Jiwa Satria dalam Beksan Lawung Ageng

Jiwa Satria dalam Beksan Lawung Ageng

Gerakan tombak yang gagah diiringi teriakan dan alunan gending yang cepat dan menghentak menguggah semangat para penonton yang sedang menikmati tarian Beksan Lawung Ageng. Tarian Beksan Lawung Ageng ini diciptakan oleh Sultan Hamengku Buwono I.

Tarian ini menggambarkan latihan perang bertombak(lawung) yang dilakukan oleh para satria.Pada tarian ini terkandung nilai satria dan heroik. Iringan yang digunakan adalah gending Gangsaran yang merupakan gending penyemangat perang. Tidak heran memberi kesan gagah perkasa, agung dan semangat juang yang tinggi.Beksan lawung biasanya dipentaskan pada acara/ upacara penting, seperti menyambut tamu, dan pernikahan keluarga keraton.

Beksan Lawung Ageng dibawakan oleh 16 penari pria dengan formasi sebagai berikut Botoh 2 orang , salaotho (abdi pelawak) 2 orang,lurah 4 orang, jajar 4 orang, dan pengampil 4 orang (pembawa tombak).Jika formasi penari dikurangi, namanya pun menjadi Lawung Alit. Pengurangan bisa dilakukan dengan penampilan 4 jajar saja, 4 lurah saja, atau tambah 2 orang botoh.

Keindahan Golek Menak

Keindahan Golek Menak

Tari Golek Menak merupakan salah satu tari klasik gaya Yogyakarta yang diciptakan oleh Sultan Hamengku Buwono IX. Inspirasi penciptaan Tari Golek Menak diawali dari ketertarikan HB IX ketika menyaksikan keindahan pagelaran wayang Golek Menak oleh seorang dalang dari Kedu pada 1941.

Sri Sultan HB IXSri Sultan Hamengku Buwono IX

Dalam penciptaan Tari Golek Menak,Sultan Hamengku Buwono IX dibantu oleh beberapa pakar tari yakni KRT Purbadiningrat, KRT Sasmintadipura, KRT Brongtodiningrat, Pangeran Suryobrongto, KRT Madukusuma, KRT Wirodiprojo, KRT Mertodipuro, RW Hendramardawa, RB Kuswaraga, dan RW Laras Sumbaga. Proses penciptaan koreografi setiap penggalan fragmen pun berlangsung hampir setengah abad.Pagelaran perdana dipentaskan di kraton pada 1943 untuk memperingati hari ulang tahun sultan. Penciptaan karya Tari Golek Menak kemudian mengalami proses penyempurnaan yang panjang. Tak jarang pertemuan dan dialog sarasehan antara sultan dan para pakar seni tari dilakukan. HB IX pun memutuskan membentuk suatu tim untuk penyempurnaan suatu karya Tari Golek Menak yang akan menjadi karya besar ciptaannya. Pada 1 Juni 1988, enam lembaga seni di Yogyakarta bergabung dalam tim tersebut, yaitu: Siswo Among Beksa, Pusat Latihan Tari Bagong Kusudiarjo, Sekolah Menengah Karawitan Indonesia, Merdawa Budaya, Paguyuban Surya Kencana, dan Institut Seni Indonesia. Masing masing lembaga sepakat menyatakan kesanggupan untuk terlibat dalam penyempurnaan karya tersebut dengan menciptakan formasi cerita melalui karakter-karakter tokoh yang dihadirkan.

Lokakarya demi lokakarya untuk pembahasan sumbangsih garapan setiap lembaga dilakukan secara maraton dengan puncak pertemuan tanggal 14 September 1988 di anjungan DIY Taman Mini Indonesia menghasilkan suatu karya yang membuat Sultan Hamengku Buwono IX cukup puas. Hasil lokakarya tersebut baru hasil awal dari proses penyempurnaan Tari Golek Menak. Sultan mengharapkan diadakan pertemuan lanjutan untuk membuat rencana kerja kedua pada bulan bulan Maret 1989. Angan besar Sultan Hamengku Buwono IX untuk menyaksikan hasil kerja kedua dari tim penyempurna Tari Golek Menak tidak terlaksana karena pada 3 Oktober 1988, Sultan Hamengku Buwono IX mangkat dalam lawatan di USA.

 

Lambang Kraton Yogyakarta

Lambang Kraton Yogyakarta semula bentuk mahkota kerajaan Belanda banyak mempengaruhi unsur hias dalam kraton Yogyakarta dan Surakarta, termasuk diantaranya untuk mahkota raja. Sampai pemerintahan Sri Sultan Hamengkubuwana VII lambang mahkita tersebut masih banyak diterapkan sebagai unsur hias(lihat ilustrasi 1 Lambang HB VII di perabot tandu Kraton)Selain unsur mahkota yang tampak sangat presisi, munculnya binatang singa di kiri dan kanan mahkota menunjukkan getaran estetik yang bernuansa Eropa sangatlah kental. Jika dibandingkan dengan lambang Kerajaan Belanda , lambang yang dipakai Sri Sultan Hamengku Buwana VII memiliki kemiripan (lihat ilustrasi 2 Lambang Kerajaan Belanda).Pada Sri Sultan Hamengku Buwono VII bentuk itupun masih tertera di atas bingkai gambar yang berukuran besar,terbukti seoeti yang terdapat di Bangsal Manis.

Huruf dan angka dibingkai sulur-sulur indah, di atasnya terdapat mahkota lambang kerajaan (ilustrasi HB10). Namun pada masa pemerintahan Sri Hamengku Buwono VIII pada tahun 1921 ada keinginan untuk membuat lambang keraton berlandaskan cita rasa estetik dengan mengangkat seni budaya sendiri. Lambang ini bentuknya berbeda dengan sebelumnya, tidak terpengaruh oleh bentuk mahkota gaya seni Eropa. Dalam hal ini Sri Sultan Hamengkubuwono VIII dapat disebut sebagai pencipta lambang kraton yang saat ini dipakai. Beliau melibatkan seorang seniman serba bisa,berjiwa sosial dan pemberani sekaligus menantu Sri Sultan Hamenku Buwono VII:K.R.T Yosodipuro. Adapun makna yang tersurat pada lambang keraton: 1.Identitas raja yang bertahta digambarkan dengan jumlah helai bulu sayap disisi kanan dan kiri seperti lambang Sri Sultan Hamengkubuwono VIII digambarkan dengan jumlah bulu 8 helai; 2. Lambang kebesaran keraton digambarkan dalam bentuk mahkota dibawah huruf Ha Ba;3.Lambang Ha Ba yang dibuat oleh Sri Sultan Hamengkubuwono VIII dibuat saling menumpang sehingga menghasilkan keserasian bentuk dua huruf menjadi kesatuan yang artistik. Ha Ba sendiri berarti Hamengku Buwana. Dalam lambang keraton ini Ha Ba disertai unsur bunga teratai di atas Pa murda. Bunga teratai itu melambangkan kiblat papat kelima pancer dilengkapi dengan sepasang tangkai daun yang disebut lajer, yang menggambarkan harapan yang tulus bagi pelestarian kraton dan Sultan, agar berlangsung terus menerus dan penuh wibawa. Lambang keraton ini terdapat di beberapa tempat diantaranya di sisi luar kuncungan Bangsal Manis bagian timur dan pintu gerbang Donopertopo, tepatnya di atas jam besar di sebelah barat masjid Tamanan perempatan Rotowijayan sebelum masuk Keben (Ngejaman). Selain digunakan sebagai unsur hias beberapa banguanan, lambang keprajan ini juga dipakai sebagai kop surat dan medali penghargaan. Secara keseluruhan lambang keraton ini merupakan sengkalan memet yang berbunyi Kaluwihaning-Yaksa-Salira-Aji yang bermakna tahun 1851: Kaluwihaning berbentuk ukiran daun kluwih bermakna 1, yaksa atau kemamang bermakna 5, salira berupa binatang melata atau ular naga bermakna 8, aji lambang raja Ha Ba didalam lingkaran bola dunia bermakna 1.Artinya 1851 merupakan tahun saka atau 1921 masehi.

Sumber: Ensiklopedia Keraton Yogyakarta

lambangkeraton