Sekolah Dokter Jawa dan Alumnusnya yang Bernama Wahidin

Sekolah Dokter Jawa dan Alumnusnya yang Bernama Wahidin

Dari antara para penduduk Kepulauan Nusantara yang pertama-pertama mengenyam pendidikan Barat, lalu berkembang menjadi suatu kaum intelek profesional, para dokter terbilang sebagai golongan terdepan. Ihwal orang-orang Bumiputra dapat menyerap ilmu kedokteran ala Barat dan bekerja sebagai dokter adalah terjadi pada medio abad XIX.

Tepat pada 1 Januari 1851 berdirilah Onderwijs  van  Inlandsch  Eleves  voor  de Geneskunde en Vaccine di Batavia, yakni  Sekolah Pendidikan Kedokteran dan Vaksinasi bagi Kaum Bumiputra. Ini merupakan tindak lanjut dari gagasan perbaikan tingkat kesehatan, khususnya pemberantasan penyakit cacar, yang diusulkan  Kepala Militair Geneskundige Dienst (MGD/Dinas Kesehatan Militer Hindia Belanda), Willem Bosch, kepada Gubernur Jenderal  Jan Jacob Rochusen (1845-1851). Willem Bosch sendiri mengepalai MGD sejak 1844. Sebelum mengusulkan pendirian sekolah ilmu kesehatan tersebut, Bosch telah lebih dahulu diminta Pemerintah Kolonial menyusun buku-buku manual singkat mengenai pencegahan dan cara mengatasi wabah cacar. Rangkaian kerja Bosch pada medio abad XIX tadi antara lain dipicu oleh terjadinya wabah cacar di Banyumas, Jawa Tengah, pada 1847. Demikian sekelumit cerita singkat tentang mulabuka kehadiran lembaga pendidikan dokter ala Barat di Bumi Nusantara, sebagaimana merujuk tuturan Firman Lubis dalam buku  Jakarta 1960-an: Kenangan Semasa Mahasiswa  halaman 130-132, juga merujuk isi artikel “Dari Sekolah Mantri hingga FKUI” yang dimuat majalah INTISARI Agustus 2019 halaman 74. Lembaga pendidikan kedokteran tersebut lazim disebut sebagai Sekolah Dokter Jawa.

Masalah penyakit cacar memang merupakan masalah pelik bagi Pemerintah Kolonial Hindia Belanda sampai dengan abad XIX. Data selayang pandang yang dibagikan “Dari Sekolah Mantri hingga FKUI” dalam INTISARI Agustus 2019 memerlihatkan bahwa pada awal abad XIX: dari 1.019 bayi lahir di Jawa, 102 mati karena cacar. Rerata tingkat  kematian anak usia  kurang dari 14 tahun karena cacar pun mencapai angka  10-30%. Hal ini merisaukan Pemerintah Kolonial karena menurut mereka membahayakan produktivitas perkebunan tanaman-tanaman komoditas ekspor seperti kopi, tebu,  dan teh, selaku pendorong ekonomi negeri jajahan maupun Belanda sendiri. Sekolah Dokter Jawa diharapkan Belanda dapat menjadi solusi murah jangka panjang atas masalah wabah penyakit tadi.

Menurut artikel “Dari Sekolah Mantri hingga FKUI”, angkatan I Sekolah Dokter Jawa mendidik 30 pemuda Suku Jawa. Namun, Firman Lubis dalam buku  Jakarta 1960-an menyebut angkatan I Sekolah Dokter Jawa hanya berjumlah 12 orang. Pendidikan Sekolah Dokter Jawa yang diterapkan secara cuma-cuma itu menggunakan pengantar bahasa Melayu pada awalnya. Kepala sekolah pertamanya adalah seorang dokter militer bernama P Bleeker. Dua dokter militer lain menjadi guru yang membantu tugas Bleeker. Lama pendidikan Sekolah Dokter Jawa adalah dua tahun. Para lulusan pertamanya pada 1853 menyandang gelar Dokter Jawa, tapi nyatanya lebih banyak menjalankan fungsi sebagai mantri cacar alias vaksinator.

Dalam sekitar separo abad selanjutnya, Sekolah Dokter Jawa mengalami banyak perkembangan secara bertahap. Itu mulai dari penambahan masa pendidikan menjadi tiga tahun, lalu diperpanjang lagi menjadi tujuh tahun. Menerima juga siswa dari suku non Jawa dimulai dari etnis  Minahasa dan Minang. Perubahan bahasa pengantar menjadi bahasa Belanda. Kedudukan fungsional lulusan pun ditingkatkan dari mantri cacar menjadi dokter mandiri yang diawasi. Sampai akhirnya nama resmi lembaga pendidikannya sendiri diubah pada 1902 dari School tot opleiding voor  Inlandsche Artsen atau Sekolah Pendidikan Dokter Bumiputra menjadi  School tot opleiding voor  Indische Artsen atau Sekolah Pendidikan Dokter Hindia. Singkatan nama tetap STOVIA.

Dokter dari Mlati

Wahidin adalah salah satu lulusan Sekolah Dokter Jawa alias STOVIA, tepatnya dari sekitar pertengahan kurun 50 tahun pertama lembaga itu. Merujuk uraian yang diberikan Parakitri Simbolon dalam Menjadi Indonesia  halaman 544-545, Wahidin adalah anak seorang priyayi desa dari Mlati yang saat ini termasuk bagian Kabupaten Sleman di Daerah Istimewa Yogyakarta. Wahidin lahir pada 1857 dan menempuh pendidikan STOVIA sampai lulus pada 1869-1872. Setelah beberapa lama menjadi asisten pengajar di almamaternya, Wahidin berdinas di daerah Yogyakarta sampai dengan 1899. Sebagai umumnya priyayi zaman itu, Wahidin lantas memiliki nama belakang tambahan yang mencerminkan kedudukannya. Ia tepatnya dikenal orang sebagai penyandang nama lengkap Dokter Wahidin Soedirohoesodo.

Wahidin ternyata adalah sosok mumpuni multitalenta. Ia tak hanya aktif sebagai dokter. Ia memiliki ketertarikan menekuni bidang-bidang lain mulai dari seni wayang dan gamelan, jurnalisme, hingga pendidikan.  Bersahabat dengan fotografer Kassian Cephas, pergelaran wayang beber di rumah Wahidin boleh dibilang adalah yang pertama terdokumentasikan oleh kamera. Pada 1901-1906, Wahidin menjadi redaktur pada majalah dwibahasa Melayu dan Jawa bertitel Retnadhoemilah yang bermarkas di Surakarta.

Setelah mundur dari Retnadhoemilah, Wahidin berkeliling Jawa menemui orang-orang terkemuka untuk mengumpulkan dana beasiswa untuk kaum muda priyayi Jawa. Ia termasuk mengunjungi almamaternya, STOVIA. Di situ, Wahidin bertemu sejumlah pimpinan mahasiswa STOVIA antara lain Soetomo dan Gunawan Mangoenkoesoemo. Pertemuan dua generasi berbeda STOVIA ini ternyata lantas mendorong lahirnya organisasi modern kaum terdidik Bumiputra, khususnya di kalangan etnis Jawa, yakni Boedi Oetomo. Sekalipun masih memiliki gagasan pergerakan yang masih berkutat dalam lingkup etnis Jawa, sosok Wahidin boleh dibilang adalah inspirator bagai para tokoh pergerakan yang lantas mengembangkannya ke lingkup Nusantara secara inklusif. Soetomo, Gunawan  Mangoenkoesoemo, Tjipto  Mangoenkoesoemo, dan Suwardi Suryaningrat, adalah tokoh-tokoh yang sedikit banyak menyerap pengaruh dari Wahidin, lalu mengembangankannya.  Merujuk kepada kutipan yang dimasukkan Firman Lubis dalam buku  Jakarta 1960-an halaman 144, Soetomo pada 1934 secara khusus  membuat catatan tentang Wahidin dalam buku kenang-kenangannya:

“Berbitjara dengan dokter Wahidin, mendengarkan akan toedjoeannya…, menghilangkan perasaan dan toedjoean jang  terbatas, terbatas hanja oentoek keperloean diri sendiri belaka.

Orang mendjadi lain machloek, orang merasa bergerak, gemetar diseloeroeh toeboeh dan toelangnja, pemandangan menjadi loeas, perasaan mendjadi haloes, tjita-tjita beroepa elok…pendek kata orang merasa akan kewadjibannya jang maha loehoer didoenia ini.

Dokter Wahidin! Benar, soenggoeh benar, kalaoe orang mengataklan bahwa kamoelah jang medjadi pelopor pergerakan kita oemoemnja.”

Dokter Wahidin sendiri wafat pada 1917. Ia dimakamkan di Mlati, kampung halamannya. Kompleks pemakamannya kini terletak tepat di tepi Jalan Raya Yogyakarta-Magelang. Nama Wahidin Soedirohoesodo sendiri antara lain diabadikan sebagai nama rumah sakit umum daerah di Mojokerto serta masjid agung di Sleman.