas tari tradisional lengkap dengan pemain gamelan yang mengiringinya. Dua pintu kecil masing-masing terletak di bagian timur dan barat menjadi akses ke halaman yang mengelilingi rumah induk. Halaman sebelah timur biasa disebut wetan dalem, artinya timur bagian dalam dan biasanya lebih berfungsi halaman sebelah barat. Itu karena bagian tersebut menghadap ke arah matahari terbit dibandingkan halaman barat. Bagian wetan dalem sering ditumbuhi dengan bermacam tanaman berbunga karena itu biasa juga disebut Kebon Dalem atau taman bagian dalam.

Bangunan-bangunan  peninggalan  Kolonial Belanda hampir semuanya relatif masih utuh dan dapat ditemukan mulai dari wujud benteng, kantor, rumah ibadah, tempat tinggal maupun pabrik. Di antara mereka adalah Benteng Vrederburg, Gedung Agung yang sebelumnya merupakan tempat tinggal Gubernur Belanda di Yogyaarta, Gedung Kantor Pos Besar, Kantor Bank Indonesia, Gedung BNI 46, Hotel Toegoe, Hotel Garuda, Stasiun Kereta Api Tugu dan Stasiun Lempuyangan, Gereja Margomulyo, hingga rumah-rumah berarsitektur Indies di kawasan Kotabaru, Bintaran, dan  Jetis.

Topografi seperti itu menginspirasi sebaran bangunan di Museum Ullen Sentalu, yang terdiri dari bangunan utama dan bangunan penunjang dalam susunan bangunan spasial berjarak. Ruang terbuka berupa taman di antara bangunan memang diutamakan, bukan cuma disisakan. Konsep pengembangan dan arsitektur museum mengacu kepada in the field concept yang bersifat vernacular dan digagas oleh Dr. KP Samuel Wedyodiningrat, salah satu pengurus Yayasan Ulating Blencong yang menaungi Museum Ullen Sentalu. In the field concept adalah konsep arsitektural yang tetap mempertahankan keaslian kontur tanah dan keasrian alam pegunungan serta penggunaan materi bangunan, terutama batu andesit, yang diambil dari sekitar lokasi. Selain menyatu dengan alam disekitarnya, konsep lay out arsitektur dan prosemik tata ruang mengacu pada bangunan tradisional Jawa dan arsitektur Kolonial yang membangkitkan nostalgia piknik Naar Boven (ke gunung) ala orang-orang Belanda zaman dulu. Pengunjung akan melewati lorong bawah tanah, menapaki tangga bersusun, berjalan menelusuri labirin perkampungan yang mengambang diatas air, hingga berada di teras kafe yang dapat melihat langsung puncak Gunung Merapi.  Itu semua menyatu dengan alam sekeliling karena dirancang berdasarkan  in the field concept. Konsep arsitektur demikian sangat berbeda dengan master plan concept yang dirancang sering tanpa mengindahkan keaslian kontur tanah.

Pemberian nama bangunan-bangunan di Museum Ullen Sentalu didasarkan kepada isinya, juga mengikuti toponim nama kampung, jalan, hingga bangunan bersejarah di Yogyakarta. Di antara mereka adalah Guwo Selo Giri, yang berarti gua batu gunung yang merupakan hall pameran untuk koleksi tetap; kemudian Ruang Gusti Sekar Kedaton yang merupakan ruang pameran khusus untuk salah satu putri kraton Surakarta; Taman Kebon Dalem yang sesuai dengan lokasinya, digunakan untuk acara kalangan terbatas, sementara Pelataran Sekar Djagad, sesuai dengan namanya digunakan untuk pentas seni yang terbuka untuk umum, dan yang kini sedang dalam pengerjaan adalah The Candi yang merupakan perpaduan arsitektur kuno percandian dan petirtaan modern.

Bentuk arsitektur kolonial juga terlihat dengan jelas pada bangunan Gedung Dhuwur atau lebih dikenal dengan nama restoran Beukenhof (rumah di antara pohon), yang seluruh desainnya, termasuk ubin, tepian dinding dan jendela dibangun dengan gaya kolonial. Selain itu Rumah Peranakan yang akan digunakan untuk ruang konservasi dan pameran kebudayaan Peranakan secara khusus di desain dengan gaya kolonial yang dipadukan dengan arsitektur rumah peranakan. Sementara itu untuk kompleks museum shop dan bazaar, semuanya dibangun dengan gaya kontemporer mengikuti perkembangan arsitektur modern dengan menggunakan konstruksi alumunium dan kaca. Ada berbagai gaya arsitektur dan beragam penggunaan materi: bangunan dari batu andesit mirip candi, bangunan menjulang tinggi bergaya kolonial, pintu gerbang yang mengingatkan kepada regol di ndalem-ndalem milik pangeran di sekitar Kraton, hingga museum shop dengan dinding dan atap dari kaca serta alumunium. Semua itu memberi indikasi yang jelas bahwa arsitektur Museum Ullen Sentalu termasuk dalam gaya post modernism yang berciri plural, bukan berdasarkan satu tipe langgam tertentu (signature). Itulah suatu karya arsitektur yang memadukan tetenger (landmark) kota Yogyakarta, arsitektur vernacularism, serta konsep in the field.

Penulis: KRHT Daniel Haryodiningrat (Kepala Museum Ullen Sentalu)