Cerita Panji dalam Kepurbakalan Indonesia (Bagian 5 dari serial artikel seputar lakon Panji)

Cerita Panji dalam Kepurbakalan Indonesia (Bagian 5 dari serial artikel seputar lakon Panji)

Keberadaan Cerita Panji dalam bentuk karya sastra masih dapat disaksikan hingga saat ini melalui beberapa temuan relief maupun arca yang melukiskan adanya tokoh panji. Hal itu lebih didasarkan pada keadaan data yang bertahan hingga kini, terutama data yang bersifat artefaktual (material culture).

Data relief candi yang berasal dari abad ke-13—15 M masih relatif banyak dijumpai, tersebar pada beberapa candi yang berlokasi di Jawa Timur. Cerita Panji dipahatkan di 7 kepurbakalaan, yaitu candi Jawi, Pendopo Teras II Panataran, Surawana, Miri Gambar, serta 3 punden berundak di Gunung Penanggungan.

Tokoh panji pertama kali diidentifikasikan dengan penciri utama berupa figur pria digambarkan mengenakan tutup kepala yang disebut tekes, badan bagian atas digambarkan tidak mengenakan pakaian, sedangkan bagian bawahnya digambarkan memakai kain yang dilipat-lipat hingga menutupi paha. Jika berpegangan pada tolok ukur bahwa tokoh Panji selalu digambarkan bertopi tekes, maka akan banyak tokoh Panji yang dijumpai dalam relief-relief candi jawa Timur.
Relief cerita Panji yang dapat diketahui secara pasti hanyalah terdapat pada beberapa candi saja dalam masa Majapahit. Penggambaran relief tokoh Panji yang dikenal dalam cerita Panji pada satu panil relief dari daerah Gambyok, Kediri yang nyata-nyata menggambarkan tokoh Panji beserta para pengiringnya. Penggambaran relief Panji di Gambyok tersebut menurut Poerbatjaraka sesuai dengan salah satu episode kisah Panji Semirang, yaitu saat Panji bertemu dengan kekasihnya yang pertama, Martalangu, di dalam hutan.

Pada panil relief Panji Gambyok digambarkan adanya tokoh pria bertopi tekes yang sedang duduk di bagian depan kereta, tokoh itu tidak lain ialah Panji. Sementara tokoh yang duduk si hadapannya di atas tanah ialah Prasanta. Tokoh paling depan di antara empat orang yang berdiri ialah Pangeran Anom, di belakangnya ialah Brajanata, saudara Panji berlainan ibu. la digambarkan tinggi besar dengan rambutnya yang keriting tapi dibentuk seperti tekes. Dua tokoh berikutnya adalah para kudeyan yaitu, Punta dan Kertala. Dalam relief digambarkan bahwa keretanya belum dilengkapi kuda, karena sesuai dengan cerita bahwa mereka baru merencanakan akan membawa Martalangu ke kota malam itu. Sementara sikap kedinginan yang ditunjukkan oleh para tokoh adalah sesuai juga dengan cerita, yaitu mereka berada di luar saat malam yang dingin.

Dengan berpatokan pada penggambaran adegan relief tersebut dapatlah ditentukan bahwa, suatu panil relief yang menggambarkan cerita Panji jika dalam panil tersebut:
1.Terdapat tokoh pria yang bertopi tekes, mengenakan kain sebatas lutut atau lebih rendah lagi menutupi tungkainya dan kadang membawa keris di bagian belakang pinggangnya. Tokoh tersebut ialah Raden Panji.
2.Tokoh selalu disertai pengiring berjumlah 1, 2, atau lebih dari dua. Para pengiring tersebut ialah saudara atau teman Panji. Biasanya ada di antara para pengiring ada yang berperawakan tinggi besar dengan rambut keriting, dialah Brajanata atau berperawakan lucu, pendek, gemuk, dengan rambut dikuncir ke atas dialah Prasanta.
Selain dalam bentuk relief, penggambaran Panji juga dijumpai dalam bentuk arca perwujudan tiga dimensi. Salah satu arca Panji masih dijumpai dari Candi Selakelir di lereng barat laut Gunung Penanggungan. Arca tersebut berukuran 1, 5 mter dalam sikap berdiri, kedua tangannya berada di samping tubuh, mengenakan tekes dan selain juga kalung, upawita dari kain yang menjuntai hingga paha, serta sarung yang mencapai punggung telapak kaki.

Bentuk arca seperti ini mengingatkan pada arca-arca perwujudan dari masa Majapahit akhir lainnya. Misalnya adalah arca Siwa dari Mojokerto, tinggi 84,5 cm, yang sekarang tersimpan di Museum Nasional Jakartan. Arca-arca tersebut memang lebih berkesan static/kaku, mengingatkan pada tubuh orang yang telah meninggal. Menurut Van Romondt, sangat mungkin arca-arca tersebut sebenarnya merupakan arca peringatan bagi leluhur yang telah wafat dan dianggap telah bersatu dengan dewanya.

Berdasarkan data yang ada dapatlah diketahui bahwa penggambaran tojoh Panji dalam bentuk relief atau arca baru muncul ketika Majapahit telah melewati masa kejayaannya, yaitu dalam abad 14 M. Penampilan tokoh tersebut dalam relief sangat mungkin dipengaruhi oleh figur-figur ksatrya yang telah dipahatkan sebelumnya, seperti Sidapaksa dan Sang Satyawan. Tokoh-tokoh itu digambarkan bertopi tekes, dengan pakaian sederhana tidak seperti tokoh-tokoh ksatrya dalam cerita epos India yang berpakaian lebih raya. Walaupun penggambaran Panji dalam bentuk relief hampir mirip dengan tokoh ksatrya, namun cerita Panji mempunyai ciri utama dalam pemahatannya, yaitu selalu hadirnya tokoh-tokoh pengiring, dan hal ini sesuai dengan jalan ceritanya.

Oleh Divisi Riset Museum Ullen Sentalu

 

Pentingnya Memelihara dan Mengembangkan Lakon Panji (Bagian 4 dari serial artikel seputar lakon Panji)

Pentingnya Memelihara dan Mengembangkan Lakon Panji (Bagian 4 dari serial artikel seputar lakon Panji)

Menyoal tentang cerita Panji, sejumlah pertanyaan pantas untuk diajukan. Sejauh mana lakon tersebut pada masa kini memiliki arti penting sebagai bagian aset budaya Indonesia? Seperti apa juga kah nasib cerita Panji ke depannya, makin terpinggirkan oleh cerita-cerita yang lebih modern dan lebih populer, ataukah justru dapat kembali mekar dan menarik perharian khalayak ramai?

Lakon Panji yang merupakan lakon asli Jawa dan Nusantara sejatinya tidaklah kalah dari epos-epos berakar budaya India seperti Mahabharata maupun Ramayana. Faktor keaslian dan mutu cerita yang tingginya semestinya memberi cukup alasan bagi masyarakat Jawa dan Indonesia saat ini untuk terus memelihara serta mengembangkan lakon Panji. Melalui kontribusi positif semacam itu budaya bangsa tentunya terjamin kekokohannya. Lakon Panji pun dapat dijadikan identitas dan ikon epos asli yang berasal dari Indonesia. Lebih baik jika itu dikenal luas sampai ke mancanegara. Dengan begitu, dapatlah diminimalisasi atau malah dihindarkan sama sekali adanya pengalaman buruk yang telah beberapa kali terjadi manakala hasil budaya bangsa ini diklaim oleh negara tetangga.

Apa lagi, banyak peneliti mancanegara telah melakukan riset maupun menuliskan artikel-artikel ilmiah mengenai lakon Panji. Mereka itu antara lain W.H. Rassers yang menulis buku Panji, The Cultural Hero: As Structural Study of Religion in Java; A.Teeuw yang meneliti cerita Panji Syair Ken Tambunan; S.O. Robson yang menulis buku Wangbang Wideya: A Javanese Panji Romance; J.J. Ras yang menulis The Panji Romance and W.H. Rassers Analysis of Its Theme; serta Lidya Kieven yang menuliskan disertasinya yang berjudul Following the Cap-Figure in Majapahit Temple Reliefs.

Memang ada juga orang Indonesia yang meneliti serta menelaah lakon Panji. Contohnya adalah R.M. Poerbatjaraka yang berpendapat bahwa cerita Panji merupakan suatu bentuk revolusi kesusastraan terhadap tradisi India. Menurutnya, lakon Panji berawal dari zaman keemasan Majapahit dan ditulis dalam bahasa Jawa Tengahan.

Namun, Poerbatjaraka berpendapat juga bahwa embrio lakon Panji muncul dalam sastra kuno Jawa sejak abad VII. Lakon Panji diduga berasal dari kakawin Smaradahana karya Mpu Dharmaja dari Jaman Kadiri. Pada bagian akhir kakawin ini diceritakan tentang kisah perkawinan Kamerwara dari Madyadesa (Kadiri) dengan Putri Kirana dari Wajradrawa (Janggala). Penyebaran lakon Panji setelah itu kemudian berlangsung melalui penyalinan dalam bahasa Jawa Tengahan dan Bahasa Melayu.

Oleh Divisi Riset Museum Ullen Sentalu

Penyebaran Cerita Panji (Bagian 3 dari serial artikel seputar lakon Panji)

Penyebaran Cerita Panji (Bagian 3 dari serial artikel seputar lakon Panji)

Sebagai suatu karya sastra yang berkembang dalam masa Jawa Timur Klasik, kisah Panji telah cukup mendapat perhatian para ahli. Cohen Stuart pada 1853 telah membicarakannya dari segi kesusasteraannya. Roorda pada 1869 telah mengulasnya dari segi kisah yang mandiri Poerbatjaraka pada 1968 telah membandingkannya dengan berbagai macam cerita Panji yang telah dikenal.

Menurut C.C.Berg pada 1928, masa penyebaran lakon Panji di Nusantara berkisar antara tahun 1277 M (Pamalayu) hingga ± 1400 M. Ditambahkannya bahwa tentunya telah ada cerita Panji dalam bahasa Jawa Kuno dalam masa sebelumnya, kemudian cerita tersebut disalin dalam bahasa Jawa Tengahan dan Bahasa Melayu. Berg selanjutnya berpendapat bahwa cerita Panji mungkin telah populer di kalangan istana raja-raja Jawa Timur. Namun, cerita itu terdesak oleh derasnya pengaruh Hinduisme yang datang kemudian. Dalam masa selanjutnya cerita tersebut dapat berkembang dengan bebas dalam lingkungan istana-istana Bali.

R.M.Ng. Poerbatjaraka membantah pendapat Berg tersebut. Ia justru berpandangan bahwa cerita Panji merupakan suatu bentuk revolusi kesusastraan terhadap tradisi lama yang berasal dari India. Poerbatjaraka juga menyetujui pendapat W.F.Stutterheim bahwa relief tokoh Panji dan para pengiringnya yang diketemukan di daerah Gambyok, Kediri, dibuat sekitar tahun 1400 M. Akhirnya Poerbatjaraka menyimpulkan bahwa mula timbulnya cerita Panji terjadi dalam zaman keemasan Majapahit, atau dalam masa akhir kejayaan kerajaan tersebut, dengan penulisan dalam Bahasa Jawa Tengahan.

Penyebaran lakon Panji ke Luar Jawa terjadi dalam masa yang lebih kemudian lagi dengan cara penuturan lisan. Dalam perkembangan selanjutnya cerita tersebut ditulis dengan huruf Arab-Melayu. Dalam bentuk naskah Arab-Melayu itulah lakon Panji diperkenalkan ke wilayah Asia Tenggara Daratan. Alhasil, lakon Panji kini tersebar ke daerah di Nusantara meliputi seluruh Jawa dan Bali, Nusa Tenggara, dan berbagai daerah Sumatra, juga hingga menyebar ke negara lain di Asia Tenggara meliputi Thailand, Kamboja, dan Myanmar.

Cerita Panji berkembang melalui berbagai aspek kehidupan dan bentuk seni seperti seni tari, sastra, teater, wayang, seni lukis, dan seni pahat. Meski terdiri dari berbagai versi, sebagai hasil interaksi dengan lingkungan kebudayaan yamg menjadi habitatnya, inti cerita Panji selalu bercerita tentang kehidupan tokoh Raden Panji (Panji Asmorobangun) dari Kerajaan Jenggala dan Putri Candrakirana (Dewi Sekartaji) dari Kerajaan Daha atau Kediri. Raden Panji dianggap sebagai titisan Dewa Wisnu, sedang Dewi Sekartaji sebagai titisan dari Dewi Sri. Penyatuan Panji dan Sekartaji, sebagai bentuk penyatuan pria dan wanita yang menghasilkan kesuburan atau keturunan,dijadikan simbol kesuburan padi.

Dalam kesusastraan Melayu Lama, berbagai versi lakon Panji yang dikenal yaitu Hikayat Jaran Panji Asmaradana, Hikayat Anom Mataram, Hikayat Mesa Gimang, Hikayat Panji Kuda Semirang, dan Hikayat Panji Semirang. Di Bali, lakon Panji dikenal dengan Cerita Malat dan di Palembang dikenal dengan cerita Panji Anggraeni.

Di Jawa sebagai tempat munculnya cerita Panji juga dijumpainya berbagai versi cerita panji sejak masa bahasa Jawa Tengahan. Ini bisa dilihat dari keberadaan naksah-naskah seperti Wangbang Wideya dan Panji Angreni. Dalam bahasa Jawa baru, pujangga Kraton Surakarta,Ronggowarsito, ikut menghasilkan versi gubahannya yang berjudul Panji Jayeng Tilam.

Variasi versi cerita Panji juga mempengaruhi penamaan tokoh-tokoh di dalamnya. Contohnya penyebutan tokoh utama dalam lakon Panji ala Kamboja disebut Eynao. Beda lagi dalam Panji versi Thailand, tokoh utamanya disebut Dalang dan Ari Negara. Walaupun terjadi variasi penyebutan tokoh maupun negara-negera dalam dalam cerita Panji, namun cerita panji tersebut ternyata juga mempunyai pola plot yang sama. Ada pula kemiripan latar negara asal para tokoh yang diceritakan, yaitu Kerajaan Koripan (Kahuripan), Jenggala, Gegelang, Daha (Kediri), Mamenang, Urawan, dan Singasari.
Pola plot cerita intinya berawal dari kisah percintaan putra raja dengan putri raja dari negara yang berbeda yang kemudian dipisahkan. Mereka kemudian berkelana untuk mencari pasangannya. Dalam pengelanaan, mereka melakukan penyamaran. Ketika akhirnya mereka bertemu, penyatuan paripurna mereka ditandai dengan perkawinan.

Oleh Divisi Riset Museum Ullen Sentalu

 

Alun-alun

Alun-alun

Alun-alun pada dasarnya adalah lapangan besar di tengah kota yang bisa dijumpai hampir di semua kota di Jawa. Alun-alun telah ada sejak masa prakolonial, yaitu pada masa Majapahit sampai Mataram Islam (abad XIII sampai dengan XVIII). Pada periode itu, alun-alun merupakan bagian dari kompleks kraton. Keberadaannya tak jauh-jauh dari urusan simbol legitimasi maupun menjadi prasarana raja memamerkan kekuasaannya

Menurut Mpu Prapanca dalam kitab Nagarakretama, Majapahit memiliki dua alun-alun yang fungsinya pun berlainan. Lapangan Bubat di luar ibukota difungsikan untuk acara-acara profan atau duniawi antara lain untuk pesta rakyat serta tempat berkemah tamu-tamu negara. Lapangan lain yang bernama Waguntur lebih sakral. Lapangan tersebut terletak di dalam pura Raja Majapahit dan digunakan untuk upacara penobatan atau resepsi kenegaraan.

Kerajaan-kerajaan Jawa pasca Majapahit meneruskan keberadaan alun-alun. Kraton Yogyakarta dan Surakarta yang masih eksis sampai sekarang contohnya sama-sama memiliki 2 alun-alun, yaitu Alun-alun Lor di sebelah utara kraton dan Alun-alun Kidul di sebelah selatan kraton. Baik Alun-alun Lor dan Kidul pada dasarnya adalah ruang terbuka berbentuk segi empat.

Di tengah-tengah Alun-alun Lor maupun Kidul ada sepasang pohon beringin yang masing-masing berpagar segi empat. Orang Jawa menyebutkan “waringin kurung”. Nama waringin berasal dari dua suku kata: “wri” yang berasal dari kata “wruh” dan berarti “mengetahui”, lalu “ngin” yang berarti “berpikir” (Pigeaud,1940:180). Gabungan dua kata tersebut pada dasarnya melambangkan manusia yang arif bijaksana. Pohon beringin sendiri melambangkan langit. Kapling tanah berbentuk segi empat dan berpagar melambangkan bumi. Dengan begitu, pohon beringin kurung itu secara keseluruhan melambangkan kesatuan dan harmoni antara manusia dengan alam semesta.

Alun-alun Lor Yogyakarta pada masa lalu berbentuk ruang luar segi empat berukuran 300 x 265 meter. Selain terdapat sepasang pohon beringin kurung di tengah-tengahnya, Alun-alun Lor dikelilingi oleh 64 pohon beringin. Dulunya, permukaan alun-alun tidak berumput. Yang justru ada ialah hampara pasir halus.

alun-alun

(Sumber: Behrens, 1982:4)
Gb.1. Gambar diatas adalah keadaan alun-alun Kraton kasultanan Yogyakarta pada th. 1775.

Alun-alun utara di zaman Mataram juga digunakan oleh rakyat biasa untuk menghadap langsung kepada raja, guna meminta keputusan atau sesuatu kasus atau perselisihan. Ketika melakukannya, orang harus memakai pakaian dan penutup kepala putih. Ia wajib pula duduk menunggu di antara kedua pohon beringin sampai diperbolehkan menghadap raja. Perbuatan demikian ini disebut “pepe”.

Selain itu, alun-alun utara semasa itu juga menjadi lokasi dilangsungkannya sodoran. Itu adalah suatu olahraga ketangkasan ala para ksatria Jawa masa itu. Para penunggang kuda bersenjata tombak berujung tumpul saling serang dan mencoba menyodok lawan tandingnya hingga jatuh.

Di sebelah barat alun-alun terdapat sebuah bangunan penting yakni masjid agung, yang biasa juga disebut masjid gedhe. Di halaman mesjid tersebut terdapat dua buah bangsal terbuka untuk memainkan dua buah perlengkapan gamelan. Yang satu disebut “Kyai Sekati” dan yang lain disebut “Nyai Sekati”. Keduanya dimainkan bergantian hanya pada 3 upacara keagamaan, yaitu: Garebeg Maulud, Garebeg Sawal dan Garebeg Besar.

Sumber:
Alun-Alun sebagai Identitas Kota Jawa, Dulu dan Sekarang oleh Handinoto Staf Pengajar Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Jurusan Arsitektur Universitas Kristen Petra

Ketika Orang Jawa Berhenti Menulis dan Memelihara Buku

Ketika Orang Jawa Berhenti Menulis dan Memelihara Buku

LEWAT buku, ingatan dan pengetahuan dicatat dan dimungkinkan untuk lebih mudah tersebar. Dalam perihal menuliskan buku, masyarakat Jawa melakukannya sejak medio abad IX, ditandai dengan penyaduran terhadap kisah epos Ramayana dari India. Hal ini kurang lebih beriringan dengan masa pembangunan Candi Borobudur dan Prambanan.

Kepiawaian para pujangga istana kerajaan-kerajaan zaman Jawa Kuno membuat penulisan karya sastra maupun kronik terus berjalan dalam abad-abad selanjutnya. Secara isi, karya yang ditulis berkembang, tak lagi saduran apa adanya dari kisah-kisah dari India. Pujangga-pujangga Jawa mengolah lagi banyak kisah dari India menurut kreativitasnya sehingga menghasilkan versi baru yang telah disesuaikan dengan seting maupun alam berpikir Jawa. Para pujangga Jawa juga mengangkat kisah-kisah asli yang bersumber dari dalam masyarakat Jawa sendiri. Mereka juga menciptakan format penulisan khas Jawa berupa kakawin dan kidung.

Era Kerajaan Kediri dan era Kerajaan Majapahit adalah dua periode emas emas penulisan buku di Jawa pada masa lalu. Itu karena dua era tadi memang menghasilkan begitu banyak karya sastra dan kronik. Bharatayudha,Hariwangsa, Gatokacasraya, Krisnayana, Smaradahana, dan Sumanasantaka merupakan sederet karya yang dihasilkan semasa Kerajaan Kediri. Nagarakrtagama, Sutasoma, Arjunawijaya, Lubdhaka, Wrttasancaya, Kunjarakarna, Sudamala, juga Kidung Harsawijaya adala sejumlah contoh karya yang dilahirkan era Kerajaan Majapahit.

Bentuk buku semasa Jawa Kuno adalah susunan sejumlah helai daun lontar. Sebutan khasnya adalah rontal. Penulisannya adalah helai-helai daun lontar digurat memakai semacam pisau kecil.

Kegiatan penulisan buku semasa Jawa Kuno sempat merosot ke titik nadirnya setelah runtuhnya Kerajaan Majapahit pada antara akhir abad XV dan awal abad XVI. Kala itu wilayah inti Majapahit yang meliputi seantero Jawa Timur dan Jawa Tengah terpecah menjadi empat kerajaan yang berseteru sama lain. Mereka itu masing-masing adalah pedalaman Jawa Timur dan Jawa Tengah dirajai oleh Singhawikramawarddhana serta kemudian oleh anaknya, Girindrawarddhana Dyah Ranawijaya, wilayah utara Jawa Timur berikut ibukota lama di Trowulan yang diperintah oleh Kertabhumi, wilayah bagian timur Jawa Timur yang hidup sebagai kerajaan merdeka dengan sebutan Blambangan, juga Pesisir Utara Jawa Tengah yang dikuasai oleh Raden Patah sang penguasa Demak. Perang yang susul menyusul terjadi di antara kerajaan-kerajaan tadi mengganggu kreativitas dan produktivas para pujangga Jawa. Dalam perang-perang itu, tak sedikit pula buku yang menjadi bagian kekayaan literasi Jawa masa itu menjadi musna.

Masa akhir Majapahit hingga masa awal Mataram Islam memang adalah tahun-tahun tergelap Jawa dalam hal penulisan buku. Era Kerajaan Demak dan Pajang bahkan tiada mewariskan karya sastra dan kronik kepada kita yang hidup pada masa sekarang. Bisa jadi karena karya-karya yang dihasilkan dua era itu terlalap habis oleh peperangan. Bisa jadi pula karena penulisan buku memang tidak menjadi prioritas dalam dua era tadi.

Akibatnya, berbagai peristiwa yang terjadi di semasa eksisnya Demak dan Pajang sebenarnya ada di kategori “konon”. Catatan sejarah mengenai era Demak dan Pajang yang selama ini diketahui orang dan termuat dalam buku sejarah sesungguhnya semata bersumberkan kitab-kitab yang baru dituliskan sekitar seabad hingga dua abad setelahnya, tepatnya pada pertengahan abad XVII hingga pertengahan abad XVIII, ketika Jawa sudah berada di zaman Mataram Islam. Tentang peristiwa-peristiwa yang oleh kitab-kitab dari zaman Mataram Islam disebut terjadi semasa Demak dan Pajang, berapa persen yang sungguh-sungguh didapat dari penelusuran ketat terhadap cerita lisan dan memori masyarakat, dan berapa persen yang sekadar hasil rekaan para pujangga kraton Mataram Islam,sungguh teramat sukar untuk memilah-memilahnya. Yah, beginilah jika buku-buku berhenti ditulis dan dipelihara… . (Yoseph Kelik/Periset di Museum Ullen Sentalu)

Referensi :

  • Djafar, Hasan, Masa Akhir Majapahit:Girindrawarddhana dan Masalahnya (Cetakan II), Depok, Komunitas Bambu, 2012
  • Muljana, Slamet, Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-Negara Islam di Nusantara (Cetakan IX), LKiS, Yogyakarta, 2013
  • Ras, JJ, Masyarakat dan Kesusasteraandi Jawa, Yayasan Pustaka Obor Indonesia, Jakarta, 2014
  • Toer, Pramoedya Ananta, Jalan Raya Pos, Jalan Daendels, Lentera Dipantara, Jakarta, 2005
  • Zoetmulder, PJ, Kalangwan: Sastra Jawa Kuno Selayang Pandang, Djambatan, Jakarta, 1985 (Cetakan Kedua)
14 Makanan dan Minuman yang Sudah Ada Zaman Jawa Kuno (Bagian 2)

14 Makanan dan Minuman yang Sudah Ada Zaman Jawa Kuno (Bagian 2)

Jika pada artikel sebelumnya kita telah mengetahui 7 makanan-minuman yang sudah ada sejak zaman Jawa Kuno. Berikut ini  adalah 7 makanan-minuman lain yang sudah ada sedari zaman Jawa Kuno sebagaimana diterangkan oleh Prof Dr Timbul  Haryono, Guru Besar Arkeologi Universitas Gadjah Mada, pada 6 Juni 2015:

makanan5

8.Dawet:
Minuman segar dan manis dari hasil perpaduan air gula merah, santan kelapa, dan butiran-butiran kenyal berbahan tepung beras yang dinamakan cendol ini rupanya telah ada zaman Kerajaan Kediri, sekitar abad XII Masehi. Hal ini tercatat dalam kitab Kresnayana yang berkisah tentang percintaan Krisna dan Rukmini. Sekarang, ada beberapa dawet yang menjadi minuman khas bagi daerahnya. Sebut saja dalam hal ini adalah dawet ayu dari Banjarnegara, dawet telasih dari Pasar Gede di Solo, juga dawet ala Bayat, Klaten, yang lebih banyak di jual di Kalasan, Yogyakarta.

9.Kerupuk:
Makanan ini dibuat dari adonan tepung bercampur lumatan udang atau ikan, yang lalu dikukus, kemudian dibentuk tipis-tiipis melalui pengirisan ataupun pencetakan, lantas dijemur, serta akhirnya digoreng sehingga menjadi renyah. Keberadaan kerupuk telah disebutkan dalam kitab Sumanasantaka yang merupakan hasil penulisan dari zaman Kediri pada abad XII. Isi Sumanasantaka adalah kisah bidadari Harini yang dikutuk Begawan Trnawindu sehingga menjalani hidup di sebagai manusia di Bumi, lalu diperistri oleh Pangeran Aja, dan dari perkawinan mereka lahirlah Dasarata yang nantinya akan menjadi ayah dari Rama.

10.Rawon:
Masakan ini sekarang identik sebagai makanan khas daerah-daerah di Jawa Timur, khususnya Surabaya. Hidangan olahan irisan daging ini bercirikan genangan kuah cokelat gelap menjurus hitam yang dihasilkan dari penggunaan biji kluwak sebagai salah satu bumbunya. Keberadaan rawon sudah disebutkan dalam kitab Bomakawya yang berasal dari zaman Kerajaan Kediri.

11.Ikan asin:
Macam-macam ikan laut yang diawetkan dengan cara digarami dan dikeringkan ini dicatat keberadaannya dalam kitab Bomakawya dari zaman Kediri.

12.Wajik:
Jajanan manis berbahan dasar ketan yang dimasak bersama cairan gula merah sehingga berwarna kecokelatan ini telah tercatat keberadaannya dalam kitab Nawa Ruci yang berasal dari zaman Kerajaan Majapahit, sekitar abad XIV Masehi. Nawa Ruci sendiri bercerita tentang petualangan Bima mencari air suci tirta amertha yang membuatnya sampai menyelam jauh ke dalam samudera. Sekarang, wajik dikenal sebagai makanan khas dari Magelang.

13.Jadah:
Penganan dari ketan yang dihaluskan dan lalu dibentuk menjadi lempengan-lempengan atau kepalan-kepalan ini telah disebutkan keberadaannya dalam kitab Nawa Ruci hasil penulisan pada zaman Majapahit. Contoh jadah yang menjadi penganan tersohor adalah jadah tempe ala Kaliurang, Sleman, Yogyakarta.

14.Serbat:
Minuman hangat pedas berbahan dasar jahe yang dicampur bersama tambahan bahan-bahan lain seperti kencur, kemiri, dan adas pulowaras ini telah dicatat keberadaannya dalam kitab Kidung Harsawijaya yang berasal dari zaman Majapahit. Kidung Harsawijaya sendiri bercerita tentang sejarah masa akhir Singhasari sampai berdirinya Majapahit.

(Yoseph Kelik P, Periset di Museum Ullen Sentalu)

14 Makanan dan Minuman yang Sudah Ada Zaman Jawa Kuno (Bagian 1)

14 Makanan dan Minuman yang Sudah Ada Zaman Jawa Kuno (Bagian 1)

SUKA sama kuliner tradisional Jawa? Di antara aneka makanan-minuman tradisional Jawa, ternyata ada 14 macam yang umurnya sudah berabad-abad atau malah sudah lebih dari 1.000 tahun. Itu artinya makanan-minuman itu berasal dari zaman Gajah Mada masih menjabat sebagai mahapatih amangkubhumi di Majapahit, bahkan berasal dari zaman ketika candi-candi di Kompleks Percandian Prambanan sedang disusun batu-batunya. Empat belas makanan-minuman tersebut masih tetap populer di dalam masyarakat zaman Indonesia sekarang. Keluarga-keluarga Indonesia masih lazim mengolah dan menghidangkan makanan-minuman itu di rumah mereka. Di banyak tempat pun masih ada pedagang yang menjual makanan-minuman itu. Bahkan, ada beberapa dari 14 makanan-minuman itu terkenal menjadi kuliner khas sejumlah kota . Berikut ini 14 makanan-minuman yang sudah ada sedari zaman Jawa Kuno sebagaimana diterangkan oleh Prof Dr Timbul Haryono, Guru Besar Arkeologi Universitas Gadjah Mada, pada 6 Juni 2015:

makanan31.Dendeng:
Makanan berupa daging yang dikeringkan dan dibumbui sehingga membentuk lembaran-lembaran tipis ini turut disebutkan dalam Prasasti Taji yang berangka tahun 901 Masehi dari era Kerajaan Medang.

2.Urap:
Olahan beberapa sayur yang dibumbui memakai parutan kelapa ini turut disebutkan dalam Prasasti Linggasuntan yang berangka tahun 929 Masehi dari era Kerajaan Medang.

3.Lalapan:
Sajian sayur yang tetap dibiarkan mentah atau sekadar direbus sebentar ini turut disebutkan dalam Prasasti Jeru-jeru yang berangka tahun 930 Masehi dari era Kerajaan Medang.

4.Dodol:
Kini, kue manis yang kenyal, lengket, dan berwarna cokelat gelap ini begitu identik sebagai jajanan khas kota Garut di Jawa Barat. Namun, jika mengamati bentuk, bahan baku, maupun penyajiannya, jenang ala kota Kudus di Jawa Tengah sebenarnya terbilang juga di dalam keluarga besar dodol. Nah, dodol rupanya sudah turut disebutkan dalam saduran kitab Ramayana versi Jawa. Ramayana sendiri acap dianggap sebagai karya sastra India yang pertama kali disadur oleh masyarakat Jawa. Ramayana versi Jawa diperkirakan berasal dari zaman akhir Kerajaan Medang, yakni ketika masih menempati Jawa Tengah dan belum dipindahkan ke Jawa Timur oleh Maharaja Sindok. Penyaduran Ramayana guna menciptakan versi Jawanya diperkirakan terjadi antara 840 Masehi sampai dengan 930 Masehi.

5.Tape ketan:
Ramayana versi saduran Jawa yang diperkirakan berasal dari pertengahan abad IX atau awal abad X Masehi sudah menyebutkan tentang keberadaan tape ketan. Kini, makanan bercitarasa manis-asam dan kerap dijadikan campuran minuman ini terkenal sebagai makanan khas dari kota Muntilan dan Magelang.

6.Pecel:
Ramayana versi saduran Jawa juga turut menyebut tentang keberadaan hidangan pecel. Makanan yang pada dasarnya merupakan racikan sejumlah sayuran yang diguyur saus bumbu kacang ini sampai sekarang populer. Sayuran yang biasa dipakai sebagai bahan utamanya adalah bayam, atau sawi, atau kangkung. Namun, sejumlah sayuran lain acap ditambahkan yakni kacang panjang, taoge, kembang turi, kubis, hingga irisan wortel. Selain itu, pecel sering dihidangkan dengan dilengkapi sejumlah lauk seperti rempeyek, kerupuk, karak beras, hingga telur asin. Orang antara lain kerap menjadikannya sebagai salah satu pilangan menu untuk sarapan. Karena itu banyak warung makan laris yang mengandalkan menu ini sebagai jualan utamanya. Madiun di Jawa Timur adalah contoh kota yang dikenal karena racikan pecelnya.

7.Agar-agar:
Smaradahana, kitab sastra bergenre kakawin dari zaman Kerajaan Kediri di abad XII Masehi ternyata telah mencatat keberadaan penganan yang diidentifikasi sebagai agar-agar. Namun belum dapat dipastikan pula seperti apa tepatnya agar-agar yang dicatat oleh Smaradahana ini, apakah berbahan rumput laut sebagaimana dikenal sekarang atau berbahan lain. Smaradahana sendiri mengisahkan Dewa Kama dan Dewi Ratih yang harus menjalani inkarnasi ke dunia setelah Kama terbakar hangus ketika coba membangunkan Siwa dari meditasi khusyuknya.

Bersambung ke bagian 2

(Yoseph Kelik P, Periset di Museum Ullen Sentalu)

Menilik Wihara Sang Biksu di Candi Sari

Menilik Wihara Sang Biksu di Candi Sari

Candi Sari terletak di Dusun Bendan, Desa Tirtomartani,Kalasan,Sleman,Daerah Istimewa Yogyakarta.Para ahli memperkirakan candi ini dibangun bersamaan dengan candi Kalasan,yakni sekitar abad 8 Masehi pada masa pemerintahan Sri Maharaja Rakai Panunggalan.

Bangunan ini aslinya merupakan bangunan wihara atau asrama yang diperuntukan bagi para biksu Buddha. Bangunan ini bertingkat dua dengan loteng berlantai kayu.Hal ini bisa dilihat pada dinding ruang dalam terdapat ceruk-ceruk untuk meletakkan kayu penyangga lantai atas.Konon bagian loteng digunakan sebagai tempat tinggal para biksu (sangha), ruang meditasi, atau perpustakaan.Sedangkan bagian bawahnya adalah tempat pemujaan dan pengajaran.

Pada bagian dalam bilik, tidak ditemukan arca karena fungsi utama candi Sari bukan sebagai tempat pemujaan tetapi biara para biksu. Pada dinding luar dihiasi ukiran Bodhisatwa,Tara,Kinnara, dan Kinnari yang sangat indah.Kinnara dan Kinnari adalah makhluk mitologi di Hindu dan Budhha.Wujud mereka adalah makhluk separuh manusia dan separuh burung.Berbeda dengan biasanya sosok Kinnara dan Kinnari di Candi Sari digambarkan sebagai manusia dengan sayap dipunggungnya mirip dengan penggambaran malaikat.Pada dinding Candi Sari juga dilapisi oleh lapisan Vajralepa, semacam plester putih untuk melindungi candi.

Sosok dewi Tara pada dinding selatan candi sendiri juga terlihat anggun dan gemulai dengan ekspresi muka yang tenang,bijak dan lembut dengan sikap tubuh yang disebut Tribhanga yaitu sambil memegang teratai merah dan biru.

candi-sari

dewitara

ceruklantai2

Kalpataru,_Kinnara-Kinnari,

 

sumber:

http://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbyogyakarta/2014/06/13/selayang-pandang-candi-sari/

https://id.wikipedia.org/wiki/Candi_Sari
Kartapranata, Gunawan. 2014. Indonesia dalam Infografik. Penerbit Kompas: Jakarta.

Sistem Aksara nan Istimewa Bernama Hanacaraka

Sistem Aksara nan Istimewa Bernama Hanacaraka

TEPAT di ujung area Guwa Selagiri di Museum Ullen Sentalu, sudah dekat sekali dengan pintu keluar yang menjadi akses ke area Kampung Kambang, tergantung sebingkai displai pamer yang sangat bersahaja. Sungguh kalah gebyar dengan displai-displai lain di sekelilingnya: lukisan besar Gusti Nurul sebagai penunggang kuda, potret-potret lawas dari BRAy Partini Djajadiningrat, juga foto-foto kuno tentang keluarga KGPAA Mangkunegoro VII dan GKR Timur. Displai di dekat pintu keluar tadi cuma menampilkan susunan sistem aksara asli Jawa yang galib disebut sebagai hanacaraka. Terdiri dari 20 aksara yang terbagi menjadi 4 larik. Tepat di bawah masing-masing aksaranya ada terjemahan bunyinya menurut alfabet Latin:

Ha Na Ca Ra Ka
Da Ta Sa Wa La
Pa Dha Ja Ya Nya
Ma Ga Ba Tha Nga

Memuat Legenda

Sejatinya, 20 aksara dalam hanacaraka bukanlah sekumpulan huruf belaka. Masing-masing lariknya yang terdiri dari 5 aksara pada dasarnya adalah juga suatu kalimat berbahasa Jawa. Sebagai kalimat, larik pertama sebenarnya tertulis sebagai hana caraka yang berarti “ada utusan”. Kalimat-kalimat sesudahnya masing-masing adalah data sawala yang berarti “(mereka) saling berkelahi”, padha jayanya yang berarti “(tapi) sama kuatnya”, dan maga bathanga yang berarti “(akhirnya) sama-sama mati”. Istimewanya, empat kalimat tadi saling terkait satu sama lain. Jika keempatnya digabungkan, maka terbentuklah suatu cerita pendek: Ada dua utusan saling berkelahi. Karena sama kuatnya, mereka pun sama-sama mati.

Cerita pendek yang termuat dalam hanacaraka merupakan ringkasan dari kisah legenda tentang 2 orang abdi dari Ajisaka, raja Kerajaan Medang Kamulan. Menurut legenda itu, seorang abdi Ajisaka yang bernama Dora diutus tuannya mendatangi Pulau Majethi. Di pulau tersebut tinggal kawan lamanya yang bernama Sembada, yang juga merupakan abdi Ajisaka. Perintah yang diemban Dora adalah mengambil keris pusaka milik Ajisaka yang dulu dititipkan kepada Sembada. Namun, Sembada ternyata menolak menyerahkan keris pusaka milik Ajisaka kepada Dora. Sembada memilih tetap berpegangan kepada pesan yang dulu dikatakan Ajisaka ketika menitipkan pusaka itu kepadanya. Kata Ajisaka waktu itu, pusaka itu hanya boleh diserahkan kepada Ajisaka sendiri. Ketika Sembada berpedoman semacam itu, sedangkan di sisi lain Dora merasa berkewajiban membawa pulang pusaka tuannya ke Medang Kamulan, dua kawan lama tersebut lantas terlibat pertengkaran. Karena tak ada yang mau mengalah, pertengkaran itu berubah menjadi perkelahian sengit yang kemudian secara tragis menyebabkan Dora maupun Sembada kehilangan nyawa. Ajisaka yang menyadari kealpaannya memberi dua titah yang saling bertentangan kepada 2 abdinya memang menyusul mendatangi Pulau Majethi. Namun, kedatangan yang terlambat gagal mencegah baku bunuh yang dilakukan Dora dan Sembada. Merasa bersalah dan berduka oleh kematian dua abdinya, Ajisaka lantas menuliskan kisah Dora dan Sembada dalam sebuah syair pendek yang sekaligus menjadi sistem aksara khas Jawa. Masyarakat Jawa secara tradisional memang memercaya figur legendaris Ajisaka sebagai kreator dari hanacaraka.

Dipakai masyarakat Jawa selama berabad-abad, hanacaraka telah membantu para pujangga dan cerdik pandai untuk merekam pengetahuan-pengetahuan masyarakat Jawa di bidang sejarah, agama dan filsafat, hukum, seni, sistem kalender, hingga berbagai teknik okultisme. Babad Tanah Jawa, Serat Centhini, Babad Diponegoro, serta Serat Tripama adalah beberapa di antara kitab-kitab adikarya Jawa yang aslinya ditulis memakai aksara hanacaraka. Babad Tanah Jawa adalah kronik mengenai sejarah panjang Jawa dari zaman purbakala sampai sekitar masa pemerintahan raja-raja Mataram Islam. Serat Centhini adalah epik seputar pelarian putra-putri penguasa Giri pasca penyerbuan Mataram Islam, yang isinya bercampur dengan cerita perjalanan ke berbagai tempat di Jawa, juga ensiklopedia macam-macam pengetahuan mulai dari kuliner hingga panduan seksual. Babad Diponegoro adalah memoar yang ditulis Pangeran Diponegoro semasa menjalani hukuman pengasingan di Makassar. Serat Tripama adalah tulisan KGPAA Mangkunegara IV yang mengajarkan petuah mengenai loyalitas pengabdian kepada negara dengan mengambil tiga figur ksatria dalam pewayangan, yakni Patih Suwanda alias Bambang Sumantri, Raden Kumbakarna, dan Adipati Karna.

Hanacaraka rupanya terbilang juga sistem aksara unik. Tak cuma karena hanacaraka pada dasarnya merupakan suatu syair legenda, namun karena dalam hanacaraka masing-masing hurufnya mewakili suatu suku kata tertentu. Sistem aksara berdasarkan suka kata semacam ini terbilang tak banyak padanannya di dunia. Jika merujuk uraian Jared Diamond dalam buku Guns, Germs & Steel, sistem aksara yang tersusun dari beberapa suku kata ini dinamakan sebagai silabari. Menurut Diamond, sedikit saja bangsa-bangsa di dunia yang menggunakan silabari sebagai pola dasar sistem aksaranya. Selain hanacaraka, contoh lain dari silabari adalah sistem aksara kana yang digunakan sebagai komplenter dari sistem kanji di Jepang.

Pada kenyataannya, ketimbang mengembangkan sistem aksara berpola silabari, bangsa-bangsa di dunia umumnya mengembangkan sistem aksaranya menurut sistem alfabet atau sistem logogram. Pada sistem alfabet, setiap aksaranya adalah mewakili fonem yakni bunyi dasar dalam bahasanya. Contoh sistem alfabet adalah aksara Latin, aksara Cyrilic, aksara Arab, dan aksara Hangul Korea. Pada sistem logogram, satu aksara atau lambang tertulis adalah mewakili satu kata. Contoh-contoh dari sistem logogram adalah aksara China, kanji Jepang, hingga aksara-aksara zaman kuno seperti hieroglif Mesir dan cuneiform Sumeria.
[Yoseph Kelik Prirahayanto (Periset Museum Ullen Sentalu)]

 

Jasa Para Nyai dan Koki Pribumi dalam Jamuan Makan ala Para Meneer

Jasa Para Nyai dan Koki Pribumi dalam Jamuan Makan ala Para Meneer

SOP buntut, perkedel, nasi goreng, semur, bestik, gelantin, selat solo, hingga kue lapis legit adalah hidangan-hidangan yang tak asing bagi masyarakat Indonesia saat ini. Hidangan-hidangan tadi malah sudah lazim digolongkan sebagai bagian kekayaan kuliner masyarakat Nusantara.

Namun, hidangan-hidangan tadi sejatinya baru-baru tercipta pada masa kolonial. Umur mereka sejauh ini paling banter adalah 200-300 tahun. Jauh lebih muda dibandingkan hidangan-hidangan seperti urap, pecel, rawon, serta dendeng yang telah ada sedari tahun 900-an Masehi alias telah berumur 1.000 tahun lebih.

Sop buntut, perkedel, nasi goreng, dan kawan-kawannya adalah aneka hidangan hasil percampuran budaya pribumi dan Eropa, baik dari segi bahan yang dipakai, cara masak, cara penyajian, hingga rasa. Berhubung Nusantara di masa kolonial sering disebut bangsa Barat sebagai Kepulauan Hindia Timur atau Hindia Belanda, maka hidangan-hidangan tadi lazim disebut sebagai hidangan indies.

Ketika aneka macam hidangan indies tadi disajikan bersama dalam suatu perjamuan memakai tatacara Barat, maka dinamakanlah perjamuannya sebagai rijsttafel. Secara literal itu berarti “meja nasi”, tetapi “perjamuan memakai aneka hidangan bernasi” adalah terjemahannya yang lebih secara makna.

Sejak Pembubaran VOC
Sebagaimana dipaparkan Fadly Rahman dalam buku Rijsttafel: Budaya Kuliner di Indonesia masa Kolonial 1870-1942, pembubaran VOC pada 1799, yang langsung disusul pengambilalihan oleh Pemerintah Belanda terhadap wilayah-wilayah kekuasaan VOC di Nusantara padaa 1800, merupakan penanda penting bagi lahir dan tersebarnya hidangan-hidangan indies serta rijsttafel-nya. Pasalnya, sejak saat itulah Pemerintah Belanda mendatangkan orang-orang Belanda maupun orang-orang Eropa lainnya ke Jawa dan pulau-pulau lain di Nusantara sebagai aparatur pemerintahan, pengawas perkebunan, juga serdadu. Gelombang kedatangan orang-orang Eropa yang ditempatkan di Hindia Belanda tersebut makin masif sepanjang pemberlakuan Tanam Paksa pada 1830, yang kemudian disusul pemberlakuan kebijakan Ekonomi Liberal pada 1870.

Loji, landhuis, vila, ataupun tangsi yang dihuni kaum kulit putih yang bekerja di Hindia Belanda merupakan tempat-tempat di mana hidangan-hidangan indies serta rijsttafel lahir dan berkembang. Hal tersebut tidak dapat dilepaskan dari aktivitas dan kreativitas para nyai dan juru masak pribumi di dapur serta ruang makan bangunan-bangunan tadi.

Nyai adalah sebutan masa itu untuk perempuan pribumi yang menjadi pasangan hidup dari seorang Eropa, baik lewat ikatan pernikahan maupun tidak. Sebagai pengurus rumah tangga meneer pasangan mereka, para nyai lantas mengakrabkan pasangan mereka kepada aneka hidangan lokal, juga melakukan kreasi padu padan terhadap hidangan lokal dan Barat.

Baik dalam rumah tangga berisikan suami-istri yang sama-sama kulit putih maupun rumah tangga campuran Eropa-pribumi, juru masak pribumi memiliki pengaruh besar yang menjurus kepada ketergantungan dalam urusan dapur dan ruang makan. Pasalnya, nyonya rumah belum tentu turun langsung dalam urusan tadi. Koki pribumi pun jadi kerap memasukkan nasi dan hidangan pribumi dalam olahan makanan yang mereka sajikan bagi majikan. Alhasil, kebiasaan makan nasi dan hidangan lokal pun hidup dari generasi ke generasi di kalangan orang-orang kulit putih yang bermukim di Nusantara.

Beriringan dengan itu, kaum priyayi pribumi yang terutama sejak Tanam Paksa dilibatkan pemerintah kolonial dalam hierarki pemerintahan sebagai bagian pengawasan budidaya tanaman-tanaman yang laku ekspor, lantas meniru budaya makan yang dilakukan orang-orang Eropa yang tinggal di Nusantara. Mereka menjadikannya sebagai cara melancarkan karier, tetapi terutama sebagai cara meningkatkan prestise dalam ruang lingkup masyarakat kolonial.

Haute Cuisine Khas Hindia Belanda
Masih menurut Fadly Rahman, rijsttafel lalu berkembang menjadi suatu haute cuisine alias seni boga adiluhung khas Hindia Belanda. Sepanjang abad XIX dan awal abad XX, rijsttafel mengalami serangkaian formalisasi yang melahirkan berbagai bentuk inovasi penyajian. Kelayakan tempat dan waktu jamuan, tata cara penyajian, serta penggunaan peranti dan komposisi hidangan adalah hal-hal menjadi diperhitungkan dalam rijsttafel.

Fenomena tadi didorong oleh dua hal. Pertama adalah kebiasaan kalangan elite masa itu untuk berpesta di gedung societet. Kedua adalah berkembangnya sektor wisata di Hindia Belanda pada awal abad ke 20 yang lantas menjadikan rijsttafel sebagai bagian paket wisata di hotel-hotel dan di kapal-kapal pesiar.

Sayangnya, pertengahan abad XX adalah pula saat ketika rijsttafel mengalami kemunduran. Pada masa pendudukan Jepang dan awal kemerdekaan Indonesia, rijsttafel dalam versi otentik yang melibatkan begitu banyak pelayan penyaji jadi dipandang secara sinis dan dijauhi, dianggap sebagai gaya hidup kebarat-baratan yang terlalu mewah. Rijsttafel kian ditinggalkan ketika model jamuan ini kehilangan masyarakat pendukungnya. Itu terjadi karena eksodus besar-besaran orang-orang Belanda dari Indonesia pada 1940-an dan 1950-an, imbas dari Perang Kemerdekaan serta Perebutan Irian Barat.

Namun, jika menilik tuturan Denys Lombar dalam buku Nusa Jawa: Silang Budaya 1: Batas-Batas Pembaratan, rijsttafel dan kekayaan hidangan indies-nya sebenarnya tak benar-benar juga hilang dari Indonesia. Orang-orang Indonesia kenyataannya akrab dengan jamuan makan yang digelar secara prasmanan, yang sebenarnya varian dari rijsttafel juga. Di berbagai kota di republik ini, tempat-tempat makan yang menjual hidangan-hidangan indies tidaklah benar-benar susah untuk ditemukan. Resep-resep hidangan-hidangan indies pun sudah menjadi warisan turun-temurun di begitu banyak keluarga di Indonesia.

Satu lagi yang kadang dilupakan orang sebagai warisan rijsttafel adalah orang-orang Indonesia tak lagi selalu makan bertangan telanjang seperti nenek moyangnya pada zaman pra kolonial. Kini, orang Indonesia lincah bersantap memakai sendok. Tak jarang juga melengkapinya dengan garpu, meski lebih sering menjadikannya alat pendorong dan penahan makanan di piring.

[Yoseph Kelik Prirahayanto (Periset Museum Ullen Sentalu) & Rasty Wijayanti Nugraheni (Edukator Tur Museum Ullen Sentalu 2013-2014)]