Category Archives: Budaya

Narasimha

narasimhaARCA dalam gambar di samping memiliki sebutan Narasimha. Arca tersebut merupakan penggambaran Dewa Wisnu yang tengah menjelma dalam wujud setengah manusia dan setengah binatang: berbadan manusia, tetapi berkepala singa. Sang manusia berkepala singa ini digambarkan dalam pose yang terbilang dinamis serta tak formal, yaitu sedang menghimpit dan membelah dada musuh memakai kuku tangan.

Continue reading

Kala dan Makara

Kala adalah raksasa yang menakutkan, sedangkan makara berarti wujud binatang bisa berbentuk gajah, buaya, ikan.Hiasan kalamakara terdapat pada bagian atas pintu masuk candi. Kepala Kala dipahatkan pada bagian atas pintu masuk candi, sedangkan Makara terdapat pada bagian bawah pintu masuk. Hiasan Kala dan Makara selalu merupakan sebuah kesatuan, sehingga keduanya sering disebut sebagai satu nama, yakni Kalamakara.   Hiasan ini dipasang di pintu masuk candi sebagai tolak bala. Karena bentuknya yang menakutkan, yakni kepala raksasa yang sedang menyeringai, maka ia diharapkan dapat mengusir roh-roh jahat yang akan memasuki bangunan candi yang dianggap suci.  Di samping kalamakara yang bertugas menjaga kesucian candi, pada pintu masuk candi, agak ke depan, biasanya terdapat pula patung-patung raksasa yang disebut Dwarapala. Tetapi patung raksasa yang amat besar dengan sikap duduk dan memegang penggada ini, biasanya hanya terdapat di muka pintu utama yang menuju ke kompleks candi. Pada candi Budha sering terdapat patung singa di depan kalamakara. Tugasnya masih menjaga kesucian candi.

Sabtu Sore bersama Lydia Kieven

panji_artikel_kecil

Biasanya, pengunjung memasuki Museum Ullen Sentalu melalui gerbang depan kemudian dipandu oleh educator tour. Namun pada Sabtu, 5 September 2015, para pengunjung yang masuk melalui gerbang belakang  diarahkan ke Pelataran Gandawyuha. Mereka adalah peserta acara ‘Sabtu Sore bersama Lydia Kieven’, seminar yang diadakan atas inisiasi Kepala Museum Ullen Sentalu, Bapak Daniel Haryono.

Continue reading

Prajurit WIRABRAJA

Nama Wirabraja berasal dari kata wira berarti ‘berani’ dan braja berarti ‘tajam’, kedua kata itu berasal dari bahasa Sansekerta.Secara filosofis Wirabraja bermakna suatu prajurit yang sangat berani dalam melawan musuh dan tajam seta peka panca inderanya.Dalam setiap keadaan ia akan selalu peka. Dalam membela kebenaran ia akan pantang menyerah, pantang mundur sebelum musuh dapat dikalahkan. Dengan nama yang arkais dari bahasa Sansekerta secara filosofis diharapkan agar kandingan maknanya mempunyai daya magis yang memberi jiwa kepada seluruh anggota pasukan ini.

Continue reading

8b. Sukuh (1)

Candi Sukuh

Lokasi: Desa Sukuh, Barjo, Ngargoyoso, Karanganyar, Jawa Tengah
Koordinat: 7° 37’ 38,000″ LS 111° 7’ 52,500″ BT
Ketinggian: 1198 dpl

Candi Sukuh adalah kompleks candi yang terdiri dari halaman berteras. Yang menjadikan Candi Sukuh menarik adalah relief lingga dan yoni yang terdapat di bagian dalam gapura di halaman pertama. Relif dipahat di lantai masuk gapura dan bergaya naturalis.

Candi induk terletak di halaman ketiga dan dianggap paling sakral dengan tipe bangunan berundak teras di lereng gunung yang banyak ditemukan pada jaman Majapahit. Dari candasengkala yang ada di gapura pertama yang berbunyi “gapura buta mangan wong” diperkirakan Candi Sukuh dibangun pada tahun 1359 Saka atau 1437 Masehi.

candi-sukuh

Sumber:
Candi Indonesia, Seri Jawa
Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman
Direktorat Jenderal Kebudayaan
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan – 2013

Foto: Ullen Sentalu

SONY DSC

Candi Cetho

 

Lokasi: Dusun Cetho, Gumeng, Jenawi, Karanganyar, Jawa Tengah
Koordinat: 7° 35’ 44,800″ LS 111° 9’ 28,900″ BT
Ketinggian: 2711 dpl

Candi Cetho adalah candi berlatarbelakang agama Hindu, terletak di lereng Gunung Lawu. Candi Cetho didirikan pada tahun 1373 Saka (1451 Masehi) berdasarkan candrasangkala yang diwujudkan dalam relief binatang.

Hasil rekonstruksi di tahun 1928 Candi Cetho berjumlah 13 undakan teras terbentang sepanjang 200 meter dari arah barat (bagian terbawah) ke timur (bagian tertinggi), dengan gapura di setiap terasnya. Pada pemugaran tahun 1978 jumlah undakan teras berubah menjadi sembilan teras dan sekelompok candi bentar didirikan untuk pintu masuk undakan-undakan teras.

candi-cetho-1

 

Sumber:
Candi Indonesia, Seri Jawa
Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman
Direktorat Jenderal Kebudayaan
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan – 2013

Foto: Ullen Sentalu