Penyebaran Cerita Panji (Bagian 3 dari serial artikel seputar lakon Panji)

Penyebaran Cerita Panji (Bagian 3 dari serial artikel seputar lakon Panji)

Sebagai suatu karya sastra yang berkembang dalam masa Jawa Timur Klasik, kisah Panji telah cukup mendapat perhatian para ahli. Cohen Stuart pada 1853 telah membicarakannya dari segi kesusasteraannya. Roorda pada 1869 telah mengulasnya dari segi kisah yang mandiri Poerbatjaraka pada 1968 telah membandingkannya dengan berbagai macam cerita Panji yang telah dikenal.

Menurut C.C.Berg pada 1928, masa penyebaran lakon Panji di Nusantara berkisar antara tahun 1277 M (Pamalayu) hingga ± 1400 M. Ditambahkannya bahwa tentunya telah ada cerita Panji dalam bahasa Jawa Kuno dalam masa sebelumnya, kemudian cerita tersebut disalin dalam bahasa Jawa Tengahan dan Bahasa Melayu. Berg selanjutnya berpendapat bahwa cerita Panji mungkin telah populer di kalangan istana raja-raja Jawa Timur. Namun, cerita itu terdesak oleh derasnya pengaruh Hinduisme yang datang kemudian. Dalam masa selanjutnya cerita tersebut dapat berkembang dengan bebas dalam lingkungan istana-istana Bali.

R.M.Ng. Poerbatjaraka membantah pendapat Berg tersebut. Ia justru berpandangan bahwa cerita Panji merupakan suatu bentuk revolusi kesusastraan terhadap tradisi lama yang berasal dari India. Poerbatjaraka juga menyetujui pendapat W.F.Stutterheim bahwa relief tokoh Panji dan para pengiringnya yang diketemukan di daerah Gambyok, Kediri, dibuat sekitar tahun 1400 M. Akhirnya Poerbatjaraka menyimpulkan bahwa mula timbulnya cerita Panji terjadi dalam zaman keemasan Majapahit, atau dalam masa akhir kejayaan kerajaan tersebut, dengan penulisan dalam Bahasa Jawa Tengahan.

Penyebaran lakon Panji ke Luar Jawa terjadi dalam masa yang lebih kemudian lagi dengan cara penuturan lisan. Dalam perkembangan selanjutnya cerita tersebut ditulis dengan huruf Arab-Melayu. Dalam bentuk naskah Arab-Melayu itulah lakon Panji diperkenalkan ke wilayah Asia Tenggara Daratan. Alhasil, lakon Panji kini tersebar ke daerah di Nusantara meliputi seluruh Jawa dan Bali, Nusa Tenggara, dan berbagai daerah Sumatra, juga hingga menyebar ke negara lain di Asia Tenggara meliputi Thailand, Kamboja, dan Myanmar.

Cerita Panji berkembang melalui berbagai aspek kehidupan dan bentuk seni seperti seni tari, sastra, teater, wayang, seni lukis, dan seni pahat. Meski terdiri dari berbagai versi, sebagai hasil interaksi dengan lingkungan kebudayaan yamg menjadi habitatnya, inti cerita Panji selalu bercerita tentang kehidupan tokoh Raden Panji (Panji Asmorobangun) dari Kerajaan Jenggala dan Putri Candrakirana (Dewi Sekartaji) dari Kerajaan Daha atau Kediri. Raden Panji dianggap sebagai titisan Dewa Wisnu, sedang Dewi Sekartaji sebagai titisan dari Dewi Sri. Penyatuan Panji dan Sekartaji, sebagai bentuk penyatuan pria dan wanita yang menghasilkan kesuburan atau keturunan,dijadikan simbol kesuburan padi.

Dalam kesusastraan Melayu Lama, berbagai versi lakon Panji yang dikenal yaitu Hikayat Jaran Panji Asmaradana, Hikayat Anom Mataram, Hikayat Mesa Gimang, Hikayat Panji Kuda Semirang, dan Hikayat Panji Semirang. Di Bali, lakon Panji dikenal dengan Cerita Malat dan di Palembang dikenal dengan cerita Panji Anggraeni.

Di Jawa sebagai tempat munculnya cerita Panji juga dijumpainya berbagai versi cerita panji sejak masa bahasa Jawa Tengahan. Ini bisa dilihat dari keberadaan naksah-naskah seperti Wangbang Wideya dan Panji Angreni. Dalam bahasa Jawa baru, pujangga Kraton Surakarta,Ronggowarsito, ikut menghasilkan versi gubahannya yang berjudul Panji Jayeng Tilam.

Variasi versi cerita Panji juga mempengaruhi penamaan tokoh-tokoh di dalamnya. Contohnya penyebutan tokoh utama dalam lakon Panji ala Kamboja disebut Eynao. Beda lagi dalam Panji versi Thailand, tokoh utamanya disebut Dalang dan Ari Negara. Walaupun terjadi variasi penyebutan tokoh maupun negara-negera dalam dalam cerita Panji, namun cerita panji tersebut ternyata juga mempunyai pola plot yang sama. Ada pula kemiripan latar negara asal para tokoh yang diceritakan, yaitu Kerajaan Koripan (Kahuripan), Jenggala, Gegelang, Daha (Kediri), Mamenang, Urawan, dan Singasari.
Pola plot cerita intinya berawal dari kisah percintaan putra raja dengan putri raja dari negara yang berbeda yang kemudian dipisahkan. Mereka kemudian berkelana untuk mencari pasangannya. Dalam pengelanaan, mereka melakukan penyamaran. Ketika akhirnya mereka bertemu, penyatuan paripurna mereka ditandai dengan perkawinan.

Oleh Divisi Riset Museum Ullen Sentalu