Cerita Panji dalam Relief di Gambyok (Bagian 2 dari serial artikel seputar lakon Panji)

Cerita Panji dalam Relief di Gambyok (Bagian 2 dari serial artikel seputar lakon Panji)

Seringkali, orang menyatakan bahwa ciri utama tokoh Panji dalam penggambaran relief dan arca adalah jika ada figur pria yang digambarkan memakai topi tekes, topi mirip blangkon Jawa, tapi tanpa tonjolan di belakang kepala. Itu sedikit banyak lebih mirip dengan blangkon gaya Surakarta. Badan bagian atas tokoh tersebut digambarkan tidak mengenakan pakaian, sedangkan bagian bawahnya digambarkan memakai kain yang dilipat-lipat hingga menutupi paha.

Pada beberapa relief atau arca, ada yang digambarkan membawa keris yang diselipkan di bagian belakang pinggang. Ada juga yang digambarkan membawa senjata seperti tanduk kerbau, sebagaimana yang dipahatkan di Candi Gajah Mungkur di lereng Gunung Penanggungan.

Jika berpegangan pada tolok ukur bahwa tokoh Panji selalu digambarkan bertopi tekes, maka akan banyak tokoh Panji yang dijumpai dalam relief-relief candi jawa Timur. Ini karena tokoh Sidapaksa suami Sri Tanjung yang dipahatkan di Candi Surawana dan Jabung akan dianggap sebagai tokoh Panji. Demikian pula tokoh Sang Satyawan yang dipahatkan pada pendopo teras II Panataran dan dua figur pria dalam relief cerita Kunjarakarna di Candi Jago akan dapat dianggap sebagai tokoh Panji.

Lalu bagaimana sebenarnya penggambaran relief tokoh Panji yang dikenal dalam cerita Panji?
W.F.Stutterheim (1935) secara gemilang telah berhasil menjelaskan satu panel relief dari daerah Gambyok, Kediri yang nyata-nyata menggambarkan tokoh Panji beserta para pengiringnya. Pendapat Stutterheim tersebut didukung oleh para sarjana lainnya, seperti Poerbatjaraka (1968) dan Satyawati Suleiman (1978). Penggambaran relief Panji di Gambyok tersebut menurut Poerbatjaraka sesuai dengan salah satu episode kisah Panji Semirang, yaitu saat Panji bertemu dengan kekasihnya yang pertama, Martalangu, di dalam hutan.

gambyok-700x300Gambar Relief dari Gambyok

Pada panil itu digambarkan adanya tokoh pria bertopi tekes yang sedang duduk di bagian depan kereta. Tokoh itu tidak lain ialah Panji. Sementara tokoh yang duduk di hadapannya di atas tanah ialah Prasanta. Tokoh paling depan di antara empat orang yang berdiri ialah Pangeran Anom, di belakangnya ialah Brajanata, saudara Panji berlainan ibu. la digambarkan tinggi besar dengan rambutnya yang keriting tapi dibentuk seperti tekes. Dua tokoh berikutnya adalah para kudeyan yaitu Punta dan Kertala.

Dalam relief digambarkan bahwa keretanya belum dilengkapi kuda, karena sesuai dengan cerita bahwa mereka baru merencanakan akan membawa Martalangu ke kota malam itu. Menurut Poerbatjaraka, sikap kedinginan yang ditunjukkan oleh para tokoh adalah sesuai juga dengan cerita, yaitu mereka berada di luar saat malam yang dingin.

Oleh Divisi Riset Museum Ullen Sentalu