Mengenal Aneka Prasasti dalam 90 Halaman

Mengenal Aneka Prasasti dalam 90 Halaman

Judul buku: Prasasti & Raja-Raja Nusantara
Penulis: Trigangga dkk.
Penerbit: Museum Nasional Indonesia
Tahun terbit: 2015
Jumlah halaman: vi+84

Kata “prasasti” bagi kebanyakan orang kiranya akan memunculkan gambaran di kepala tentang bongkahan batu yang bertuliskan aksara serta bahasa kuno. Bagi orang-orang yang cukup mengenal bacaan bertema sejarah, “prasasti” akan sangat mungkin memantik berkelebatnya sekian kata, antara lain Yupa, Ciaruteun, Tugu, Talang Tuo, dan Canggal. Bisa jadi tak juga cuma sebatas itu. Namun, sampai pula kepada Dinoyo, , Anjuk Ladang, Cane, Kambang Putih, atau bahkan Hantang, Mula Malurung dan Walandit. Sekian kata tadi adalah beberapa di antara nama-nama prasasti peninggalan kerajaa-kerajaaan kuno yang pernah eksis di Nusantara sekian ratus tahun silam: Kutai, Tarumanagara, Sriwijaya, Medang, Kahuripan, Janggala, Kediri, Singhasari, serta Majapahit.

Menghafal nama-nama prasasti dan mengingat-ingat pula mereka sebagai peninggalan kerajaan dan raja siapa sedikit banyak adalah sesuatu yang sering dilakukan murid-murid sekolah atau para mahasiswa. Makanan sehari-hari yang berkuliah di bidang sejarah serta arkeologi. Biarpun itu tentu saja tak selalu hal yang menyenangkan.

Hanya saja, sudahkan orang-orang punya pemahaman yang jelas tentang prasasti? Dalam hal ini, Museum Nasional Indonesia menerbitkan sebuah buku tipis setebal 90 halaman yang sangat membantu untuk mendapatkan pemahaman awal dan sekaligus utuh tentang prasasti. Judulnya Prasasti & Raja-Raja Nusantara. Di dalamnya termuat 50 buah prasasti di antara seluruh koleksi Museum Nasional Indonesia yang totalnya ada sekitar 500 buah. Masing-masing prasasti itu dilengkapi dengan penjelasan singkat serta foto.

Prasasti-prasasti yang dimuat dalam Prasasti & Raja-Raja Nusantara tertua berasal dari abad IV Masehi; yang paling muda berasal dari abad XVIII Masehi. Daftarnya dimulai dengan Prasasti Mulawarman (Yupa) peninggalan Kerajaan Kutai, lalu dipungkasi oleh Prasasti Suracala peninggalan Kerajaan Mataram Islam era Amangkurat II.

Prasasti & Raja-Raja Nusantara tak ketinggalan juga menguraikan aneka pengetahuan yang lumayan mendalam seputar prasasti-prasasti zaman Hindu dan Buddha. Itu antara lain terdiri dari klasifikasi bahan prasasti (batu, logam, tanah liat , lontar), klasifikasi aksara yang dipakai (Pallawa, Jawa Kuno, Sunda Kuno, Sumatra Kuno, Bali Kuno, Nagari, Tamil), hingga isi dan struktur prasasti. Khusus mengenai pembahasan isi dan struktur prasasti, pembaca dapat sekalian memperoleh pengetahuan mengenai tata masyarakat Jawa Kuno. Selain itu ada juga ulasan singkat tentang sistem pembagian waktu pada zaman itu yang punya sejumlah perbedaan dengan sistem yang dikenal sekarang.

Nah, dengan sekian macam isinya tersebut, jelaslah bahwa buku tipis ini tak bisa disepelekan kandungan “gizinya”? (Yoseph Kelik)