sekolah jaman belanda

Guru dalam Memori Kolektif Kuno Orang Jawa

SEKOLAH sebagaimana kini lazim dikenal khalayak Indonesia adalah berakar dari peradaban Barat. Embrio darinya baru mulai dikenal di Kepulauan Nusantara sejak abad XVII, tapi menyebar secara signifikan sejak awal abad XIX. Pada masa sebelum menyebarnya sekolah ala Barat, lembaga pendidikan kuno yang dikenal masyarakat Jawa dan kurang lebih menjalankan fungsi mirip dengannya adalah padepokan dan lalu pesantren.

Tentang padepokan dan pesantren, blog.ullensentalu.com telah lumayan mengulasnya lewat dua tulisan bersambung buah pikir Restu Rahayuningsih. Tulisan yang muncul di awal adalah tentang padepokan, lalu tulisan sambungannya adalah tentang pesantren. Masing-masing diunggah pada 4 dan 6 Desember 2019. ( http://blog.ullensentalu.com/sekolah-asli-jawa-sebelum-mengenal-sekolah-ala-barat-1-padepokan/ dan http://blog.ullensentalu.com/sekolah-asli-jawa-sebelum-sekolah-ala-barat-2-pesantren/ )

Tulisan ini sendiri adalah semacam percabangan lebih lanjut dari sepasang tulisan oleh Restu pada Desember 2019 silam. Di sini dan kali ini, perihal yang terutama hendak diulas lebih lanjut adalah figur guru dalam padepokan dan pesantren. Harapannya adalah dapat membantu hadirnya pemahaman yang lebih baik dan kontekstual seputar padepokan dan pesantren, khususnya pada kurun pra abad XIX.

Bukan Tulang Punggung

Sebelum jauh mengulas tentang sosok guru di padepokan dan pesantren, mari lebih dahulu melengkapi kepingan pazel komparasi antara dua lembaga pendidikan kuno ala Nusantara tadi dengan sekolah modern kiwari. Dalam beberapa segi, padepokan maupun pesantren memang dapat diperbandingkan, bahkan memang memiliki sejumlah kemiripan dengan sekolah ala Barat yang berkembang sampai sekarang. Namun, dalam hal status arustama pengasuhan dan pendidikan anak-anak sampai remaja padepokan dan pesantren di satu pihak berbeda nasib dengan sekolah modern ala Barat di pihak lain.

Sistem sekolah ala Barat adalah arustama pendidikan secara global, khususnya sejak diinisiasi secara sistematis mulai era Revolusi Industri, lalu kian menyebar sekaligus terstandarisasi sejak era Ratu Victoria memerintah Imperium Britania Raya. Di Indonesia pun demikian pula adanya. Kini, persentase terbesar anak dan remaja dalam masyarakat telah sehari-sehari diasuh serta dididik dalam sistem sekolah. Jika merujuk kepada data jumlah peserta didik di Indonesia dari situs katadata.co.id (https://databoks.katadata.co.id/2019/05/02/berapa-jumlah-peserta-didik-indonesia), gabungan siswa-siswi SD, MI, SMP, MTs, SMA, SMK, serta MA mencapai 45,3 juta orang. Itu merupakan 78,68% dari keseluruhan jumlah penduduk usia 5-17 tahun yang angka totanyal 57,578 juta jika merujuk Profil Anak Indonesia 2018 garapan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dan Badan Pusat Statistik.

Di sisi berseberangan, tidak ada cukup bukti kuat bahwa padepokan dan pesantren di Jawa pernah memegang posisi arustama atau tulang punggung pendidikan anak dan remaja. Padepokan, pesantren, dan para guru di dalamnya memang terhormat dan penting bagi masyarakat Jawa. Pada masa lalu, itu memang menjadi tempat memelajari banyak ilmu secara cukup mendalam, intensif, pun meliputi waktu yang cukup panjang. Namun, persentase terbesar anak-anak dan remaja Jawa pada 100, atau 200, atau 1.000 tahun silam bisa diyakini tidaklah berguru di padepokan-padepokan serta pesantren-pesantren kuno. Mereka yang belajar di padepokan serta pesantren kecil saja jumlah maupun persentasenya dibandingkan keseluruhan anak-anak dan remaja yang ada.

Padepokan maupun pesantren cenderung merupakan komunitas kecil subsisten yang lazimnya menempati daerah terpencil atau setidaknya pedesaan. Kurang lebih demikianlah hasil perabaan terhadap hal tersurat maupun tersirat dalam sejumlah sumber tertulis dari sejarah kuno Jawa. Beberapa darinya yang bisa dirujuk sebagai pendukung tafsir tadi adalah setidaknya tiga buah prasasti dari abad X sampai dengan abad XII: Wanua Tengah III (908 M), Pucangan/Batu Calcutta (1041 M), serta Sukun (1161 M). Selain itu ada pula lima buah kitab dari abad XIII-XVIII: Sumanasantaka (1204 M), Sudamala (karya antara abad XV-XVII), Bujangga Manik (karya sekitar peralihan abad XV ke XVI), kitab Pararaton (1603 M), Naskah Merapi-Merbabu (kompilasi tulisan dari abad XV-XVIII), dan Babad Tanah Jawa (hasil serangkaian penulisan berkelanjutan mulai dari medio abad XVII-medio abad XVIII). Gambaran keterpencilan tentang padepokan ataupun tempat tinggal guru, brahmana, atau pertapa dapat pula ditemukan beredar dalam versi-versi lain dari memori kolektifkuno orang Jawa. Contohnya saja ya dalam lakon pewayangan maupun legenda. Restu Rahayuningsih pun telah mengulas soal ini dalam seri tulisannya tentang padepokan dan pesantren, sepasang pendahulu bagi tulisan ini.

Poros, Matahari

Hubungan murid dan guru pada dua lembaga pendidikan kuno itu tidak pula benar-benar sama seperti hubungan murid dan guru dalam sekolah modern ala Barat. Siswa-siswa maupun para santri pada dasarnya lebih menjalani hidup bersama dan mengabdi kepada guru atau kyai mereka sampai beberapa tahun, mengerjakan apa pun yang disuruh sang guru. Dalam bahasa Jawa, periode semacam itu kurang lebih dapat disebut sebagai ngenger. Durasinya bisa saja berbeda-beda antar satu murid dengan lainnya. Tahapan ini memberi kesempatan bagi sang guru dalam menilai setiap muridnya dari segi kepatuhan, kesungguhan pengabdian, juga bakat pribadi mereka. Tahapan tadi secara alamiah akan memunculkan juga favoritisme tertentu dalam diri sang guru, berpengaruh pula kepada besar-kecil porsi pengajaran ilmu yang ditransferkan kepada masing-masing murid. Tanpa keberhasilan mengambil hati sang guru, seorang murid hanya akan mendapatkan porsi kecil ilmu selama tinggal bertahun-tahun di padepokan atau pesantren. Ia bahkan bisa jadi tidak benar-benar beranjak dari posisi “ábdi” pelaku proses ngenger.

Dari situ bisa dilihat bahwa guru dalam lingkup padepokan maupun pesantren adalah tokoh yang begitu sentral lagi sangat berpengaruh. Bisa dibilang sebagai poros kehidupan di dalam maupun di sekitar lingkungan padepokan atau pesantren yang diajarnya. Guru adalah matahari, sedangkan murid-murid di padepokan atau pesantren adalah planet-planet yang mengorbiti dan membutuhkan pancaran sinar kebaikan hati sang matahari.

 

 

REFERENSI

Boechari, Melacak Sejarah Kuno Indonesia Lewat Prasasti: Tracing Ancient Indonesian History Through Inscriptions . Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, 2012

Olthof, WL. Babad Tanah Jawi. Yogyakarta: Penerbit NARASI, 2014

Padmapuspita, J., Pararaton: Teks bahasa Kawi, Terdjemahan bahasa Indonesia . Yogyakarta: Taman Siswa, 1966

Poerbatjaraka, Kapustakan Djawi. Amsterdam: Djambatan, 1952

Rahayuningsih, Restu Ambar. 350 Prasasti tentang Indonesia. Sleman: Divisi Riset Museum Ullen Sentalu, 2016.

Ras, J.J., Masyarakat dan Kesusastraan Jawa . Jakarta: Yayasan Pustakan Obor Indonesia, 2014

Setiawan, Hawe. “Bujangga Manik dan Studi Sunda”diunduh dari https://livrosdeamor.com.br/documents/bujangga-manik-5bd6b810d3131, diakses pada 15 Februari 2020 , 12.31

Simbolon, Parakitri. Menjadi Indonesia. Jakarta: Penerbit Buku Kompas, Cetakan II 2006

Zavasnoz, Ibo. “Naskah Asli Bujangga Manik Beserta Terjemahannya” dalam

https://ibo-zavasnoz.blogspot.com/2016/03/naskah-asli-bujangga-manik-beserta.html?m=1, diakses   pada 14 Februari 2020, 12.05.

Zoetmulder, P.J. Kalangwan: Sastra Jawa Kuno Selayang Pandang. Jakarta: Penerbit Djambatan, Cetakan II 1985.