Beda Antara Candi Jawa Tengah dan Jawa Timur

candi
Pada umumnya candi langgam Jawa Tengah memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

  1. Bentuk bangunannya tambun.
  2. Atapnya nyata berundak-undak.
  3. Puncaknya berbentuk ratna atau stupa.
  4. Gawang pintu dan relung berhiaskan kala makara.
  5. Reliefnya timbul agak tinggi dan lukisannya naturalis.
  6. Letak candi di tengah halaman.
  7. Kebanyakan menghadap ke Timur.
  8. Kebanyakan terbuat dari batu andesit.
  9. Undakan kaki candi terdiri dari satu bagian kecil dan satu bagian besar membentuk selasar keliling yang lebar.
  10. Tata letak mandala konsentris, simetris, dan formal.
  11. Kala tidak memiliki rahang bawah dan terkesan meyeramkan.
    Kala_prambananedit

Contoh candi langgam Jawa Tengah adalah Candi Prambanan,Candi Borobudur,Candi Mendut, Candi Kalasan, Candi Boko, Candi Dieng

Sedangkan candi langgam Jawa Timur memiliki bentuk berlawanan dengan candi langgam Jawa Tengah.Berikut ciri-ciri candi langgam Jawa Timur :

  1. Bentuk bangunannya ramping.
  2. Atapnya merupakan perpaduan tingkatan.
  3. Puncaknya berbentuk kubus.
  4. Makara tidak ada dan pintu relung hanya ambang atasnya saja yang diberi kepala kala.
  5. Reliefnya timbul sedikit saja dan lukisannya simbolis menyerupai wayang kulit.
  6. Letak candi di bagian belakang halaman.
  7. Kebanyakan menghadap barat.
  8. Kebanyakan terbuat dari bata.
  9. Undakan kaki candi lebih banyak dan terdiri dari beberapa bagian batur membentuk selasar keliling yang sempit.
  10. Tata letak mandala linear, asimetris, dan mengikuti topografi (ketinggian).
  11. Kala dilengkapi dengan rahang bawah dan terkesan senyum.

Contoh bangunan candi langgam Jawa Timur diantaranya Candi Ceto,Candi Jago, Candi Singasari dan Candi Penataran.

kalaPanataran_Jatimedit

Monumen Cinta Bernama Candi Plaosan

Jika India memiliki Taj Mahal sebagai bukti perwujudan cinta Shah Jahan untuk sang istri, maka Indonesia memiliki Candi Plaosan sebagai bukti kekuatan cinta antara dua insan yang berbeda keyakinan. Kisah cinta dua insan ini berawal dari pernikahan antara Pramodhawardani, putri Raja Samarattungga yang memeluk agama Buddha dengan Rakai Pikatan yang memeluk agama Hindu. Alhasil dari pernikahan beda agama ini kelak akan tercipta arsitektur yang bernafaskan hindu budha. Rakai Pikatan yang menghormati keyakinan istrinya, membantu proses pembangunan Candi Plaosan.Sedangkan Rakai Pikatan sendiri di masa kejayaannya berhasil menyelesaikan pembangunan Candi Hindu terlengkap di Nusantara yaitu Candi Prambanan.

Candi Plaosan diperkirakan dibangun pada awal abad ke-9 M yaitu pada masa Rakai Pikatan dari Kerajaan Mataram Hindu berkuasa. Pendapat tersebut dikemukakan oleh seorang ahli yang bernama De Casparis berdasarkan isi Prasasti Sri Kahulunan (842 M) yang menyatakan bahwa Candi Plaosan Lor dibangun oleh Ratu Sri Kahulunan dengan dukungan suaminya. Sri Kahulunan adalah gelar Pramodhawardani setelah menjadi Ratu mendampingi Rakai Pikatan sebagai Raja.

Bukti penguat lainnya adalah ketika pada Oktober 2003 di dekat candi perwara di kompleks Candi Plaosan Kidul ditemukan sebuah prasasti yang diperkirakan berasal dari abad ke-9 M. Prasasti yang terbuat dari lempengan emas berukuran 18,5 X 2,2 cm tersebut berisi tulisan dalam bahasa Sansekerta yang ditulis menggunakan huruf jawa kuno. Isi prasasti masih belum diketahui, namun menurut Tjahjono Prasodjo, epigraf yang ditugasi membacanya, prasasti tersebut menguatkan dugaan bahwa Candi Plaosan dibangun pada masa pemerintahan Rakai Pikatan.

Candi Plaosan terdiri dari Plaosan Lor dan Plaosan Kidul. Keduanya dipisahkan jalan raya kecil. Candi Plaosan Lor merupakan sebuah kompleks percandian yang luas. Candi ini menghadap ke barat, dan bagian depannya terdapat dua pasang arca Dwarapala yang saling berhadapan, di pintu masuk utara dan sepasang di pintu masuk selatan.

Bangunan utama di Candi Plaosan Lor adalah dua candi induk dengan bentuk bangunan bertingkat sering dijuluki juga sebagai candi kembar.Dari relief di dinding candi, pengunjung bisa takjub oleh perasaan cinta yang dimiliki oleh Pikatan dan Pramodhawardani. Relief pada dinding candi induk selatan menggambarkan tokoh laki-laki, konon sebagai bentuk kekaguman Pramodhawardani terhadap Rakai Pikatan.Sebaliknya, relief pada candi yang di utara menggambarkan tokoh perempuan, yang diduga untuk meluapkan kekaguman Rakai Pikatan terhadap Pramodhawardani .
plaosanlor
Keunikan dari arsitektur Candi Plaosan Lor adalah bangunan tersebut dikelilingi oleh candi perwara yang semula berjumlah 174, terdiri atas 58 candi kecil dan 116 bangunan berbentuk stupa. Hal tersebut membuat Candi Plaosan Lor seolah menjadi perpaduan antara unsur hindu (bangunan dikelilingi candi perwara) dan unsur buddha (ditandai dengan stupa).
perwara
Pada bagian dalam di setiap candi utama, terdapat enam ruangan dengan pembagian tiga ruangan terletak di bawah, dan tiga ruangan lainnya terletak di tingkat dua. Lantai papan yang membatasi kedua tingkat saat ini sudah tidak ada lagi, namun pada dinding masih terlihat alur/ceruk bekas tempat memasang lantai. Konon pada jaman dahulu ketika ada upacara sembayang dan umat membludak maka akan dipasang papan kayu pada ceruk diantara lantai 1 dan 2 sehingga umat bisa sembayang di lantai 2.

Di ruang tengah terdapat 3 arca Buddha duduk berderet di atas padmasana menghadap pintu, namun arca Buddha yang berada di tengah sudah raib. Pada dinding di kiri dan kanan ruangan terdapat relung yang tampaknya merupakan tempat meletakkan penerangan. Relung tersebut diapit oleh relief Kuwera dan Hariti.

Di kiri dan kanan, dekat pintu utama, terdapat pintu penghubung ke ruangan samping. Susunan di kedua ruangan bawah lainnya, baik di bangunan utara maupun di bangunan selatan, mirip dengan susunan di ruang tengah. Di sisi timur terdapat 3 arca Buddha duduk berderet di atas padmasana menghadap ke barat. Arca Buddha yang berada di tengah juga sudah hilang.

Pada kompleks Candi Plaosan Kidul sangat disayangkan candi utamanya sudah tinggal reruntuhan. Hanya beberapa candi perwara yang masih berdiri.
plaosankidul
Bagi pengunjung yang penasaran dengan keindahan Candi Plaosan dapat menempuh perjalanan kurang lebih 5 menit menggunakan kendaraan bermotor ke arah tenggara dari Candi Prambanan. Harga tiket masuknya juga terjangkau dan suasana Candi masih terlihat asri dan natural menjadikan Candi Plaosan sebagai obyek wisata yang wajib dikunjungi.

Imogiri Persemayaman Akhir Sang Raja

imogiri2Imogiri terletak di sebelah selatan kota Yogyakarta, tepatnya Kecamatan Imogiri Bantul. Makam ini merupakan komplek pemakaman raja-raja Mataram. Sebelum masa pemerintahan Sultan Agung, kerabat keraton Mataram yang meninggal dimakamkan di sekitar istana Kotagede. Gagasan pembangunan komplek pemakaman baru muncul pada masa pemerintahan Sultan Agung, raja Mataram ketiga. Sebagai seorang raja yang mampu menguasai hampir seluruh Pulau Jawa pada masa itu, beliau berkeinginan agar kebesaran namanya tetap dikenang oleh rakyat Mataram dan generasi penerusnya.

Sultan Agung membangun makam Imogiri mulai 1630. Jika dilihat dari letak geografisnya, Imogiri berada di Bukit Merak yang merupakan jajaran Pegunungan Sewu. Pada awalnya makam ini dibangun di bukit Giri Laya namun dipindahkan ke  bukit Merak karena P Juminah yang ditugasi sebagai pengawas pekerjaan tersebut telah mendahului dimakamkan di Giri Laya. Secara filosofis, pemilihan tempat yang tinggi adalah bagian konsep nirwana dalam budaya Hindu, yakni tempat tujuan akhir perjalanan manusia. Tempat yang tinggi juga merupakan tempat sakral karena merupakan tempat bersemayamnya para dewa. Selain itu, Sultan Agung mengharapkan bahwa raja dan keturunannya yang meninggal akan tetap ditinggikan oleh rakyatnya, meskipun mereka telah tiada.

Sultan Agung menjadi raja Mataram pertama yang dimakamkan di komplek Makam Imogiri  pada tahun 1646. Beliau dimakamkan di tingkat paling atas yang disebut Kasultanagungan. Selain masih terdapat  komplek makam raja-raja Kasultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta di tingkat yang lebih rendah.Jika mengunjungi makam ini, peziarah wajib  mengikuti peraturan yang ada. Hal ini dimaksudkan agar kesucian makam tetap terjaga sehingga pengunjung dapat melakukan ziarah dengan baik. Di antara peraturan yang wajib dipatuhi selama di sana adalah mengenai aturan tata cara berbusana. Para peziarah yang datang diwajibkan mengenakan busana adat Jawa. Bagi pria, busana yang wajib dikenakan adalah surjan dan kain batik, sedangkan untuk wanita mengenakan kain batik serta kemben (kain penutup dada), tanpa mengenakan baju kebaya ataupun perhiasan, serta diwajibkan menata rambut dengan cara gelung tekuk (riasan rambut berupa rambut yang digulung tanpa riasan maupun konde). Begitupula wanita yang sedang datang bulan tidak diperkenankan untuk berziarah di makam ini.

sumber:file ullen

 

Golog Gilig Wajahmu Kini

Tugu Jogja adalah ikon Kota Yogyakarta yang tak bisa dipisahkan. Untuk itu, setiap wisatawan yang berkunjung ke Kota Yogja pasti menyempatkan diri berfoto di sana. Tak hanya bentuk dan pemandangannya yang indah di malam hari, tetapi tugu ini juga menyimpan sejarah yang amat penting, yaitu ‘Sejarah Kraton Yogyakarta’.

Sebut saja, Tugu Jogja. Tugu ini dibangun oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I, Sang Pendiri Kraton Yogyakarta pada tahun 1755. Tugu dengan nama lain Tugu Golog Gilig ini merupakan penggal dari sumbu filosofis yang menghubungkan Gunung Merapi, Kraton Yogyakarta, dan Laut Selatan dalam satu garis imaginer yang bermakna perjalanan hidup manusia menuju kesampurnaan hidup (sangkan paraning dumadi).

tugu

Kata Tugu Golog Gilig diambil dari rekonstruksi temuan arkeologi di lokasi Tugu Jogja sekarang yang konon roboh akibat gempa 10 Juni 1867. Berdasarkan catatan sejarah, di masa lalu, Tugu Golog Gilig menggambarkan Manunggaling Kawula Gusti, semangat persatuan rakyat dan penguasa untuk melawan penjajahan. Semangat itu tergambar jelas pada bangunan tugu yang berbentuk gilig (silinder) dan puncaknya berbentuk golong (bulat). Dari sinilah, Tugu Jogja dapat dikatakan memiliki nama asli ‘Tugu Golong-Gilig’.

Di tahun 1889, saat pemerintah Belanda, keadaan Tugu benar-benar berubah.Pemerintah Belanda merenovasi seluruh bangunan tugu dengan bentuk persegi dengan hiasan prasasti di setiap sisinya.Prasasti ini menunjukkan siapa saja yang terlibat dalam renovasi itu.Tak hanya itu, bagian puncak tugu tak lagi bulat, tetapi diubah menjadi bentuk kerucut yang runcing. Ketinggian bangunannya pun dibaut lebih rendah dari aslinya, yakni setinggi 15 meter atau 10 meter lebih rendah dari bangunan semula (lihat gambar bawah.Perombakan bangunan Tugu saat itu sebenarnya merupakan taktik Belanda untuk mengikis persatuan antara rakyat dan Sang Raja, namun melihat perjuangan rakyat dan Raja Yogyakarta yang berlangsung sesudahnya, akhirnya upaya Belanda ini dapat dikatakan ‘tidak berhasil’.

Melihat sejarah di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa meskipun bangunan Tugu Jogja alias Tugu Golog Gilig yang kita lihat sekarang tak lagi asli, tetapi makna di balik tugu tetaplah murni, yaitu sebagai ‘simbol persatuan rakyat dan Raja Yogyakarta di masa lalu, masa kini, dan masa yang akan datang’.

tugu-golong-gilig

Wamana Awatara/ Wisnu Triwikrama

wamanaARCA berwujud sosok seorang laki-laki ksatria berdiri dengan kaki kiri terangkat mirip gerakan menendang ke samping ini memiliki sebutan Wamana Awatara. Arca dengan nama lain Wisnu Triwikrama ini memiliki ornamen tambahan di bagian kiri bawahnya ini, berupa pahatan berbentuk seorang wanita yang bersimpuh serta menghaturkan sembah dengan dua tangan terangkat setinggi muka.

Wisnu Triwikrama diidentifikasi menukilkan kisah Vamanaavatara, satu di antara mitologi Hindu. Mitologi tersebut mengisahkan tentang penjelmaan Dewa Wisnu sebagai brahmana kerdil (vamana). Wisnu melakukan hal tersebut untuk menyelamatkan dunia dari kekejaman raja raksasa yang bernama Daitya Bali.

Dalam cerita mitologinya, sang brahmana kerdil mendatangi Daitya Bali yang saat itu menguasai seluruh dunia. Ia meminta tempat seluas tiga langkahnya. Permintaan ini diluluskan Daitya Bali. Sekonyong-konyong, sang brahmana kerdil menjelma menjadi seorang raksasa yang begitu besar. Dalam tiga langkah saja, raksasa penjelmaan Wisnu tadi dapat menguasaiseluruh dunia dan alam semesta. Daitya Bali yang terpecundangi lantas diberi tempat di neraka bersama para pengikutnya.

Sosok wanita yang menyembah di sudut bawah arca adalah ibu Daitya Bali. Ia memohon kepada Wisnu untuk mengampuni anaknya dan bersedia mengeluarkan anaknya dari neraka.

Di antara dua nama yang acap digunakan untuk menyebut si arca dengan kaki kiri terangkat tinggi, Wamana Awatara serta Wisnu Triwikrama, nama pertamalah yang paling tepat. Pasalnya, si arca memang berisi penggambaran tentang cerita satu awatara Wisnu dengan bentuk manusia kerdil, yang mampu mengalahkan raksasa Daitya Bali. Penyebutan alternatif berupa Wisnu Triwikrama pada dasarnya lebih untuk menggambarkan kekuatannya, yang mampu menguasai seluruh dunia dengan tiga langkah kaki.

Arca Wamana Awatara alias Wisnu Triwikrama adalah penemuan di Situs Sumur Bandung, Dusun Groyokan, Sambirejo, Prambanan. Arca ini berukuran tinggi 88 centimeter, lebar 42 centimeter, dan tebal 27 centimeter. Seperti halnya arca Narasimha, arca Wamana Awatara ini terhitung langka. Karena itu, arca asli Wamana Awatara alias Wisnu Triwikrama hasil penemuan di Situs Sumur Bandung tersimpan di Kantor Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Yogyakarta. Lalu, untuk kepentingan edukasi bagi masyarakat umum, BPCB membuat replika resmi yang kini dipajang di Selasar Retja Landa Museum Ullen Sentalu.

Oleh Yoseph Kelik

Narasimha

narasimhaARCA dalam gambar di samping memiliki sebutan Narasimha. Arca tersebut merupakan penggambaran Dewa Wisnu yang tengah menjelma dalam wujud setengah manusia dan setengah binatang: berbadan manusia, tetapi berkepala singa. Sang manusia berkepala singa ini digambarkan dalam pose yang terbilang dinamis serta tak formal, yaitu sedang menghimpit dan membelah dada musuh memakai kuku tangan.

Arca Narasimha mewakili pula sebuah kisah mitologi di dalam Hinduisme yakni Narasimhaavatara. Cerita tersebut berawal ketika dunia dalam keadaan terancam oleh raja raksasa bernama Hiranyakasipu. Ia sangat sakti karena sebelumnya pernah mendapat anugerah dari Dewa Brahma berupa kesaktian kebal dari segala senjata, tidak dapat dibunuh di tanah, air, maupun udara, tidak dapat dibunuh pada waktu siang maupun malam, tidak dapat dibunuh di dalam ruang maupun di luar ruangan, tidak pula dapat dibunuh oleh manusia, binatang, ataupun dewa. Dengan demikian, Hiranyakasipu seolah tak memiliki kelemahan yang bisa membuatnya terkalahkan.

Namun, Dewa Wisnu ternyata tak hilang akal ketika dihadapkan dengan kesaktian luar biasa Hiranyakasipu. Wisnu lantas mengubah wujudnya menjadi Narasimha, si makhluk setengah manusia dan setengah binatang, yang berbadan manusia serta berkepala singa. Akhirnya, Wisnu berhasil membunuh raja Hiranyakasipu dengan menghimpit dan membelah dadanya memakai kuku tangan, pada saat sore hari, di ambang sebuah pintu. Pemilihan wujud, tindakan menghimpit, penggunaan kuku tangan, pemilihan tempat, juga pemilihan waktu oleh Wisnu dalam upayanya menaklukkan Hiranyakasipu adalah kecerdikan memanfaatkan kelemahan dari kesaktian si raja raksasa.

Konon, cerita Narasimhaavatara menjadi embrio dari kepercayaan tradisional di kalangan masyarakat Jawa untuk menghindari duduk maupun berdiri di ambang pintu, lebih lagi di sore hari. Hal tersebut dipandang dapat menimbulkan kesialan, sebagaimana Hiranyakasipu yang terkalahkan oleh Wisnu di ambang pintu pada sore hari.

Arca Narasimha terhitung arca langka. Di seputaran daerah Yogyakarta, arca Narasimha tercatat cuma ditemukan di kompleks Candi Ijo, yang terletak di sebelah selatan Percandian Prambanan. Arca tersebut memiliki ukuran tinggi 86 centimeter, lebar 39 centimeter, serta tebal 25,5 centimeter. Karena langka, arca asli Narasimha hasil penemuan di Candi Ijo tersimpan di Kantor Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Yogyakarta. Lalu, untuk kepentingan edukasi bagi masyarakat umum, BPCB membuat replika resmi yang kini dipajang di Selasar Retja Landa Museum Ullen Sentalu.
Vaisnawa
Candi Ijo yang menjadi lokasi penemuan arca Narasimha diperkirakan merupakan hasil pembangunan dari sekitar abad VIII-X Masehi, yaitu masa eksistensi Kerajaan Mataram Kuno di Jawa Tengah. Usia Candi Ijo kurang lebih sepantaran dengan Percandian Prambanan. Candi Ijo memiliki latarbelakang keagamaan Hindu dengan aliran Siwaisme. Hal tersebut dapat diketahui dari ciri-ciri fisik bangunannya, contohnya dari jenis arca yang ada dalam candi dan tata letak candi. Dewa yang sangat dipuja di Candi Ijo adalah dewa Siwa, yang diarcakan dalam candi dengan wujud lingga-yoni sebagai lambang bersatunya Dewa Siwa dengan Parwati, istrinya. Di Candi Ijo juga ditemukan arca-arca penting Hindu lainnya yakni Agastya, Ganesha, serta Durga. Arca-arca tersebut saat ini disimpan di Kantor Balai Pelestarian Cagar Budaya Yogyakarta.

Alhasil, penemuan arca Narasimha, yang kental bernuansa pemujaan terhadap Wisnu, di kompleks Candi Ijo, yang notabene kental dengan nuansa pemujaan terhadap Siwa, adalah sesuatu yang terbilang menarik. Tafsir yang muncul adalah agama Hindu aliran Vaisnawa alias pemujaan terhadap Wisnu dapat berkembang pada masa kejayaan Mataram Kuno, berdampingan dengan perkembangan aliran Siwaisme alias pemujaan terhadap Siwa.

Vaisnawa adalah aliran yang mempercayai Dewa Wisnu selaku dewa tertinggi. Dewa tersebut sangat dipuja dan diarcakan baik dalam wujud asli maupun penjelmaannya. Selain dalam versi Narasimha yang berkepala singa dan berbadan manusia, arca Dewa Wisnu umumnya dapat dikenali dalam wujud dewa bermahkota dan bertangan empat. Beberapa laksana atau atribut menghiasi masing-masing dari empat tangan itu:

  1. Tangan kanan bawah memegang padma yakni bunga teratai merah, yang biasanya dipahatkan dengan bentuk mekar.
  2. Tangan kanan atas memegang senjata gada.
  3. Tangan kiri bawah memegang senjata cakra yang secara umum berbentuk seperti roda kereta, ada yang bentuknya sederhana, tetapi ada yang diberi hiasan penuh, diantaranya diberi hiasan teratai mekar.
  4. Tangan kiri atas memegang sankha yakni semacam alat musik yang terbuat dari cangkang binatang Gastropoda atau siput.

(Yoseph Kelik/Periset di Museum  Ullen Sentalu) 

Cerita atau Lakon Panji(Bagian 1 dari serial artikel seputar lakon Panji)

panjiCerita atau lakon Panji ialah sebuah kumpulan cerita yang berasal dari Jawa periode klasik. Dalam hal ini, ada dua pendapat besar. Pertama, cerita tersebut dipercaya dari era Kerajaan Kediri, abad XI – XIII Masehi. Kedua, cerita tersebut berasal dari zaman Kerajaan Majapahit, abad XIII – XIV Masehi.

Cerita dalam lakon Panji cenderung diyakin berhubungan dengan tokoh-tokoh nyata dalam sejarah Jawa, terutama Jawa Timur. Tokoh Panji Asmarabangun dihubungkan dengan Sri Kamesywara, raja yang memerintah Kediri sekitar tahun 1180 hingga 1190-an. Permaisuri raja ini memiliki nama Sri Kirana adalah puteri dari Jenggala, dan dihubungkan dengan tokoh Candra Kirana. Selain itu ada pula tokoh seperti Dewi Kilisuci yang dikaitkan sebagai orang yang sama dengan Sanggramawijaya Dharmmaprasadotunggadewi, puteri mahkota Airlangga yang menolak untuk naik takhta dan memilih menjadi pertapa.

Isi cerita Panji adalah mengenai kepahlawanan dan cinta yang berpusat pada dua orang tokoh utamanya, yaitu Raden Inu Kertapati (atau Panji Asmarabangun) dan Dewi Sekartaji (atau Galuh Candrakirana). Cerita ini mempunyai banyak versi. Cerita-cerita dalam berbagai versi ini dimasukkan dalam satu kategori yang disebut “Lingkup Panji” (Panji Cycle). Berbagai cerita Panji tersebut dalam kesan awalnya bisa saling berbeda, tetapi sebenarnya saling berhubungan atau memiliki benang merah satu sama lain.

Beberapa cerita rakyat Jawa seperti Keong Mas, Ande-ande Lumut, dan Golek Kencana contohnya juga merupakan turunan dari Lakon Panji. Hanya saja, cerita-cerita turunan itu sering berfokus kepada salah satu fragmen saja dari Lakon Panji.

Aneka varian Lakon Panji telah menyebar di beberapa tempat di Kepulauan Nusantara, mulai dari Jawa, Bali, Kalimantan, Malaysia, dan Filipina. Bahkan, cerita tersebut dikenal juga di negara-negara Asia Tenggara Daratan seperti Thailand, Kamboja, serta Myanmar.

Pada setiap daerah atau negara yang mengenalnya, cerita-cerita dalam Lingkup Panji banyak digunakan dalam berbagai pertunjukan tradisional. Di Jawa, Cerita Panji digunakan dalam pertunjukan Wayang Gedog. Di Bali, terkenal sebagai “Malat”. Lalu, pertunjukan Arja juga memakai lakon ini. Kisah ini juga menjadi bagian tradisi dari Suku Banjar di Kalimantan Selatan meskipun kini mulai kurang dikenal oleh masyarakat. Di Thailand terdapat seni pertunjukan klasik yang disebut “Inao” (Bahasa Thai:) yang berasal dari nama “Inu/Ino”. Begitu pula Kamboja yang mengenal lakon ini sebagai “Eynao”.

Oleh Divisi Riset Museum Ullen Sentalu

Candi Sukuh

Candi Sukuh

Lokasi: Desa Sukuh, Barjo, Ngargoyoso, Karanganyar, Jawa Tengah
Koordinat: 7° 37’ 38,000″ LS 111° 7’ 52,500″ BT
Ketinggian: 1198 dpl

Candi Sukuh adalah kompleks candi yang terdiri dari halaman berteras. Yang menjadikan Candi Sukuh menarik adalah relief lingga dan yoni yang terdapat di bagian dalam gapura di halaman pertama. Relif dipahat di lantai masuk gapura dan bergaya naturalis.

Candi induk terletak di halaman ketiga dan dianggap paling sakral dengan tipe bangunan berundak teras di lereng gunung yang banyak ditemukan pada jaman Majapahit. Dari candasengkala yang ada di gapura pertama yang berbunyi “gapura buta mangan wong” diperkirakan Candi Sukuh dibangun pada tahun 1359 Saka atau 1437 Masehi.

candi-sukuh

Sumber:
Candi Indonesia, Seri Jawa
Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman
Direktorat Jenderal Kebudayaan
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan – 2013

Foto: Ullen Sentalu

Candi Cetho

Candi Cetho

 

Lokasi: Dusun Cetho, Gumeng, Jenawi, Karanganyar, Jawa Tengah
Koordinat: 7° 35’ 44,800″ LS 111° 9’ 28,900″ BT
Ketinggian: 2711 dpl

Candi Cetho adalah candi berlatarbelakang agama Hindu, terletak di lereng Gunung Lawu. Candi Cetho didirikan pada tahun 1373 Saka (1451 Masehi) berdasarkan candrasangkala yang diwujudkan dalam relief binatang.

Hasil rekonstruksi di tahun 1928 Candi Cetho berjumlah 13 undakan teras terbentang sepanjang 200 meter dari arah barat (bagian terbawah) ke timur (bagian tertinggi), dengan gapura di setiap terasnya. Pada pemugaran tahun 1978 jumlah undakan teras berubah menjadi sembilan teras dan sekelompok candi bentar didirikan untuk pintu masuk undakan-undakan teras.

candi-cetho-1

 

Sumber:
Candi Indonesia, Seri Jawa
Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman
Direktorat Jenderal Kebudayaan
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan – 2013

Foto: Ullen Sentalu

Situs Ratu Boko

 

Lokasi: Dusun Dawang, Bokoharjo, Prambanan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta
Koordinat: 7° 46’ 12,000″ LS 110° 29’ 24,000″ BT
Ketinggian: 235 dpl

Di kompleks situs Ratu Boko ini terdapat miniatur candi berjumlah 3 buah candi. Walau berbentuk miniatur, ketiga candi ini mungkin juga digunakan sebagai tempat peribadatan. Candi utama diapit oleh dua candi yang ukurannya relatif lebih kecil.

Selain tiga miniatur candi dan prasasti (Abhayagiri, Ratu Boko B, Pereng), di kompleks ini juga ditemukan yoni, arca Ganesha, arca Durga dan lempengan emas dan perak yang bertuliskan mantera agama Hindu serta arca-arca Buddha, reruntuhan stupa dan stupika yang menunjukkan di Situs Ratu Boko terdapat unsur agama Buddha dan agama Hindu.

Sumber:
Candi Indonesia, Seri Jawa
Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman
Direktorat Jenderal Kebudayaan
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan – 2013