Category Archives: Budaya

1b. Gedong Songo (1)

Candi Gedongsongo


Lokasi: Desa Candi, Bandungan, Semarang, Jawa Tengah
Koordinat: 7° 13’ 36,000″ LS 110° 20’ 24,000″ BT
Ketinggian: 1318 dpl

Candi Gedongsongo merupakan kompleks candi yang tersusun mengelilingi lembah yang masih aktif di lereng Gunung Ungaran. Dari namanya, Candi Gedongsongo dapat diartikan gedung yang berjumlah sembilan, terbagi dalam 3 kelompok candi.

Candi Gedongsongo merupakan kompleks candi yang bersifat agama Hindu-Siwa dan tidak diketahui secara pasti kapan kompleks candi tersebut dibangun, Namun dari ciri arsitekturalnya (struktur dan ragam hias), Candi Gedongsongo diperkirakan dibangun pada abad ke-8, sedikit lebih muda dari Candi Dieng, yaitu pada masa kerajaan Mataram Kuno.

candi-gedongsongo

Sumber:
Candi Indonesia, Seri Jawa
Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman
Direktorat Jenderal Kebudayaan
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan – 2013

Foto: Ullen Sentalu

1a. Dieng (3)

Candi Dieng

 

Lokasi: Desa Dieng Kulon, Batur, Banjarnegara, Jawa Tengah
Koordinat: 7° 12’ 18,144″ LS 109° 54’ 24,552″ BT
Ketinggian: 2033 dpl

Candi Dieng merupakan kompleks candi yang bersifat agama Hindu-Siwa, berjumlah sekitar 8 candi yang diduga berasal dari abad 8-10 Masehi berdasarkan prasasti yang ditemukan di dalam kompleks candi berangka tahun 713 Saka atau 809 M. Namun ada dugaan candi-candi tersebut lebih tua usianya.

Candi-candi dalam kompleks Candi Dieng diberi nama tokoh pewayangan, yaitu: Candi Arjuna, Candi Semar, Candi Srikandi, Candi Puntadewa, Candi Sembadra, Candi Bima, Candi Dwarawati dan Candi Gatotkaca. Dari nama wayang diduga penamaan candi bukan nama asli candi-candi tersebut, karena adanya nama punawakan Semar yang bukan merupakan tokoh wayang asli tokoh Mahabarata India.

candi-dieng

Sumber:
Candi Indonesia, Seri Jawa
Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman
Direktorat Jenderal Kebudayaan
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan – 2013

Foto: Ullen Sentalu

Makam Imogiri

MAKAM Imogiri terletak di sebelah selatan kota Yogyakarta. Makam ini merupakan komplek pemakaman raja-raja Mataram. Makam ini ada sejak akhir masa pemerintahan Sultan Agung, sekitar pertengahan abad XVII.

Sebelum masa pemerintahan Sultan Agung, kerabat keraton Mataram yang meninggal dimakamkan disekitar istana Kotagede. Pada waktu itu, pembesar kerajaan belum memiliki gagasan untuk membangun sebuah kompleks pemakaman. Misalnya saja Panembahan Senopati, sebagai pendiri sekaligus perintis kerajaan Mataram, beliau terlalu sibuk berkutat dengan urusan politik dan pemerintahan, terutama dalam upaya memperluas daerah dan menegakkan hegemoni Kerajaan Mataram di Pulau Jawa.

Gagasan pembangunan komplek pemakaman baru muncul pada masa pemerintahan Sultan Agung, raja Mataram ketiga. Sebagai seorang raja yang mampu menguasai hampir seluruh Pulau Jawa pada masa itu, beliau berkeinginan agar kebesaran namanya tetap dikenang oleh rakyat Mataram dan generasi penerusnya. Karena itu, Sultan kemudian merealisasikan keinginannya dalam wujud pembangunan komplek pemakaman bagi penguasa Mataram dan penerusnya.

Sebelumnya, pada awal masa pemerintahannya, Sultan Agung sibuk dengan berbagai ekspedisi penaklukan. Sultan Agung akhirnya terpikir membangun pemakaman kerajaan yang megal setelah kegagalan pasukan Mataram menyerang pos dagang VOC di Batavia pada 1628 dan 1629. Dengan kegagalan tersebut, mata, pikiran, serta hati Sultan Agung menjadi terbuka bahwa perang yang selama ini dilakukan ternyata menimbulkan korban sangat besar. Jasad para korban yang telah ikut berjuang membela kerajaannya ternyata tidak mendapat perlakuan yang layak. Karena itu, Sultan kemudian  berkeinginan untuk membangun sebuah kompleks pemakaman bagi dirinya kelak beserta kerabat keluarganya.

Sultan Agung membangun makam Imogiri mulai 1630. Jika dilihat dari letak geografisnya, Imogiri berada di daerah perbukitan. Secara filosofis, pemilihan tempat yang tinggi adalah bagian konsep nirwana dalam budaya Hindu, yakni tempat tujuan akhir perjalanan manusia. Tempat yang tinggi juga merupakan tempat sakral karena merupakan tempat bersemayamnya para dewa. Karena itu, pembangunan makam di atas bukit atau gunung dipercaya akan memberikan nilai yang tinggi pula. Selain itu, Sultan Agung mengharapkan bahwa raja dan keturunannya yang meninggal akan tetap ditinggikan oleh rakyatnya, meskipun mereka telah tiada.

Sultan Agung menjadi raja Mataram pertama yang dimakamkan di komplek Makam Imogiri. Beliau dimakamkan di tingkat paling atas bernama Kasultanagungan. Setelah kerajaan Mataram terbagi dua menjadi Kasultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta melalui perjanjian Giyanti pada 1755, maka penataan Makam Imogiri juga mengalami perubahan. Terjadilah pemisahan area antara masing masing kerajaan tanpa mengilangkan bangunan yang sudah ada sebelumnya. Pada perkembangannya sekarang makam ini memiliki beberapa komplek, komplek Sultan Agung, komplek raja-raja Yogyakarta, dan komplek raja-raja Surakarta.

Makam Sultan Agung pada tingkat paling atas paling menyita perhatian. Untuk mencapai bangunan makam ini, para peziarah harus mendaki anak tangga. Anak tangga inti sebanyak 337 dihitung dari area parkir sampai dengan di pelataranpersimpangan ke arah komplek raja-raja Yogyakarta dan komplek raja-raja Surakarta.  Arah kiri atau ke barat dari persimpangan merupakan komplek pemakaman raja-raja Surakarta, sedangkan arah kanan  atau ke timur merupakan komplek pemakaman raja-raja Yogyakarta. Jika memilih lurus dan menaiki 103 anak tangga lagi, peziarah akan mencapai makam Sultan Agung.

Di makam Sultan Agung, peziarah wajib untuk mengikuti peraturan yang ada. Hal ini dimaksudkan agar kesucian makam tetap terjaga sehingga pengunjung dapat melakukan ziarah dengan baik. Diantara peraturan yang wajib dipatuhi selama di sana adalah mengenai aturan tata cara berbusana. Para peziarah yang datang diwajibkan mengenakan busana adat Jawa. Bagi pria, busana wang wajib dikenakan adalah surjan dan kain batik, sedangkan untuk wanita mengenakan kain batik serta kemben (kain penutup dada), tanpa mengenakan baju kebaya ataupun perhiasan, serta diwajibkan menata rambut dengan cara gelung tekuk (riasan rambut berupa rambut yang digulung tanpa riasan maupun konde).

Jadwal kunjungan makam Imogiri , untuk makam Kasultanagungan buka setiap hari senin dan minggu jam 10.00 – 12.00, Jumat jam 13.30 – 15.30. Komplek Kasultanan Yogyakarta buka setiap hari jam 10.00 – 12.00,jumat jam 13.30 – 16.00. Komplek Kasunanan Surakarta buka setiap hari senin sampai sabtu jam 10.00 – 12.00,jumat jam 13.30 – 15.30.

Ditulis oleh Rasti Wijayanti Nugraheni

Taman Kaswargan

TAMAN Kaswargan terletak di sisi barat daya dari daerah Kaliurang. Di dalamnya ada komplek Museum Ullen Sentalu, butik dan toko suvenir MUSE, restoran Beukenhof, juga rumah peristirahatan keluarga Haryono.

Kaswargan adalah satu istilah dalam kekayaan kosakata bahasa Jawa dengan kata swarga sebagai intinya. Swarga dalam bahasa Indonesia sama artinya dengan surga atau firdaus, sedangkan dalam bahasa Inggris ia sepadan dengan paradise.

Kaswargan pada Taman Kaswargan pada dasarnya adalah toponimi untuk menyebut dan sekaligus melukiskan suatu tempat  yang memancarkan kualitas layaknya surga, baik dalam hal suasana maupun secara panorama.

Secara suasana, Taman Kaswargan diberkahi oleh aura berwibawa milik Gunung Merapi, yang menyediakan lerengnya untuk menampung Taman Kaswargan. Dalam budaya klasik , gunung sebagai tempat tinggi dipercaya sebagai kediaman dewa-dewi. Lalu, menurut filosofi Jawa, Gunung Merapi diyakini sebagai rumah dari Kyai Sapu Jagat, yang memiliki kemampuan membersihkan jagat raya. Menurut filosofi ala Kraton Yogyaka, Merapi adalah pula satu dari tempat yang dihubungkan dengan poros imajiner bersama dengan Tugu Pal Putih, komplek Kraton Yogyakarta, banguan Panggung Krapyak, serta Pantai Selatan.

Dalam hal panorama, Taman Kaswargan  memang permai, sebagaimana tercermin dari nama yang disandangnya. Taman Kaswargan terletak di ketinggian 878 meter di atas permukaan laut. Alam pegunungan yang melingkupi Taman Kaswargan menghadirkan atmosfer elok yang didominasi hijau serta temaram kabut.

Di seputaran Taman Kaswargan, keindahan milik alam yang hening berpadu dengan kekuatan Gunung Merapi yang menggentarkan secara vulkanik maupun filosofis. Ini merupakan manifestasi absolut dari suatu mimpi untuk menghadirkan suatu  paduan penuh harmoni akan dimensi khayal dari kekayaan warisan kebudayaan Jawa.

Taman Kaswargan dibangun secara sabar dan bertahap sejak sekitar 1985. Dalam kurun hampir 20 tahun tersebut, metamorfosis Taman Kaswargan antara lain ditandai dengan pembangunan area Gua Selagiri serta Kampung Kambang pada 1995 sampai dengan 1997 sebagai persiapan pengoperasian Museum Ullen Sentalu, pembangunan Restoran Beukenhof dan Galeri Latihan Menari pada 2001, pengoperasian Ruang Putri Dambaan mulai 2002 dengan peresmian oleh GRAy Siti Nurul Kamaril Ngasarati Kusumawardhani, pembangunan Ruang Budaya pada 2007, serta pengoperasian Selasar Retja Landa sebagai area pamer arca-arca klasik Hindu-Budha mulai 2008, serta pembangunan butik MUSE pada 2009.  Lalu, sejak 2012 dan sepanjang 2013 berlangsung kegiatan pembangunan mengubah area Pagelaran Sekar Jagat di pojok barat menjadi tribun dan lobi utama yang berhiaskan relief ala candi. Berbarengan dengan itu ada proses memersiapkan  kelahiran Ruang Pamer Indies.

Namun, semua aktivitas tadi tak selalu menggelinding mulus. Bertetangga dekat dengan gunung berapi dengan tingkat keaktifan tinggi seperti Merapi memiliki konsekuensi. Tercatat dua kali sudah segala aktivitas dalam komplek Taman Kaswargan mesti berhenti sama sekali selama sekitar tiga bulan ketika Merapi sedang menggelegak dan bererupsi. Masing-masing terjadi pada 2006 dan 2010.

Hanya saja, selalu harus disyukuri bahwa Taman Kaswargan tetap dapat tumbuh menjadi suatu paduan antara karya dan kemurnian alam. Taman Kaswargan pun menjadi pernaungan nDalem Kaswargan, yang merupakan kesatuan tak terpisahkan dari Museum Ullen Sentalu sebagai wadah misi budaya.  Tatanan karya dan alam tumbuh melalui konsep konservatoris, tetap membiarkan keperawanan alam sebagai pelingkup paparan taman dengan kontur alam tak rata dan memiliki karya-arya arsitektur yang tumbuh sesuai konsep art and nature.

Ditulis oleh KMAT Y Meganingrat dan Yoseph Kelik

Loro Blonyo

MASYARAKAT Jawa adalah masyarakat agraris yang menggantungkan hidup pada aktivitas bercocok tanam, terutama tanaman padi. Tradisi bertani ini telah berkembang sejak lama, termasuk pada era kebudayaan Hindu Budha di Jawa. Pengaruh Hindu Budha tidak mengubah tradisi bercocok tanam asli yang berkembang secara lokal sebelumnya, tetapi memperbaikinya terutama dibidang teknologi pengairan.

Konsep kesuburan pada masa prasejarah diwujudkan dengan perlambangan benda-benda alam. Air merupakan lambang kesuburan yang utama. Konsep kesuburan ini  berkembang menjadi konsep Dewi Ibu. Dewi ibu ini dianggap sebagai tokoh yang memberikan kehidupan, asal mula dari segala kesuburan bagi seluruh mahluk hidup di bumi. Masyarakat Jawa kuna mengenal tokoh Dewi Sri yang kemudian disebut sebagai dewi kesuburan.

Pemahaman konsep dewi ibu dalam masyarakat Jawa mengalami perubahan yang signifikan ketika agama Islam masuk dan berkembang. Islam pada dasarnya melarang adanya kepercayaan terhadap dewa dan dewi, sehingga tidak mengenal konsep dewi ibu. Hal ini membuat pemahaman akan konsep kesuburan yang sudah mengakar  pada pikiran masyarakat Jawa tetap menghadirkan tokoh tersebut dalam bentuk lain, yaitu loro blonyo. Loro blonyo ini meskipun tidak dipuja seperti dewa dan dewi, tetapi tetap mendapat kehormatan dalam masyarakat Jawa.

Loro Blonyo merupakan arca tiruan sepasang pengantin, terbuat dari kayu, tanah liat, atau batu. Secara etimologi, loro berarti “dua” dan blonyo berarti dilumuri (dilulur) warna emas. Loro Blonyo ini merupakan perlambangan tokoh Dewi Sri dan Dewa Sadana. Loro Blonyo muncul dalam masyarakat Jawa sebagai kesinambungan kepercayaan terhadap konsep kesuburan, khususnya di bidang pertanian.

Mitologi Sri-Sadana dalam masyarakat Jawa memiliki beberapa versi. Jessup menceritakan bahwa Sri-Sadana merupakan anak kembar dari Nagaraja. Setelah dewasa Sadana menikahi Sri. Karena perbuatan tercela tersebut, Bathara Guru mengutuk mereka berdua. Sri-Sadana akhirnya mati. Tubuh Sri jatuh ke bumi, kemudian disembah sebagai kesuburan. Pada hari ketujuh setelah kematiannya, di atas makam Sri tumbuh tanaman padi. Sementara Cohen menceritakan dalam kisah Wayang Dampoe Awang. Sri merupakan seorang putri yang menetas dari sebuah telur yang keluar dari air mata Hyang Antaboga. Sebutir lainnya menetas menjadi Sadana. Kelak pada saat Sri meninggal, dari jenasahnya muncul tumbuh-tumbuhan. Dari giginya tumbuh tanaman jagung, dari kemaluannya tumbuh tanaman padi, dari kepalanya tumbuh tanaman kelapa, dan dari pusarnya tumbuh tanaman aren. Sementara dari jenasah Sadana, muncul logam dan permata.

Loro Blonyo merupakan hasil kebudayaan Islam yang juga merupakan perwujudan sinkretisme Hindu-Islam. Konsep kesuburan menempatkan peristiwa bertemunya sperma dan ovum sebagai kesuburan tertinggi karena dapat melahirkan keturunan baru. Hal ini diibaratkan sebagai tanah yang bertemu dengan air. Konsep ini juga berlangsung hingga masa Islam dalam bentuk baru, karena dalam aturan Islam seorang laki-laki dan perempuan diperbolehkan bersetubuh setelah menjalin hubungan pernikahan.

Awalnya loro blonyo dibuat dengan pakem tertentu. Sepasang pengantin ini di-blonyo, atau dicat dengan warna emas, diposisikan duduk bersila seperti halnya posisi arca Dewi Sri. Loro blonyo merupakan kelengkapan dari tempat tersakral dalam rumah tradisional Jawa, yaitu Senthong tengah. Senthong tengah ini juga biasa disebut pasren, tempat untuk Dewi Sri atau petanen,  tempat bagi para petani memanjatkan doa. Keberadaanya di dalam pasren juga menjadi simbolisasi dari pemilik rumah. Apabila kedudukan sosial sang suami lebih tinggi, maka loro blonyo laki-laki didudukkan di kanan, sementara apabila kedudukan sosial sang istri lebih tinggi, maka loro blonyo perempuan yang menempati sisi kanan.

Di sekeliling pasren tersebut diberi pembatas dengan menggunakan kain yang disebut dengan langse. Pada tempat tersebut biasanya diletakkan beberapa benda perlengkapan yang terdiri dari dipan (amben) dengan tiang pada ke-4 sudutnya, kasur, bantal, dan guling; pendaringan (tempat penyimpanan beras dari tanah liat); sepasang genuk, sepasang kendi, juplak (lampu minyak kelapa), sepasang paidon (tempat membuang ludah) yang terbuat dari kuningan, dan sepasang loro blonyo sebagai tanda penghormatan kepada Dewi Sri yang dipercaya sebagai simbol kesuburan dan kemakmuran. Semua perlengkaapan tersebut membentuk makna filosofis pasren. Pasren merupakan pengejawantahan dari gagasan, harapan, atau permohonan kemapanan, rumah sebagai tempat untuk menetap dan berkesinambungan keturunan (tersimbol lewat tempat tidur dan loro blonyo), yang didukung oleh kemakmuran yang berlimpah (tersimbol oleh kendi, klemuk berisi biji-bijian yang jumlahnya serba sepasang), yang bermuara pada unsur kesuburan dibawah naungan dewi Sri, lambang yang membawa kesejahteraan rumah tangga.

Pada perkembangannya, loro blonyo tidak hanya melambangkan tanda kehormatan kepada dewi Sri saja. Loro blonyo juga dipandang sebagai tempat tumuruning wiji, sehingga ditempatkan di dekat sepasang pengantin baru yang duduk bersandingan. Selain itu loro blonyo dipercaya dapat menjadi penolak bala. Sebagai penolak bala, kedua wajah boneka di blonyo putih, sementara badannya diblonyo kuning. Loro blonyo sekarang lebih difungsikan sebagai hiasan, yang dapat ditempatkan dimana saja di dalam rumah.

Ditulis oleh Rasty Wijayanti

Bedhaya Ketawang

PENARIBedhaya Ketawang dalam tradisi istana Jawa selalu dipilih dari para abdi bedhaya yang terbaik dan masih perawan. Keperawanan dalam ritual-ritual kraton merupakan suatu simbol kesucian. Bedhaya Ketawang sendiri merupakan tarian sakral yang khusus dipagelarkan pada hari jumeneng dan peringatan jumenengan raja Kasunanan Surakarta. Kostum para penari bedhaya ini merupakan kostum lengkap paes ageng yang dikenakan para pengantin putri raja sesuai dengan budaya kraton.

Dalam fungsi dan tingkat kesakralan, Bedhaya Ketawang terbilang “bersaudara kembar” dengan Bedhaya Semang di Kasultanan Yogyakarta. Hanya saja, jika Bedhaya Ketawang ditarikan sembilan penari perempuan, maka Bedhaya Semang ditarikan oleh 9 penari laki-laki. Bedhaya Semang adalah ciptaan Sultan Hamengkubuwana I sebagai salinan dari  Bedhaya Ketawang. Ini merupakan dampak dari Perjanjian Giyanti pada 1755 yang membagi dua  Mataram menjadi Surakarta dan Yogyakarta.

Induk Semua Tari
Dalam masyarakat Jawa, Bedhaya Ketawang dianggap sebagai tari sakral pusaka kraton yang menjadi induk bagi tari-tari bedhaya selanjutnya, bahkan tari-tarian lainya, sejak era Mataram Islam sampai dengan sekarang.

Bedhaya Ketawang melambangkan perlindungan Gusti Kanjeng Ratu Kidul, penguasa Laut Selatan, kepada Kerajaan Mataram. Pasalnya, secara turun temurun berkembang suatu keyakinan bahwa Bedhaya Ketawang adalah tari yang diciptakan oleh Gusti Kanjeng Ratu Kidul, sang penguasa Laut Selatan. Panembahan Senopati, raja pertama Mataram Islam, konon belajar tentang tata gerak Bedhaya Ketawang langsung kepada Ratu Kidul dalam pertemuan keduanya di Istana Ratu Kidul di Laut Selatan. Setelah itu, Ratu Kidul konon hadir ke Kraton Mataram setiap hari selama tiga bulan penuh untuk melatih para abdi bedhaya. Selanjutnya, dipercaya juga bahwa Ratu Kidul selalu hadir pada setiap Selasa Kliwon untuk melihat penampilan karya tari ciptaannya. Selasa Kliwon selanjutnya dikenal dengan nama anggara kasih, hari sakral pertemuan antara raja Mataram dengan GKR Kidul.

Konon, pada setiap Bedhaya Ketawang ditarikan, Ratu Kidul akan hadir dan ikut menari di hadapan raja. Legenda yang hidup dalam masyarakat Jawa mempercayai bahwa hanya raja dan orang-orang tertentu yang dapat melihat kehadiran sosok Ratu Kidul di antara pada penari Bedhaya Ketawang. Karena itu, mejelang dipergelarkannya tarian ini di hadapan raja, para penari harus menjalani serangkaian ritual yang disebut caos dahar. Ini adalah bentuk penghormatan dan memohon restu pada sang pencipta Bedhaya Ketawang, yaitu Ratu Kidul.

Ditulis oleh Rasti Wijayanti, Yoseph Kelik, dan Isti Yunaida

 Referensi

  • Dwiyanto, Djoko, Ensiklopedi Kraton Yogyakarta, Dinas Kebudayaan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Yogyakarta, 2009
  • Hermanu dkk., Serimpi, Bentara Budaya Yogyakarta, Yogyakarta, 2011