Category Archives: Seni

Permainan Anak di Kraton Surakarta Abad XIX-XX

Permainan Anak di Kraton Surakarta Abad XIX-XX

“Permainan adalah asal usul dari kebudayaan” – Johan Huizinga,
penulis buku Homo Ludens.

Di dalam keputren, yaitu tempat tinggal para putri di kraton, anak-anak berkumpul dan bermain bersama. Tidak hanya para putri raja, putra raja yang belum akil baliq juga tinggal di sini. Di sudut area kraton ini sering dipenuhi dengan gelak tawa mereka yang asyik bermain. Hampir sebagian besar permainan anak di kraton identik dengan permainan yang berasal dari luar kraton, yaitu permainan anak di kalangan masyarakat pedesaan.

Continue reading

alun-alun-kidul-yogyakarta

Alun-alun

Alun-alun pada dasarnya adalah lapangan besar di tengah kota yang bisa dijumpai hampir di semua kota di Jawa. Alun-alun telah ada sejak masa prakolonial, yaitu pada masa Majapahit sampai Mataram Islam (abad XIII sampai dengan XVIII). Pada periode itu, alun-alun merupakan bagian dari kompleks kraton. Keberadaannya tak jauh-jauh dari urusan simbol legitimasi maupun menjadi prasarana raja memamerkan kekuasaannya.

Continue reading

golekmenakedit

Keindahan Golek Menak

Tari Golek Menak merupakan salah satu tari klasik gaya Yogyakarta yang diciptakan oleh Sultan Hamengku Buwono IX. Inspirasi penciptaan Tari Golek Menak diawali dari ketertarikan HB IX ketika menyaksikan keindahan pagelaran wayang Golek Menak oleh seorang dalang dari Kedu pada 1941.

Continue reading

Pola Garis dalam Batik Kraton Yogyakarta

Di Kraton Yogyakarta, Sultan Hamengku Buwana I pada tahun 1785 mencanangkan pola parang rusak  (gambar 1) sebagai pola yang diakui sebagai milik kraton yang hanya boleh dipakai oleh raja,bangsawan, dan pejabat kerajaan. Disamping juga motif-motif semen dengan sawat, lar cemengkiran, dan udan liris. Dengan demikian tampak betapa batik dipergunakan oleh golongan atas merupakan simbol status sosial dalam sebuah kehidupan masyarakat.

Continue reading

Lambang Kraton Yogyakarta

Lambang Kraton Yogyakarta semula bentuk mahkota kerajaan Belanda banyak mempengaruhi unsur hias dalam kraton Yogyakarta dan Surakarta, termasuk diantaranya untuk mahkota raja. Sampai pemerintahan Sri Sultan Hamengkubuwana VII lambang mahkita tersebut masih banyak diterapkan sebagai unsur hias(lihat ilustrasi 1 Lambang HB VII di perabot tandu Kraton)Selain unsur mahkota yang tampak sangat presisi, munculnya binatang singa di kiri dan kanan mahkota menunjukkan getaran estetik yang bernuansa Eropa sangatlah kental. Jika dibandingkan dengan lambang Kerajaan Belanda , lambang yang dipakai Sri Sultan Hamengku Buwana VII memiliki kemiripan (lihat ilustrasi 2 Lambang Kerajaan Belanda).Pada Sri Sultan Hamengku Buwono VII bentuk itupun masih tertera di atas bingkai gambar yang berukuran besar,terbukti seoeti yang terdapat di Bangsal Manis.

Continue reading

Batik

KAIN bergambar yang dihasilkan secara khusus dengan menerakan lilin malam dan kemudian pengolahannya diproses dengan cara tertentu. Demikian pengertian tentang batik jika merujuk kepada isi Kamus Besar Bahasa Indonesia. Lalu, kurator etnologi Museum Nasional Singapura, Lee Chor Lin, dalam bukunya yang berjudul Batik: Creating an Identity, mendefinisikan batik sebagai a resist-dyeing technique used to decorate finished fabrics. Ini senada dengan definisi batik pada ensiklopedia online Wikipedia versi bahasa Inggris: a cloth that is tradionally made using a manual wax-resist dyeing technique.
Lalu, untuk sejarah batik, maka kita bakal diharuskan menoleh ke belakang, ke masa 1.500 atau bahkan 2.500 tahun silam.

Continue reading

Tentang Profesi Kurator

SAYA rasa, hal yang berbahaya jika kurator tidak sepenuhnya memahami setiap sudut pandang sejarah atau subjek yang akan ditampilkan. Kuratorial yang salah tafsir atau kurang lengkap menampilkan pengetahuan akan berdampak pada kesalahpahaman di pengunjung, masyarakat secara umum, juga pada generasi muda.

Walau museum sering menjadi alat “diplomasi politik”, kurator yg notabene setia pada disiplin ilmu atau keilmiahan sebaiknya bisa tetap objektif. Sebaiknya museum tetap menjadi media “diplomasi budaya” saja, jangan mau jadi alat “diplomasi politik”. Di sini pentingnya objektivitas kurator.

Continue reading

tari-jateng_hitam_putih

Seni Tari Jawa

TARI Jawa merupakan satu di antara warisan adilihung kebudayaan Mataram Islam. Siapa yang tidak terpikat dengan keindahan rangkaian gerakannya yang begitu sedap serta halus dipandang mata.

Daerah yang paling terkenal dengan seni tarinya adalah Yogyakarta dan Surakarta.Dua kerajaan pewaris tahta Mataram ini memang sudah dari dahulu menjadi pusat kebudayaan Mataram.

Dahulu, seni sempurna nan adiluhung itu bersifat rahasia dan hanya milik penari. Alih pengetahuan dan pengatahun mengandalkan cara pendampingan langsung dan secara lisan, turun temurun dari orang tua kepada anak cucunya.

Tarian Candi

Jauh sebelumnya pada masa Hindu-Budha, tari-tarian dilakukan sebagai bagian dari pemujaan kepada dewa-dewi dan biasa disebut sebagai tarian candi. Itu karena dipentaskan di lingkungan candi, dibawakan oleh para pendeta perempuan sebagai persembahan bagi Siwa, Wisnu, atau Brahma. Dahulu, candi dibangun oleh para raja karena desakan agama sebagai ungkapan kepercayaan dan sebagai simbol permohonan kepada dewa. Bisa dikatakan jika para abdi candi yang menari juga bekerja untuk raja.

Dengan datangnya pengaruh Islam yang menguat, berakhirlah tugas para pendeta perempuan dan para abdi raja di candi-candi. Namun, merekaternyata tetap terikat kuat pada istana dan raja. Mereka tetap secara teratur mementaskan tarian dihadapan raja. Karenanya, seni ini menjadi hak istimewa raja dan terkristalisasi dari generasi ke generasi. Maka, setiap raja yang berkuasa harus menciptakan suatu karya tari. Biasanya, tari-tari ini juga dipentaskan dihadapan para tamu kebesaran sebagai bentuk penghormatan.

Harmoni

Tarian Jawa selain merupakan seni gerak tubuh, juga merupakan pengejawantahan dari pemahaman nilai budaya. Budaya Jawa memproses pemahaman olah rasa dan olah pikir dengan tetap mengutamakan sisi kelembutan dan kesantunan. Proses penciptaan tari Jawa mengacu pada konsep wiraga, wirama, wirasa, suatu konsep keseimbangan dan harmoni antara gerak, irama, dan rasa.

Karena dianggap sakral, seni tari Jawa awalnya hanya boleh ditampilkan dalam lingkungan tembok istana. Seiring perkembangan zaman, tari-tari tersebut mulai boleh dipentaskan di kalangan umum diluar keraton.

Bedhaya

Namun, tetap ada tarian yang dianggap sakral dan hanya boleh ditampilkan di depan raja, yaitu tari-tarian dari jenis bedhaya. Kraton-kraton Jawa pun sangat pelit soal pementasan bedhaya. Hanya pada acara-acara khusus dan sangat pentinglah bedhaya dipagelarkan, yakni dalam upacarajumeneng dalem (penobatan raja), jumenengan(peringatan penobatan raja), tumbuk yuswa (ulang tahun raja), pawiwahan ageng (pernikahan putra atau putri raja), serta ketika menyambut tamu-tamu agung yang sangat dihormati.Pementasan bedhaya pun sekadar diperuntukkan bagi penonton-penonton terpilih.

Beberapa contoh dari keluarga besar bedhaya adalah Bedhaya Sumregdi Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta, Bedhaya Ketawang di Kasunanan Surakarta, Bedhaya Semang di Kasultanan Yogyakarta, Bedhaya Anglir Mendung di Kadipaten Mangkunegaran, dan Bedhaya Tejanata Kadipaten Pakualaman. Contoh-contoh tadi pun cuma sebagian kecil dari keseluruhan tari yang termasuk bedhaya. Setiap istana Jawa memiliki dan mengembangkan tari-tari bedhaya mereka masing-masing. Kraton Yogyakarta saja paling tidak memiliki 31 macam bedhaya. Padahal, Surakarta, Mangkunegaran, serta Pakualaman memunyai bedhaya-bedhaya mereka sendiri yang tak kalah beragam dibanding Yogyakarta. Penamaan masing-masing bedhaya biasanya sesuai dengan nama gendhing iringannya. Namun, beberapa dari nama itu kadang diambil dari cerita yang diungkapkannya.

Bedhaya lazimnya ditarikan oleh 9 penari. Ini terutama pakem ketika ditarikan dalam lingkungan kraton. Hanya saja,jika tari ini harus ditampilkan di luar kraton, maka jumlah penarinya harus lebih sedikit dari sembilan orang, bisa 7 atau 6 orang.

Formasi dasar bedhaya dengan 9 penari menyimbolkan angka sakral 9 serta seluruh arah mata angin dalam ajaran falsafah Jawa. Dalam keyakinan Hindu Dharma, yang kemudian diserap oleh falsafah hidup masyarakat Jawa,ada 9 dewa (nawasanga) penguasa penjuru mata angin. Mereka adalah Wisnu  di utara, Sambu di timur laut, Iswara di timur, Mahasora di tenggara, Brahma di selatan, Rudra  di barat daya, Mahadewa di barat, Sengkara di barat laut, dan Siwa di tengah. Filosofi 9 arah mata angin menyimbolkan keseimbangan alam secara mikrokosmos dan makrokosmos.

Berkaitan dengan itu, sembilan penari dalam bedhaya melambangkan manusia beserta berbagai anggota badannya. Masing-masing memiliki sebutan dan makna: Batak (jiwa dan pikiran), Jangga/Gulu (leher), Dada (dada), Endel Ajeg (nafsu/hasrat), Apit Ngarep (lengan kanan), Apit Mburi ( lengan kiri), Buncit (simbol organ seks), Endel Weton (kaki kanan), dan Apit Meneng (kaki kiri).

Serimpi

Selain bedhaya ada juga beberapa tari perempuan lain yang dikembangkan oleh istana-istana Jawa. Contohnya adalah serimpi dan golek.

Tentangserimpi, tak sedikit orang sekarang menganggapnya sebagai satu tarian saja. Kenyataannya, serimpi merupakan istilah umum untuk menyebut tari-tari yang dibawakan 4 penari. Jumlah 4 penari serimpi melambangkan 4 arah mata angin, juga 4 unsur alam, yaitu grama (api), angin (udara), toya (air), dan bhumi (tanah).Perlu dicatat bahwa kata serimpi dalam bahasa Jawa merupakan satu di antara sinomim bagi bilangan 4.

Jumlah tari-tari yang termasuk keluarga besar serimpi mencapai lebih dari angka 100. Tari-tari tersebut terbagi-bagi lagi, biasanya berdasarkan nama gendhing pengiring. Contohnya antara lain Serimpi Pandhelori diiringi Gendhing Pandhelori, begitu juga Serimpi Pramugari yang diiringi Gendhing Pramugari    

Masing-masing tari serimpi memiliki perbedaan dalam hal busana, tatanan rambut, juga senjata yang digunakan. Namun, benang merah jalinan kekerabatan di antara tari-tari serimpi tersebut dapat dilihat dari pengadopsian dari cerita-cerita Babad Menak di dalamnya serta adanya unsur gerakan ngleyang. Ngleyang adalah perubahan posisi dari berdiri ke berlutut dengan disertai gerakan melengkungkan badan ke arah belakang samping kanan, yang terlihat seolah hendak jatuh pingsan.

Penari Kerajaan

Tidak mudah mencari bakat-bakat untuk dijadikan calon penari kerajaan. Mengenai bakat dari para penari dan penyanyi masa lalu, diceritakan oleh Sylvain Levi dalam bukunya “Theatre Indien” tentang syarat-syarat ideal yang harus dipenuhi untuk menjadi penari kerajaan. Menurut Levi, para penari Serimpi dan Bedhaya di istana-istana Jawa harus mengenal cerita rakyat dan legenda daerah, sajak, begitu pula dengan pengetahuan mengenai lakon-lakon utama. Itu semua merupakan sebagian dari pendidikan mereka sebagai penari. Selain itu mereka harus mengenal sejarah tanah air, juga makna dari setiap intonasi serta naik turunnya gamelan, yang kesemuanya itu terdapat dalam cerita-cerita kuno.

Jadi tidak mengherankan jika di mata banyak orang awam dan kurang berpendidikan pada masa itu, para penari serimpi dan bedhaya menduduki status tinggi. Walapun dengan berjalannya waktu dan berubahnya jaman, mereka tetap memiliki kedudukan seperti para penari candi di abad-abad sebelumnya. Hidup untuk menyembah junjungan mereka. Para penari ini biasa disebut dengan abdi bedhaya, merupakan gadis-gadis pilihan tak terkecuali para putri bangsawan yang diangkat menjadi abdi dalem kraton.

Ditulis oleh Rasti Wijayanti, Yoseph Kelik, dan Isti Yunaida

Referensi

  • Dwiyanto, Djoko,Ensiklopedi Kraton Yogyakarta, Dinas Kebudayaan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Yogyakarta, 2009
  • Hermanu dkk., Serimpi, Bentara Budaya Yogyakarta, Yogyakarta, 2011