Category Archives: Budaya

Loro Blonyo

MASYARAKAT Jawa adalah masyarakat agraris yang menggantungkan hidup pada aktivitas bercocok tanam, terutama tanaman padi. Tradisi bertani ini telah berkembang sejak lama, termasuk pada era kebudayaan Hindu Budha di Jawa. Pengaruh Hindu Budha tidak mengubah tradisi bercocok tanam asli yang berkembang secara lokal sebelumnya, tetapi memperbaikinya terutama dibidang teknologi pengairan.

Konsep kesuburan pada masa prasejarah diwujudkan dengan perlambangan benda-benda alam. Air merupakan lambang kesuburan yang utama. Konsep kesuburan ini  berkembang menjadi konsep Dewi Ibu. Dewi ibu ini dianggap sebagai tokoh yang memberikan kehidupan, asal mula dari segala kesuburan bagi seluruh mahluk hidup di bumi. Masyarakat Jawa kuna mengenal tokoh Dewi Sri yang kemudian disebut sebagai dewi kesuburan.

Pemahaman konsep dewi ibu dalam masyarakat Jawa mengalami perubahan yang signifikan ketika agama Islam masuk dan berkembang. Islam pada dasarnya melarang adanya kepercayaan terhadap dewa dan dewi, sehingga tidak mengenal konsep dewi ibu. Hal ini membuat pemahaman akan konsep kesuburan yang sudah mengakar  pada pikiran masyarakat Jawa tetap menghadirkan tokoh tersebut dalam bentuk lain, yaitu loro blonyo. Loro blonyo ini meskipun tidak dipuja seperti dewa dan dewi, tetapi tetap mendapat kehormatan dalam masyarakat Jawa.

Loro Blonyo merupakan arca tiruan sepasang pengantin, terbuat dari kayu, tanah liat, atau batu. Secara etimologi, loro berarti “dua” dan blonyo berarti dilumuri (dilulur) warna emas. Loro Blonyo ini merupakan perlambangan tokoh Dewi Sri dan Dewa Sadana. Loro Blonyo muncul dalam masyarakat Jawa sebagai kesinambungan kepercayaan terhadap konsep kesuburan, khususnya di bidang pertanian.

Mitologi Sri-Sadana dalam masyarakat Jawa memiliki beberapa versi. Jessup menceritakan bahwa Sri-Sadana merupakan anak kembar dari Nagaraja. Setelah dewasa Sadana menikahi Sri. Karena perbuatan tercela tersebut, Bathara Guru mengutuk mereka berdua. Sri-Sadana akhirnya mati. Tubuh Sri jatuh ke bumi, kemudian disembah sebagai kesuburan. Pada hari ketujuh setelah kematiannya, di atas makam Sri tumbuh tanaman padi. Sementara Cohen menceritakan dalam kisah Wayang Dampoe Awang. Sri merupakan seorang putri yang menetas dari sebuah telur yang keluar dari air mata Hyang Antaboga. Sebutir lainnya menetas menjadi Sadana. Kelak pada saat Sri meninggal, dari jenasahnya muncul tumbuh-tumbuhan. Dari giginya tumbuh tanaman jagung, dari kemaluannya tumbuh tanaman padi, dari kepalanya tumbuh tanaman kelapa, dan dari pusarnya tumbuh tanaman aren. Sementara dari jenasah Sadana, muncul logam dan permata.

Loro Blonyo merupakan hasil kebudayaan Islam yang juga merupakan perwujudan sinkretisme Hindu-Islam. Konsep kesuburan menempatkan peristiwa bertemunya sperma dan ovum sebagai kesuburan tertinggi karena dapat melahirkan keturunan baru. Hal ini diibaratkan sebagai tanah yang bertemu dengan air. Konsep ini juga berlangsung hingga masa Islam dalam bentuk baru, karena dalam aturan Islam seorang laki-laki dan perempuan diperbolehkan bersetubuh setelah menjalin hubungan pernikahan.

Awalnya loro blonyo dibuat dengan pakem tertentu. Sepasang pengantin ini di-blonyo, atau dicat dengan warna emas, diposisikan duduk bersila seperti halnya posisi arca Dewi Sri. Loro blonyo merupakan kelengkapan dari tempat tersakral dalam rumah tradisional Jawa, yaitu Senthong tengah. Senthong tengah ini juga biasa disebut pasren, tempat untuk Dewi Sri atau petanen,  tempat bagi para petani memanjatkan doa. Keberadaanya di dalam pasren juga menjadi simbolisasi dari pemilik rumah. Apabila kedudukan sosial sang suami lebih tinggi, maka loro blonyo laki-laki didudukkan di kanan, sementara apabila kedudukan sosial sang istri lebih tinggi, maka loro blonyo perempuan yang menempati sisi kanan.

Di sekeliling pasren tersebut diberi pembatas dengan menggunakan kain yang disebut dengan langse. Pada tempat tersebut biasanya diletakkan beberapa benda perlengkapan yang terdiri dari dipan (amben) dengan tiang pada ke-4 sudutnya, kasur, bantal, dan guling; pendaringan (tempat penyimpanan beras dari tanah liat); sepasang genuk, sepasang kendi, juplak (lampu minyak kelapa), sepasang paidon (tempat membuang ludah) yang terbuat dari kuningan, dan sepasang loro blonyo sebagai tanda penghormatan kepada Dewi Sri yang dipercaya sebagai simbol kesuburan dan kemakmuran. Semua perlengkaapan tersebut membentuk makna filosofis pasren. Pasren merupakan pengejawantahan dari gagasan, harapan, atau permohonan kemapanan, rumah sebagai tempat untuk menetap dan berkesinambungan keturunan (tersimbol lewat tempat tidur dan loro blonyo), yang didukung oleh kemakmuran yang berlimpah (tersimbol oleh kendi, klemuk berisi biji-bijian yang jumlahnya serba sepasang), yang bermuara pada unsur kesuburan dibawah naungan dewi Sri, lambang yang membawa kesejahteraan rumah tangga.

Pada perkembangannya, loro blonyo tidak hanya melambangkan tanda kehormatan kepada dewi Sri saja. Loro blonyo juga dipandang sebagai tempat tumuruning wiji, sehingga ditempatkan di dekat sepasang pengantin baru yang duduk bersandingan. Selain itu loro blonyo dipercaya dapat menjadi penolak bala. Sebagai penolak bala, kedua wajah boneka di blonyo putih, sementara badannya diblonyo kuning. Loro blonyo sekarang lebih difungsikan sebagai hiasan, yang dapat ditempatkan dimana saja di dalam rumah.

Ditulis oleh Rasty Wijayanti

Bedhaya Ketawang

PENARIBedhaya Ketawang dalam tradisi istana Jawa selalu dipilih dari para abdi bedhaya yang terbaik dan masih perawan. Keperawanan dalam ritual-ritual kraton merupakan suatu simbol kesucian. Bedhaya Ketawang sendiri merupakan tarian sakral yang khusus dipagelarkan pada hari jumeneng dan peringatan jumenengan raja Kasunanan Surakarta. Kostum para penari bedhaya ini merupakan kostum lengkap paes ageng yang dikenakan para pengantin putri raja sesuai dengan budaya kraton.

Dalam fungsi dan tingkat kesakralan, Bedhaya Ketawang terbilang “bersaudara kembar” dengan Bedhaya Semang di Kasultanan Yogyakarta. Hanya saja, jika Bedhaya Ketawang ditarikan sembilan penari perempuan, maka Bedhaya Semang ditarikan oleh 9 penari laki-laki. Bedhaya Semang adalah ciptaan Sultan Hamengkubuwana I sebagai salinan dari  Bedhaya Ketawang. Ini merupakan dampak dari Perjanjian Giyanti pada 1755 yang membagi dua  Mataram menjadi Surakarta dan Yogyakarta.

Induk Semua Tari
Dalam masyarakat Jawa, Bedhaya Ketawang dianggap sebagai tari sakral pusaka kraton yang menjadi induk bagi tari-tari bedhaya selanjutnya, bahkan tari-tarian lainya, sejak era Mataram Islam sampai dengan sekarang.

Bedhaya Ketawang melambangkan perlindungan Gusti Kanjeng Ratu Kidul, penguasa Laut Selatan, kepada Kerajaan Mataram. Pasalnya, secara turun temurun berkembang suatu keyakinan bahwa Bedhaya Ketawang adalah tari yang diciptakan oleh Gusti Kanjeng Ratu Kidul, sang penguasa Laut Selatan. Panembahan Senopati, raja pertama Mataram Islam, konon belajar tentang tata gerak Bedhaya Ketawang langsung kepada Ratu Kidul dalam pertemuan keduanya di Istana Ratu Kidul di Laut Selatan. Setelah itu, Ratu Kidul konon hadir ke Kraton Mataram setiap hari selama tiga bulan penuh untuk melatih para abdi bedhaya. Selanjutnya, dipercaya juga bahwa Ratu Kidul selalu hadir pada setiap Selasa Kliwon untuk melihat penampilan karya tari ciptaannya. Selasa Kliwon selanjutnya dikenal dengan nama anggara kasih, hari sakral pertemuan antara raja Mataram dengan GKR Kidul.

Konon, pada setiap Bedhaya Ketawang ditarikan, Ratu Kidul akan hadir dan ikut menari di hadapan raja. Legenda yang hidup dalam masyarakat Jawa mempercayai bahwa hanya raja dan orang-orang tertentu yang dapat melihat kehadiran sosok Ratu Kidul di antara pada penari Bedhaya Ketawang. Karena itu, mejelang dipergelarkannya tarian ini di hadapan raja, para penari harus menjalani serangkaian ritual yang disebut caos dahar. Ini adalah bentuk penghormatan dan memohon restu pada sang pencipta Bedhaya Ketawang, yaitu Ratu Kidul.

Ditulis oleh Rasti Wijayanti, Yoseph Kelik, dan Isti Yunaida

 Referensi

  • Dwiyanto, Djoko, Ensiklopedi Kraton Yogyakarta, Dinas Kebudayaan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Yogyakarta, 2009
  • Hermanu dkk., Serimpi, Bentara Budaya Yogyakarta, Yogyakarta, 2011