Pentingnya Memelihara dan Mengembangkan Lakon Panji (Bagian 4 dari serial artikel seputar lakon Panji)

Pentingnya Memelihara dan Mengembangkan Lakon Panji (Bagian 4 dari serial artikel seputar lakon Panji)

Menyoal tentang cerita Panji, sejumlah pertanyaan pantas untuk diajukan. Sejauh mana lakon tersebut pada masa kini memiliki arti penting sebagai bagian aset budaya Indonesia? Seperti apa juga kah nasib cerita Panji ke depannya, makin terpinggirkan oleh cerita-cerita yang lebih modern dan lebih populer, ataukah justru dapat kembali mekar dan menarik perharian khalayak ramai?

Lakon Panji yang merupakan lakon asli Jawa dan Nusantara sejatinya tidaklah kalah dari epos-epos berakar budaya India seperti Mahabharata maupun Ramayana. Faktor keaslian dan mutu cerita yang tingginya semestinya memberi cukup alasan bagi masyarakat Jawa dan Indonesia saat ini untuk terus memelihara serta mengembangkan lakon Panji. Melalui kontribusi positif semacam itu budaya bangsa tentunya terjamin kekokohannya. Lakon Panji pun dapat dijadikan identitas dan ikon epos asli yang berasal dari Indonesia. Lebih baik jika itu dikenal luas sampai ke mancanegara. Dengan begitu, dapatlah diminimalisasi atau malah dihindarkan sama sekali adanya pengalaman buruk yang telah beberapa kali terjadi manakala hasil budaya bangsa ini diklaim oleh negara tetangga.

Apa lagi, banyak peneliti mancanegara telah melakukan riset maupun menuliskan artikel-artikel ilmiah mengenai lakon Panji. Mereka itu antara lain W.H. Rassers yang menulis buku Panji, The Cultural Hero: As Structural Study of Religion in Java; A.Teeuw yang meneliti cerita Panji Syair Ken Tambunan; S.O. Robson yang menulis buku Wangbang Wideya: A Javanese Panji Romance; J.J. Ras yang menulis The Panji Romance and W.H. Rassers Analysis of Its Theme; serta Lidya Kieven yang menuliskan disertasinya yang berjudul Following the Cap-Figure in Majapahit Temple Reliefs.

Memang ada juga orang Indonesia yang meneliti serta menelaah lakon Panji. Contohnya adalah R.M. Poerbatjaraka yang berpendapat bahwa cerita Panji merupakan suatu bentuk revolusi kesusastraan terhadap tradisi India. Menurutnya, lakon Panji berawal dari zaman keemasan Majapahit dan ditulis dalam bahasa Jawa Tengahan.

Namun, Poerbatjaraka berpendapat juga bahwa embrio lakon Panji muncul dalam sastra kuno Jawa sejak abad VII. Lakon Panji diduga berasal dari kakawin Smaradahana karya Mpu Dharmaja dari Jaman Kadiri. Pada bagian akhir kakawin ini diceritakan tentang kisah perkawinan Kamerwara dari Madyadesa (Kadiri) dengan Putri Kirana dari Wajradrawa (Janggala). Penyebaran lakon Panji setelah itu kemudian berlangsung melalui penyalinan dalam bahasa Jawa Tengahan dan Bahasa Melayu.

Oleh Divisi Riset Museum Ullen Sentalu