Ketika Orang Jawa Berhenti Menulis dan Memelihara Buku

Ketika Orang Jawa Berhenti Menulis dan Memelihara Buku

LEWAT buku, ingatan dan pengetahuan dicatat dan dimungkinkan untuk lebih mudah tersebar. Dalam perihal menuliskan buku, masyarakat Jawa melakukannya sejak medio abad IX, ditandai dengan penyaduran terhadap kisah epos Ramayana dari India. Hal ini kurang lebih beriringan dengan masa pembangunan Candi Borobudur dan Prambanan.

Kepiawaian para pujangga istana kerajaan-kerajaan zaman Jawa Kuno membuat penulisan karya sastra maupun kronik terus berjalan dalam abad-abad selanjutnya. Secara isi, karya yang ditulis berkembang, tak lagi saduran apa adanya dari kisah-kisah dari India. Pujangga-pujangga Jawa mengolah lagi banyak kisah dari India menurut kreativitasnya sehingga menghasilkan versi baru yang telah disesuaikan dengan seting maupun alam berpikir Jawa. Para pujangga Jawa juga mengangkat kisah-kisah asli yang bersumber dari dalam masyarakat Jawa sendiri. Mereka juga menciptakan format penulisan khas Jawa berupa kakawin dan kidung.

Era Kerajaan Kediri dan era Kerajaan Majapahit adalah dua periode emas emas penulisan buku di Jawa pada masa lalu. Itu karena dua era tadi memang menghasilkan begitu banyak karya sastra dan kronik. Bharatayudha,Hariwangsa, Gatokacasraya, Krisnayana, Smaradahana, dan Sumanasantaka merupakan sederet karya yang dihasilkan semasa Kerajaan Kediri. Nagarakrtagama, Sutasoma, Arjunawijaya, Lubdhaka, Wrttasancaya, Kunjarakarna, Sudamala, juga Kidung Harsawijaya adala sejumlah contoh karya yang dilahirkan era Kerajaan Majapahit.

Bentuk buku semasa Jawa Kuno adalah susunan sejumlah helai daun lontar. Sebutan khasnya adalah rontal. Penulisannya adalah helai-helai daun lontar digurat memakai semacam pisau kecil.

Kegiatan penulisan buku semasa Jawa Kuno sempat merosot ke titik nadirnya setelah runtuhnya Kerajaan Majapahit pada antara akhir abad XV dan awal abad XVI. Kala itu wilayah inti Majapahit yang meliputi seantero Jawa Timur dan Jawa Tengah terpecah menjadi empat kerajaan yang berseteru sama lain. Mereka itu masing-masing adalah pedalaman Jawa Timur dan Jawa Tengah dirajai oleh Singhawikramawarddhana serta kemudian oleh anaknya, Girindrawarddhana Dyah Ranawijaya, wilayah utara Jawa Timur berikut ibukota lama di Trowulan yang diperintah oleh Kertabhumi, wilayah bagian timur Jawa Timur yang hidup sebagai kerajaan merdeka dengan sebutan Blambangan, juga Pesisir Utara Jawa Tengah yang dikuasai oleh Raden Patah sang penguasa Demak. Perang yang susul menyusul terjadi di antara kerajaan-kerajaan tadi mengganggu kreativitas dan produktivas para pujangga Jawa. Dalam perang-perang itu, tak sedikit pula buku yang menjadi bagian kekayaan literasi Jawa masa itu menjadi musna.

Masa akhir Majapahit hingga masa awal Mataram Islam memang adalah tahun-tahun tergelap Jawa dalam hal penulisan buku. Era Kerajaan Demak dan Pajang bahkan tiada mewariskan karya sastra dan kronik kepada kita yang hidup pada masa sekarang. Bisa jadi karena karya-karya yang dihasilkan dua era itu terlalap habis oleh peperangan. Bisa jadi pula karena penulisan buku memang tidak menjadi prioritas dalam dua era tadi.

Akibatnya, berbagai peristiwa yang terjadi di semasa eksisnya Demak dan Pajang sebenarnya ada di kategori “konon”. Catatan sejarah mengenai era Demak dan Pajang yang selama ini diketahui orang dan termuat dalam buku sejarah sesungguhnya semata bersumberkan kitab-kitab yang baru dituliskan sekitar seabad hingga dua abad setelahnya, tepatnya pada pertengahan abad XVII hingga pertengahan abad XVIII, ketika Jawa sudah berada di zaman Mataram Islam. Tentang peristiwa-peristiwa yang oleh kitab-kitab dari zaman Mataram Islam disebut terjadi semasa Demak dan Pajang, berapa persen yang sungguh-sungguh didapat dari penelusuran ketat terhadap cerita lisan dan memori masyarakat, dan berapa persen yang sekadar hasil rekaan para pujangga kraton Mataram Islam,sungguh teramat sukar untuk memilah-memilahnya. Yah, beginilah jika buku-buku berhenti ditulis dan dipelihara… . (Yoseph Kelik/Periset di Museum Ullen Sentalu)

Referensi :

  • Djafar, Hasan, Masa Akhir Majapahit:Girindrawarddhana dan Masalahnya (Cetakan II), Depok, Komunitas Bambu, 2012
  • Muljana, Slamet, Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-Negara Islam di Nusantara (Cetakan IX), LKiS, Yogyakarta, 2013
  • Ras, JJ, Masyarakat dan Kesusasteraandi Jawa, Yayasan Pustaka Obor Indonesia, Jakarta, 2014
  • Toer, Pramoedya Ananta, Jalan Raya Pos, Jalan Daendels, Lentera Dipantara, Jakarta, 2005
  • Zoetmulder, PJ, Kalangwan: Sastra Jawa Kuno Selayang Pandang, Djambatan, Jakarta, 1985 (Cetakan Kedua)