Sistem Aksara nan Istimewa Bernama Hanacaraka

Sistem Aksara nan Istimewa Bernama Hanacaraka

TEPAT di ujung area Guwa Selagiri di Museum Ullen Sentalu, sudah dekat sekali dengan pintu keluar yang menjadi akses ke area Kampung Kambang, tergantung sebingkai displai pamer yang sangat bersahaja. Sungguh kalah gebyar dengan displai-displai lain di sekelilingnya: lukisan besar Gusti Nurul sebagai penunggang kuda, potret-potret lawas dari BRAy Partini Djajadiningrat, juga foto-foto kuno tentang keluarga KGPAA Mangkunegoro VII dan GKR Timur. Displai di dekat pintu keluar tadi cuma menampilkan susunan sistem aksara asli Jawa yang galib disebut sebagai hanacaraka. Terdiri dari 20 aksara yang terbagi menjadi 4 larik. Tepat di bawah masing-masing aksaranya ada terjemahan bunyinya menurut alfabet Latin:

Ha Na Ca Ra Ka
Da Ta Sa Wa La
Pa Dha Ja Ya Nya
Ma Ga Ba Tha Nga

Memuat Legenda

Sejatinya, 20 aksara dalam hanacaraka bukanlah sekumpulan huruf belaka. Masing-masing lariknya yang terdiri dari 5 aksara pada dasarnya adalah juga suatu kalimat berbahasa Jawa. Sebagai kalimat, larik pertama sebenarnya tertulis sebagai hana caraka yang berarti “ada utusan”. Kalimat-kalimat sesudahnya masing-masing adalah data sawala yang berarti “(mereka) saling berkelahi”, padha jayanya yang berarti “(tapi) sama kuatnya”, dan maga bathanga yang berarti “(akhirnya) sama-sama mati”. Istimewanya, empat kalimat tadi saling terkait satu sama lain. Jika keempatnya digabungkan, maka terbentuklah suatu cerita pendek: Ada dua utusan saling berkelahi. Karena sama kuatnya, mereka pun sama-sama mati.

Cerita pendek yang termuat dalam hanacaraka merupakan ringkasan dari kisah legenda tentang 2 orang abdi dari Ajisaka, raja Kerajaan Medang Kamulan. Menurut legenda itu, seorang abdi Ajisaka yang bernama Dora diutus tuannya mendatangi Pulau Majethi. Di pulau tersebut tinggal kawan lamanya yang bernama Sembada, yang juga merupakan abdi Ajisaka. Perintah yang diemban Dora adalah mengambil keris pusaka milik Ajisaka yang dulu dititipkan kepada Sembada. Namun, Sembada ternyata menolak menyerahkan keris pusaka milik Ajisaka kepada Dora. Sembada memilih tetap berpegangan kepada pesan yang dulu dikatakan Ajisaka ketika menitipkan pusaka itu kepadanya. Kata Ajisaka waktu itu, pusaka itu hanya boleh diserahkan kepada Ajisaka sendiri. Ketika Sembada berpedoman semacam itu, sedangkan di sisi lain Dora merasa berkewajiban membawa pulang pusaka tuannya ke Medang Kamulan, dua kawan lama tersebut lantas terlibat pertengkaran. Karena tak ada yang mau mengalah, pertengkaran itu berubah menjadi perkelahian sengit yang kemudian secara tragis menyebabkan Dora maupun Sembada kehilangan nyawa. Ajisaka yang menyadari kealpaannya memberi dua titah yang saling bertentangan kepada 2 abdinya memang menyusul mendatangi Pulau Majethi. Namun, kedatangan yang terlambat gagal mencegah baku bunuh yang dilakukan Dora dan Sembada. Merasa bersalah dan berduka oleh kematian dua abdinya, Ajisaka lantas menuliskan kisah Dora dan Sembada dalam sebuah syair pendek yang sekaligus menjadi sistem aksara khas Jawa. Masyarakat Jawa secara tradisional memang memercaya figur legendaris Ajisaka sebagai kreator dari hanacaraka.

Dipakai masyarakat Jawa selama berabad-abad, hanacaraka telah membantu para pujangga dan cerdik pandai untuk merekam pengetahuan-pengetahuan masyarakat Jawa di bidang sejarah, agama dan filsafat, hukum, seni, sistem kalender, hingga berbagai teknik okultisme. Babad Tanah Jawa, Serat Centhini, Babad Diponegoro, serta Serat Tripama adalah beberapa di antara kitab-kitab adikarya Jawa yang aslinya ditulis memakai aksara hanacaraka. Babad Tanah Jawa adalah kronik mengenai sejarah panjang Jawa dari zaman purbakala sampai sekitar masa pemerintahan raja-raja Mataram Islam. Serat Centhini adalah epik seputar pelarian putra-putri penguasa Giri pasca penyerbuan Mataram Islam, yang isinya bercampur dengan cerita perjalanan ke berbagai tempat di Jawa, juga ensiklopedia macam-macam pengetahuan mulai dari kuliner hingga panduan seksual. Babad Diponegoro adalah memoar yang ditulis Pangeran Diponegoro semasa menjalani hukuman pengasingan di Makassar. Serat Tripama adalah tulisan KGPAA Mangkunegara IV yang mengajarkan petuah mengenai loyalitas pengabdian kepada negara dengan mengambil tiga figur ksatria dalam pewayangan, yakni Patih Suwanda alias Bambang Sumantri, Raden Kumbakarna, dan Adipati Karna.

Hanacaraka rupanya terbilang juga sistem aksara unik. Tak cuma karena hanacaraka pada dasarnya merupakan suatu syair legenda, namun karena dalam hanacaraka masing-masing hurufnya mewakili suatu suku kata tertentu. Sistem aksara berdasarkan suka kata semacam ini terbilang tak banyak padanannya di dunia. Jika merujuk uraian Jared Diamond dalam buku Guns, Germs & Steel, sistem aksara yang tersusun dari beberapa suku kata ini dinamakan sebagai silabari. Menurut Diamond, sedikit saja bangsa-bangsa di dunia yang menggunakan silabari sebagai pola dasar sistem aksaranya. Selain hanacaraka, contoh lain dari silabari adalah sistem aksara kana yang digunakan sebagai komplenter dari sistem kanji di Jepang.

Pada kenyataannya, ketimbang mengembangkan sistem aksara berpola silabari, bangsa-bangsa di dunia umumnya mengembangkan sistem aksaranya menurut sistem alfabet atau sistem logogram. Pada sistem alfabet, setiap aksaranya adalah mewakili fonem yakni bunyi dasar dalam bahasanya. Contoh sistem alfabet adalah aksara Latin, aksara Cyrilic, aksara Arab, dan aksara Hangul Korea. Pada sistem logogram, satu aksara atau lambang tertulis adalah mewakili satu kata. Contoh-contoh dari sistem logogram adalah aksara China, kanji Jepang, hingga aksara-aksara zaman kuno seperti hieroglif Mesir dan cuneiform Sumeria.
[Yoseph Kelik Prirahayanto (Periset Museum Ullen Sentalu)]