Cerita Panji dalam Kepurbakalan Indonesia (Bagian 5 dari serial artikel seputar lakon Panji)

Cerita Panji dalam Kepurbakalan Indonesia (Bagian 5 dari serial artikel seputar lakon Panji)

Keberadaan Cerita Panji dalam bentuk karya sastra masih dapat disaksikan hingga saat ini melalui beberapa temuan relief maupun arca yang melukiskan adanya tokoh panji. Hal itu lebih didasarkan pada keadaan data yang bertahan hingga kini, terutama data yang bersifat artefaktual (material culture).

Data relief candi yang berasal dari abad ke-13—15 M masih relatif banyak dijumpai, tersebar pada beberapa candi yang berlokasi di Jawa Timur. Cerita Panji dipahatkan di 7 kepurbakalaan, yaitu candi Jawi, Pendopo Teras II Panataran, Surawana, Miri Gambar, serta 3 punden berundak di Gunung Penanggungan.

Tokoh panji pertama kali diidentifikasikan dengan penciri utama berupa figur pria digambarkan mengenakan tutup kepala yang disebut tekes, badan bagian atas digambarkan tidak mengenakan pakaian, sedangkan bagian bawahnya digambarkan memakai kain yang dilipat-lipat hingga menutupi paha. Jika berpegangan pada tolok ukur bahwa tokoh Panji selalu digambarkan bertopi tekes, maka akan banyak tokoh Panji yang dijumpai dalam relief-relief candi jawa Timur.
Relief cerita Panji yang dapat diketahui secara pasti hanyalah terdapat pada beberapa candi saja dalam masa Majapahit. Penggambaran relief tokoh Panji yang dikenal dalam cerita Panji pada satu panil relief dari daerah Gambyok, Kediri yang nyata-nyata menggambarkan tokoh Panji beserta para pengiringnya. Penggambaran relief Panji di Gambyok tersebut menurut Poerbatjaraka sesuai dengan salah satu episode kisah Panji Semirang, yaitu saat Panji bertemu dengan kekasihnya yang pertama, Martalangu, di dalam hutan.

Pada panil relief Panji Gambyok digambarkan adanya tokoh pria bertopi tekes yang sedang duduk di bagian depan kereta, tokoh itu tidak lain ialah Panji. Sementara tokoh yang duduk si hadapannya di atas tanah ialah Prasanta. Tokoh paling depan di antara empat orang yang berdiri ialah Pangeran Anom, di belakangnya ialah Brajanata, saudara Panji berlainan ibu. la digambarkan tinggi besar dengan rambutnya yang keriting tapi dibentuk seperti tekes. Dua tokoh berikutnya adalah para kudeyan yaitu, Punta dan Kertala. Dalam relief digambarkan bahwa keretanya belum dilengkapi kuda, karena sesuai dengan cerita bahwa mereka baru merencanakan akan membawa Martalangu ke kota malam itu. Sementara sikap kedinginan yang ditunjukkan oleh para tokoh adalah sesuai juga dengan cerita, yaitu mereka berada di luar saat malam yang dingin.

Dengan berpatokan pada penggambaran adegan relief tersebut dapatlah ditentukan bahwa, suatu panil relief yang menggambarkan cerita Panji jika dalam panil tersebut:
1.Terdapat tokoh pria yang bertopi tekes, mengenakan kain sebatas lutut atau lebih rendah lagi menutupi tungkainya dan kadang membawa keris di bagian belakang pinggangnya. Tokoh tersebut ialah Raden Panji.
2.Tokoh selalu disertai pengiring berjumlah 1, 2, atau lebih dari dua. Para pengiring tersebut ialah saudara atau teman Panji. Biasanya ada di antara para pengiring ada yang berperawakan tinggi besar dengan rambut keriting, dialah Brajanata atau berperawakan lucu, pendek, gemuk, dengan rambut dikuncir ke atas dialah Prasanta.
Selain dalam bentuk relief, penggambaran Panji juga dijumpai dalam bentuk arca perwujudan tiga dimensi. Salah satu arca Panji masih dijumpai dari Candi Selakelir di lereng barat laut Gunung Penanggungan. Arca tersebut berukuran 1, 5 mter dalam sikap berdiri, kedua tangannya berada di samping tubuh, mengenakan tekes dan selain juga kalung, upawita dari kain yang menjuntai hingga paha, serta sarung yang mencapai punggung telapak kaki.

Bentuk arca seperti ini mengingatkan pada arca-arca perwujudan dari masa Majapahit akhir lainnya. Misalnya adalah arca Siwa dari Mojokerto, tinggi 84,5 cm, yang sekarang tersimpan di Museum Nasional Jakartan. Arca-arca tersebut memang lebih berkesan static/kaku, mengingatkan pada tubuh orang yang telah meninggal. Menurut Van Romondt, sangat mungkin arca-arca tersebut sebenarnya merupakan arca peringatan bagi leluhur yang telah wafat dan dianggap telah bersatu dengan dewanya.

Berdasarkan data yang ada dapatlah diketahui bahwa penggambaran tojoh Panji dalam bentuk relief atau arca baru muncul ketika Majapahit telah melewati masa kejayaannya, yaitu dalam abad 14 M. Penampilan tokoh tersebut dalam relief sangat mungkin dipengaruhi oleh figur-figur ksatrya yang telah dipahatkan sebelumnya, seperti Sidapaksa dan Sang Satyawan. Tokoh-tokoh itu digambarkan bertopi tekes, dengan pakaian sederhana tidak seperti tokoh-tokoh ksatrya dalam cerita epos India yang berpakaian lebih raya. Walaupun penggambaran Panji dalam bentuk relief hampir mirip dengan tokoh ksatrya, namun cerita Panji mempunyai ciri utama dalam pemahatannya, yaitu selalu hadirnya tokoh-tokoh pengiring, dan hal ini sesuai dengan jalan ceritanya.

Oleh Divisi Riset Museum Ullen Sentalu