Jiwa Satria dalam Beksan Lawung Ageng

Jiwa Satria dalam Beksan Lawung Ageng

Gerakan tombak yang gagah diiringi teriakan dan alunan gending yang cepat dan menghentak menguggah semangat para penonton yang sedang menikmati tarian Beksan Lawung Ageng. Tarian Beksan Lawung Ageng ini diciptakan oleh Sultan Hamengku Buwono I.

Tarian ini menggambarkan latihan perang bertombak(lawung) yang dilakukan oleh para satria.Pada tarian ini terkandung nilai satria dan heroik. Iringan yang digunakan adalah gending Gangsaran yang merupakan gending penyemangat perang. Tidak heran memberi kesan gagah perkasa, agung dan semangat juang yang tinggi.Beksan lawung biasanya dipentaskan pada acara/ upacara penting, seperti menyambut tamu, dan pernikahan keluarga keraton.

Beksan Lawung Ageng dibawakan oleh 16 penari pria dengan formasi sebagai berikut Botoh 2 orang , salaotho (abdi pelawak) 2 orang,lurah 4 orang, jajar 4 orang, dan pengampil 4 orang (pembawa tombak).Jika formasi penari dikurangi, namanya pun menjadi Lawung Alit. Pengurangan bisa dilakukan dengan penampilan 4 jajar saja, 4 lurah saja, atau tambah 2 orang botoh.

Keindahan Golek Menak

Keindahan Golek Menak

Tari Golek Menak merupakan salah satu tari klasik gaya Yogyakarta yang diciptakan oleh Sultan Hamengku Buwono IX. Inspirasi penciptaan Tari Golek Menak diawali dari ketertarikan HB IX ketika menyaksikan keindahan pagelaran wayang Golek Menak oleh seorang dalang dari Kedu pada 1941.

Sri Sultan HB IXSri Sultan Hamengku Buwono IX

Dalam penciptaan Tari Golek Menak,Sultan Hamengku Buwono IX dibantu oleh beberapa pakar tari yakni KRT Purbadiningrat, KRT Sasmintadipura, KRT Brongtodiningrat, Pangeran Suryobrongto, KRT Madukusuma, KRT Wirodiprojo, KRT Mertodipuro, RW Hendramardawa, RB Kuswaraga, dan RW Laras Sumbaga. Proses penciptaan koreografi setiap penggalan fragmen pun berlangsung hampir setengah abad.Pagelaran perdana dipentaskan di kraton pada 1943 untuk memperingati hari ulang tahun sultan. Penciptaan karya Tari Golek Menak kemudian mengalami proses penyempurnaan yang panjang. Tak jarang pertemuan dan dialog sarasehan antara sultan dan para pakar seni tari dilakukan. HB IX pun memutuskan membentuk suatu tim untuk penyempurnaan suatu karya Tari Golek Menak yang akan menjadi karya besar ciptaannya. Pada 1 Juni 1988, enam lembaga seni di Yogyakarta bergabung dalam tim tersebut, yaitu: Siswo Among Beksa, Pusat Latihan Tari Bagong Kusudiarjo, Sekolah Menengah Karawitan Indonesia, Merdawa Budaya, Paguyuban Surya Kencana, dan Institut Seni Indonesia. Masing masing lembaga sepakat menyatakan kesanggupan untuk terlibat dalam penyempurnaan karya tersebut dengan menciptakan formasi cerita melalui karakter-karakter tokoh yang dihadirkan.

Lokakarya demi lokakarya untuk pembahasan sumbangsih garapan setiap lembaga dilakukan secara maraton dengan puncak pertemuan tanggal 14 September 1988 di anjungan DIY Taman Mini Indonesia menghasilkan suatu karya yang membuat Sultan Hamengku Buwono IX cukup puas. Hasil lokakarya tersebut baru hasil awal dari proses penyempurnaan Tari Golek Menak. Sultan mengharapkan diadakan pertemuan lanjutan untuk membuat rencana kerja kedua pada bulan bulan Maret 1989. Angan besar Sultan Hamengku Buwono IX untuk menyaksikan hasil kerja kedua dari tim penyempurna Tari Golek Menak tidak terlaksana karena pada 3 Oktober 1988, Sultan Hamengku Buwono IX mangkat dalam lawatan di USA.

 

14 Makanan dan Minuman yang Sudah Ada Zaman Jawa Kuno (Bagian 2)

14 Makanan dan Minuman yang Sudah Ada Zaman Jawa Kuno (Bagian 2)

Jika pada artikel sebelumnya kita telah mengetahui 7 makanan-minuman yang sudah ada sejak zaman Jawa Kuno. Berikut ini  adalah 7 makanan-minuman lain yang sudah ada sedari zaman Jawa Kuno sebagaimana diterangkan oleh Prof Dr Timbul  Haryono, Guru Besar Arkeologi Universitas Gadjah Mada, pada 6 Juni 2015:

makanan5

8.Dawet:
Minuman segar dan manis dari hasil perpaduan air gula merah, santan kelapa, dan butiran-butiran kenyal berbahan tepung beras yang dinamakan cendol ini rupanya telah ada zaman Kerajaan Kediri, sekitar abad XII Masehi. Hal ini tercatat dalam kitab Kresnayana yang berkisah tentang percintaan Krisna dan Rukmini. Sekarang, ada beberapa dawet yang menjadi minuman khas bagi daerahnya. Sebut saja dalam hal ini adalah dawet ayu dari Banjarnegara, dawet telasih dari Pasar Gede di Solo, juga dawet ala Bayat, Klaten, yang lebih banyak di jual di Kalasan, Yogyakarta.

9.Kerupuk:
Makanan ini dibuat dari adonan tepung bercampur lumatan udang atau ikan, yang lalu dikukus, kemudian dibentuk tipis-tiipis melalui pengirisan ataupun pencetakan, lantas dijemur, serta akhirnya digoreng sehingga menjadi renyah. Keberadaan kerupuk telah disebutkan dalam kitab Sumanasantaka yang merupakan hasil penulisan dari zaman Kediri pada abad XII. Isi Sumanasantaka adalah kisah bidadari Harini yang dikutuk Begawan Trnawindu sehingga menjalani hidup di sebagai manusia di Bumi, lalu diperistri oleh Pangeran Aja, dan dari perkawinan mereka lahirlah Dasarata yang nantinya akan menjadi ayah dari Rama.

10.Rawon:
Masakan ini sekarang identik sebagai makanan khas daerah-daerah di Jawa Timur, khususnya Surabaya. Hidangan olahan irisan daging ini bercirikan genangan kuah cokelat gelap menjurus hitam yang dihasilkan dari penggunaan biji kluwak sebagai salah satu bumbunya. Keberadaan rawon sudah disebutkan dalam kitab Bomakawya yang berasal dari zaman Kerajaan Kediri.

11.Ikan asin:
Macam-macam ikan laut yang diawetkan dengan cara digarami dan dikeringkan ini dicatat keberadaannya dalam kitab Bomakawya dari zaman Kediri.

12.Wajik:
Jajanan manis berbahan dasar ketan yang dimasak bersama cairan gula merah sehingga berwarna kecokelatan ini telah tercatat keberadaannya dalam kitab Nawa Ruci yang berasal dari zaman Kerajaan Majapahit, sekitar abad XIV Masehi. Nawa Ruci sendiri bercerita tentang petualangan Bima mencari air suci tirta amertha yang membuatnya sampai menyelam jauh ke dalam samudera. Sekarang, wajik dikenal sebagai makanan khas dari Magelang.

13.Jadah:
Penganan dari ketan yang dihaluskan dan lalu dibentuk menjadi lempengan-lempengan atau kepalan-kepalan ini telah disebutkan keberadaannya dalam kitab Nawa Ruci hasil penulisan pada zaman Majapahit. Contoh jadah yang menjadi penganan tersohor adalah jadah tempe ala Kaliurang, Sleman, Yogyakarta.

14.Serbat:
Minuman hangat pedas berbahan dasar jahe yang dicampur bersama tambahan bahan-bahan lain seperti kencur, kemiri, dan adas pulowaras ini telah dicatat keberadaannya dalam kitab Kidung Harsawijaya yang berasal dari zaman Majapahit. Kidung Harsawijaya sendiri bercerita tentang sejarah masa akhir Singhasari sampai berdirinya Majapahit.

(Yoseph Kelik P, Periset di Museum Ullen Sentalu)

14 Makanan dan Minuman yang Sudah Ada Zaman Jawa Kuno (Bagian 1)

14 Makanan dan Minuman yang Sudah Ada Zaman Jawa Kuno (Bagian 1)

SUKA sama kuliner tradisional Jawa? Di antara aneka makanan-minuman tradisional Jawa, ternyata ada 14 macam yang umurnya sudah berabad-abad atau malah sudah lebih dari 1.000 tahun. Itu artinya makanan-minuman itu berasal dari zaman Gajah Mada masih menjabat sebagai mahapatih amangkubhumi di Majapahit, bahkan berasal dari zaman ketika candi-candi di Kompleks Percandian Prambanan sedang disusun batu-batunya. Empat belas makanan-minuman tersebut masih tetap populer di dalam masyarakat zaman Indonesia sekarang. Keluarga-keluarga Indonesia masih lazim mengolah dan menghidangkan makanan-minuman itu di rumah mereka. Di banyak tempat pun masih ada pedagang yang menjual makanan-minuman itu. Bahkan, ada beberapa dari 14 makanan-minuman itu terkenal menjadi kuliner khas sejumlah kota . Berikut ini 14 makanan-minuman yang sudah ada sedari zaman Jawa Kuno sebagaimana diterangkan oleh Prof Dr Timbul Haryono, Guru Besar Arkeologi Universitas Gadjah Mada, pada 6 Juni 2015:

makanan31.Dendeng:
Makanan berupa daging yang dikeringkan dan dibumbui sehingga membentuk lembaran-lembaran tipis ini turut disebutkan dalam Prasasti Taji yang berangka tahun 901 Masehi dari era Kerajaan Medang.

2.Urap:
Olahan beberapa sayur yang dibumbui memakai parutan kelapa ini turut disebutkan dalam Prasasti Linggasuntan yang berangka tahun 929 Masehi dari era Kerajaan Medang.

3.Lalapan:
Sajian sayur yang tetap dibiarkan mentah atau sekadar direbus sebentar ini turut disebutkan dalam Prasasti Jeru-jeru yang berangka tahun 930 Masehi dari era Kerajaan Medang.

4.Dodol:
Kini, kue manis yang kenyal, lengket, dan berwarna cokelat gelap ini begitu identik sebagai jajanan khas kota Garut di Jawa Barat. Namun, jika mengamati bentuk, bahan baku, maupun penyajiannya, jenang ala kota Kudus di Jawa Tengah sebenarnya terbilang juga di dalam keluarga besar dodol. Nah, dodol rupanya sudah turut disebutkan dalam saduran kitab Ramayana versi Jawa. Ramayana sendiri acap dianggap sebagai karya sastra India yang pertama kali disadur oleh masyarakat Jawa. Ramayana versi Jawa diperkirakan berasal dari zaman akhir Kerajaan Medang, yakni ketika masih menempati Jawa Tengah dan belum dipindahkan ke Jawa Timur oleh Maharaja Sindok. Penyaduran Ramayana guna menciptakan versi Jawanya diperkirakan terjadi antara 840 Masehi sampai dengan 930 Masehi.

5.Tape ketan:
Ramayana versi saduran Jawa yang diperkirakan berasal dari pertengahan abad IX atau awal abad X Masehi sudah menyebutkan tentang keberadaan tape ketan. Kini, makanan bercitarasa manis-asam dan kerap dijadikan campuran minuman ini terkenal sebagai makanan khas dari kota Muntilan dan Magelang.

6.Pecel:
Ramayana versi saduran Jawa juga turut menyebut tentang keberadaan hidangan pecel. Makanan yang pada dasarnya merupakan racikan sejumlah sayuran yang diguyur saus bumbu kacang ini sampai sekarang populer. Sayuran yang biasa dipakai sebagai bahan utamanya adalah bayam, atau sawi, atau kangkung. Namun, sejumlah sayuran lain acap ditambahkan yakni kacang panjang, taoge, kembang turi, kubis, hingga irisan wortel. Selain itu, pecel sering dihidangkan dengan dilengkapi sejumlah lauk seperti rempeyek, kerupuk, karak beras, hingga telur asin. Orang antara lain kerap menjadikannya sebagai salah satu pilangan menu untuk sarapan. Karena itu banyak warung makan laris yang mengandalkan menu ini sebagai jualan utamanya. Madiun di Jawa Timur adalah contoh kota yang dikenal karena racikan pecelnya.

7.Agar-agar:
Smaradahana, kitab sastra bergenre kakawin dari zaman Kerajaan Kediri di abad XII Masehi ternyata telah mencatat keberadaan penganan yang diidentifikasi sebagai agar-agar. Namun belum dapat dipastikan pula seperti apa tepatnya agar-agar yang dicatat oleh Smaradahana ini, apakah berbahan rumput laut sebagaimana dikenal sekarang atau berbahan lain. Smaradahana sendiri mengisahkan Dewa Kama dan Dewi Ratih yang harus menjalani inkarnasi ke dunia setelah Kama terbakar hangus ketika coba membangunkan Siwa dari meditasi khusyuknya.

Bersambung ke bagian 2

(Yoseph Kelik P, Periset di Museum Ullen Sentalu)

Menilik Wihara Sang Biksu di Candi Sari

Menilik Wihara Sang Biksu di Candi Sari

Candi Sari terletak di Dusun Bendan, Desa Tirtomartani,Kalasan,Sleman,Daerah Istimewa Yogyakarta.Para ahli memperkirakan candi ini dibangun bersamaan dengan candi Kalasan,yakni sekitar abad 8 Masehi pada masa pemerintahan Sri Maharaja Rakai Panunggalan.

Bangunan ini aslinya merupakan bangunan wihara atau asrama yang diperuntukan bagi para biksu Buddha. Bangunan ini bertingkat dua dengan loteng berlantai kayu.Hal ini bisa dilihat pada dinding ruang dalam terdapat ceruk-ceruk untuk meletakkan kayu penyangga lantai atas.Konon bagian loteng digunakan sebagai tempat tinggal para biksu (sangha), ruang meditasi, atau perpustakaan.Sedangkan bagian bawahnya adalah tempat pemujaan dan pengajaran.

Pada bagian dalam bilik, tidak ditemukan arca karena fungsi utama candi Sari bukan sebagai tempat pemujaan tetapi biara para biksu. Pada dinding luar dihiasi ukiran Bodhisatwa,Tara,Kinnara, dan Kinnari yang sangat indah.Kinnara dan Kinnari adalah makhluk mitologi di Hindu dan Budhha.Wujud mereka adalah makhluk separuh manusia dan separuh burung.Berbeda dengan biasanya sosok Kinnara dan Kinnari di Candi Sari digambarkan sebagai manusia dengan sayap dipunggungnya mirip dengan penggambaran malaikat.Pada dinding Candi Sari juga dilapisi oleh lapisan Vajralepa, semacam plester putih untuk melindungi candi.

Sosok dewi Tara pada dinding selatan candi sendiri juga terlihat anggun dan gemulai dengan ekspresi muka yang tenang,bijak dan lembut dengan sikap tubuh yang disebut Tribhanga yaitu sambil memegang teratai merah dan biru.

candi-sari

dewitara

ceruklantai2

Kalpataru,_Kinnara-Kinnari,

 

sumber:

http://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbyogyakarta/2014/06/13/selayang-pandang-candi-sari/

https://id.wikipedia.org/wiki/Candi_Sari
Kartapranata, Gunawan. 2014. Indonesia dalam Infografik. Penerbit Kompas: Jakarta.

Memandang Bencana Sebagai Paringan Gusti

kekuatanjiwaJudul Buku : Kekuatan Jiwa Orang Jawa Kebangkitan Dari Bencana Gempa Bumi 2006 Dan Erupsi Merapi 2010
Penyusun : Dr. Widya Nayati , M.A
Penyunting : Dr. Widya Nayati, M.A
Penerbit : Ombak
Tahun Terbit : 2012
Jumlah halaman : vii + 47
Buku berjudul Kekuatan Jiwa Orang Jawa Kebangkitan Dari Bencana Gempa Bumi 2006 Dan Erupsi Merapi 2010 merupakan buah dari program kegiatan oleh Pusat Kajian Pengembangan Kebudayaan Indonesia Universitas Gajah Mada. Merupakan tulisan kompilasi beberapa orang akademisi yang telah melalui penyuntingan oleh Dr. Widya Nayati, M.A. Isinya mengenai “rahasia” ketahanan jiwa masyarakat Yogyakarta di dua lokasi bencana alam yang pernah menimpa Yogyakarta di tahun 2006 dan 2010, hingga menjadikan mereka segera pulih dan berbenah diri dalam waktu yang relatif cepat. Buku ini berisi enam bab. Dua bab mengkisahkan ulang peristiwa gempa bumi yang menimpa Yogyakarta bagian selatan di tahun 2006 dan bagaimana masyarakat di Yogya selatan menyikapinya. Satu bab yang lain mengkisahkan peristiwa erupsi Gunung Merapi yang menimpa masyarakat Yogya bagian utara dan bagaimana mereka menyikapinya. Tiga bab sisanya mengurai bagaimana kearifan hidup orang Jawa tampil sebagai benteng pertahanan jiwa korban-korban gempa dan erupsi Merapi hingga mampu segera bangkit dari keterpurukan bahkan menyikapi bencana yang menimpa secara positif.

Tak peduli seberapa parah kerugian jiwa dan benda yang dialami, bagi para korban terdampak bencana, bencana alam tetap dipandang sebagai “paringan Gusti” yang tak bisa dihindari tetapi harus diterima. Masyarakat di lereng Merapi telah mengenal aktivitas Merapi dengan siklus empat tahunan sekali. Karenanya erupsi Merapi telah dianggap sebagai bagian dari kehidupan mereka yang pada akhirnya akan memberikan rejeki. Dalam kepercayaan setempat, erupsi Merapiadalah pertanda bahwa Eyang Merapi sedang mengadakan hajatan. Harta benda, hasil bumi, dan ternak yang musnah dalam bencana dianggap sekedar dipinjam oleh Eyang Merapi untuk keperluan hajatannya dan kelak “dikembalikan” berkali-kali lipat di masa-masa selanjutnya. Tanah tempat tinggalnya tetap dianggap tanah yang “ngrejekeni” artinya sarat rejeki meskipun rawan erupsi Merapi. Ini sekilas teladan menyikapi secara positif dalam kondisi terburuk sekalipun. Korban gempa di wilayah selatan Yogyakarta pun bersikap demikian. Terlepas dari segala kerugian harta benda yang diderita mereka masih bersyukur nyawanya masih terselamatkan. Ketika gempa terjadi (sekitar pukul 5.55 WIB), mereka sudah bangun tidur dan bekerja jauh dari rumah. Bagi mereka bangun pagi dan bekerja menjadi suatu berkat Ilahi yang telah menghindarkan mereka dari akibat terburuk “paringan Gusti” tersebut.

Hubungan yang masih kuat antara masyarakat Yogyakarta dengan raja sebagai pimpinan tertinggi dalam konteks budaya terwujud dalam kunjungan Sultan Hamengku Buwana X ke dua lokasi bencana, gempa dan erupsi. Mereka seolah memperoleh ketentraman batin setelah raja menjenguk mereka di lokasi bencana. Kehadiran raja turut menjadi sarana pemersatu. Yang utama pedoman pada nilai luhur dan prinsip hidup gotong royong, eling lan waspada, sapa obah mamah, manungsa saderma nglakoni, atau Gusti ora sare menjadikan mereka lebih mudah bangkit, tidak hanya bagi diri atau kelompok kerabatnya saja melainkan bersama-sama dengan sesama korban bencana di sekitarnya. Slogan di cover belakang buku ”Dudu Sanak Dudu Kadang Yen Mati Melu Kelangan” menekankan hal ini.

Buku setebal hanya sekitar 40-an halaman ini boleh jadi cukup komprehensif menjadi rujukan awal untuk memahami sikap hidup orang Jawa tentang bertahan dan bangkit dalam situasi sulit. Menarik pula membaca cerita-cerita lisan di masyarakat lokal yang membentuk sikap positif dalam melalui bencana atau situasi sulit. Tak menutup kemungkinan dengan membaca buku pembaca menemukan perspektif baru dalam menyikapi setiap peristiwa hidup. (Ch. Maria Goreti/ Divisi Riset Museum Ullen Sentalu)

 

Warna-Warni Budaya dalam Barisan Prajurit Yogyakarta

prajuritJudul Buku : Prajurit Kraton Yogyakarta:
Filosofi dan Nilai Budaya Yang Terkandung di Dalamnya
Penyusun : H. Yuwono Sri Suwito, RM Tirun Marwito, Marsono, Ign. Eka Hadiyanta, Sektiyadi, Dharma Gupta, Pratiwi Yuliani
Penyunting : Mustofa W. Hasyim, Dodi Ps
Penerbit : Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Yogyakarta
Tahun Terbit : 2009
Jumlah halaman : x + 94

Prajurit Kraton Yogyakarta bukan hanya barisan pria berseragam dan bersenjata, tapi juga bagian dari khazanah budaya Jawa di Yogyakarta. Memiliki sejarah sepanjang Kesultanan Yogyakarta itu sendiri, prajurit Kraton sudah berabad-abad makan asam garam dari menjadi instrumen pertahanan kerajaan dalam bentuk kesatuan militer yang sempat membuat Inggris kewalahan, terbentur kebijakan demiliterisasi dan menjadi sebatas pengawal, sampai akhirnya hadir di era Republik sebagai pelengkap seremonial adat Kraton. Fungsi yang terakhir ini semakin menyoroti sisi filosofis dan budaya dari prajurit Kraton, dan inilah yang menjadi hidangan utama buku ini.

Setelah menyediakan latar belakang berupa sejarah Yogyakarta beserta prajurit Kraton di awal, buku terbitan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Yogyakarta ini membawa pembaca menjelajah seluk beluk prajurit Kraton Yogyakarta. Di era modern, yang berada di pucuk komando para prajurit Kraton Yogyakarta adalah Manggalayudha, perwira tertinggi yang secara simbolik setara dengan Jenderal di hierarki militer modern, diikuti Pandhega yang setara dengan Kolonel. Mereka membawahi sepuluh bregada atau kesatuan prajurit, yaitu Wirabraja, Dhaeng, Patangpuluh, Jagakarya, Prawiratama, Nyutra, Ketanggung, Mantrirejo, Bugis, Surakarsa. Tiap bregada dikomando oleh perwira berpangkat Kapten, dan regu-regu dalam bregada dipimpin seorang Sersan. Setiap posisi memiliki sistem struktural, seragam, panji-panji, sampai nama senjata yang berbeda.

Selain nilai budaya fisik, buku ini juga membahas nilai filosofis di balik penamaan dan budaya perilaku prajurit Kraton. Falsafah dasar prajurit Kraton pertama kali diletakkan oleh Sultan Hamengku Buwana I yaitu “Sawiji, Greget, Sengguh, Ora Mingkuh” dapat diartikan sebagai “Konsentrasi, Semangat, Percaya Diri, Pantang Mundur”. Bahkan nama-nama bregada pun memiliki filosofi di baliknya. Sebut saja prajurit Wirabraja yang dalam Sansekerta berarti “berani” dan “tajam”, mengisyaratkan “prajurit yang sangat berani melawan musuh dan tajam serta peka panca inderanya”. Juga prajurit Dhaeng yang secara etimologis berasal dari gelar kebangsaan di Makassar, dan secara filosofis bermakna “prajurit elit gagah berani seperti prajurit Makassar pada waktu dulu melawan Belanda”. Selain nama, filosofi di balik warna-warna pada seragam dan panji tiap prajurit juga mendapat perhatian. Warna hitam diartikan sebagai keabadian dan kekuatan, merah dan jingga berkonotasi keberanian, putih berarti kesucian, kuning dan emas bermakna keluhuran, dan hijau adalah simbol pengharapan. Urutan cara berjalan, cara memberi hormat, sampai aba-aba di dalam barisan juga mendapat pembahasan mendetail.

Buku ini merupakan sumber yang komprehensif bagi mereka yang tertarik mengenal dan mendalami tentang prajurit Kraton Yogyakarta. Memang beberapa deskripsi terutama di pembahasan seragam dan busana adat banyak menggunakan istilah berbahasa Jawa, namun semua itu dilengkapi ilustrasi mendetail dan penuh warna yang sekiranya dapat membantu imajinasi pembaca. Terlebih lagi, di akhir buku terlampir glosarium istilah dan budaya Jawa, berikut tabel serta ilustrasi yang lengkap tentang perangkat busana, mata tombak, dan panji-panji yang cukup menstimulasi secara visual. Namun di sisi lain, mungkin karena buku ini adalah hasil kolaborasi beberapa penulis, hasil akhirnya masih terbaca kurang menyatu. Hal ini terutama terasa ketika ada beberapa sub-bab yang memakai format dan gaya bahasa berbeda di dalam bab yang sama. Dalam deskripsi ilustrasi juga ditemukan penggunaan istilah yang tidak konsisten, seperti “pradjoerit” dan “prajurit”. Akhir kata, terlepas dari beberapa kelalaian di formatting yang kadang menyulitkan navigasi, informasi dan pengetahuan yang disajikan buku ini bisa dibilang menyeimbangkan kekurangannya. (Widya Amasara, Intern Divisi Riset Museum Ullen Sentalu )
Sistem Aksara nan Istimewa Bernama Hanacaraka

Sistem Aksara nan Istimewa Bernama Hanacaraka

TEPAT di ujung area Guwa Selagiri di Museum Ullen Sentalu, sudah dekat sekali dengan pintu keluar yang menjadi akses ke area Kampung Kambang, tergantung sebingkai displai pamer yang sangat bersahaja. Sungguh kalah gebyar dengan displai-displai lain di sekelilingnya: lukisan besar Gusti Nurul sebagai penunggang kuda, potret-potret lawas dari BRAy Partini Djajadiningrat, juga foto-foto kuno tentang keluarga KGPAA Mangkunegoro VII dan GKR Timur. Displai di dekat pintu keluar tadi cuma menampilkan susunan sistem aksara asli Jawa yang galib disebut sebagai hanacaraka. Terdiri dari 20 aksara yang terbagi menjadi 4 larik. Tepat di bawah masing-masing aksaranya ada terjemahan bunyinya menurut alfabet Latin:

Ha Na Ca Ra Ka
Da Ta Sa Wa La
Pa Dha Ja Ya Nya
Ma Ga Ba Tha Nga

Memuat Legenda

Sejatinya, 20 aksara dalam hanacaraka bukanlah sekumpulan huruf belaka. Masing-masing lariknya yang terdiri dari 5 aksara pada dasarnya adalah juga suatu kalimat berbahasa Jawa. Sebagai kalimat, larik pertama sebenarnya tertulis sebagai hana caraka yang berarti “ada utusan”. Kalimat-kalimat sesudahnya masing-masing adalah data sawala yang berarti “(mereka) saling berkelahi”, padha jayanya yang berarti “(tapi) sama kuatnya”, dan maga bathanga yang berarti “(akhirnya) sama-sama mati”. Istimewanya, empat kalimat tadi saling terkait satu sama lain. Jika keempatnya digabungkan, maka terbentuklah suatu cerita pendek: Ada dua utusan saling berkelahi. Karena sama kuatnya, mereka pun sama-sama mati.

Cerita pendek yang termuat dalam hanacaraka merupakan ringkasan dari kisah legenda tentang 2 orang abdi dari Ajisaka, raja Kerajaan Medang Kamulan. Menurut legenda itu, seorang abdi Ajisaka yang bernama Dora diutus tuannya mendatangi Pulau Majethi. Di pulau tersebut tinggal kawan lamanya yang bernama Sembada, yang juga merupakan abdi Ajisaka. Perintah yang diemban Dora adalah mengambil keris pusaka milik Ajisaka yang dulu dititipkan kepada Sembada. Namun, Sembada ternyata menolak menyerahkan keris pusaka milik Ajisaka kepada Dora. Sembada memilih tetap berpegangan kepada pesan yang dulu dikatakan Ajisaka ketika menitipkan pusaka itu kepadanya. Kata Ajisaka waktu itu, pusaka itu hanya boleh diserahkan kepada Ajisaka sendiri. Ketika Sembada berpedoman semacam itu, sedangkan di sisi lain Dora merasa berkewajiban membawa pulang pusaka tuannya ke Medang Kamulan, dua kawan lama tersebut lantas terlibat pertengkaran. Karena tak ada yang mau mengalah, pertengkaran itu berubah menjadi perkelahian sengit yang kemudian secara tragis menyebabkan Dora maupun Sembada kehilangan nyawa. Ajisaka yang menyadari kealpaannya memberi dua titah yang saling bertentangan kepada 2 abdinya memang menyusul mendatangi Pulau Majethi. Namun, kedatangan yang terlambat gagal mencegah baku bunuh yang dilakukan Dora dan Sembada. Merasa bersalah dan berduka oleh kematian dua abdinya, Ajisaka lantas menuliskan kisah Dora dan Sembada dalam sebuah syair pendek yang sekaligus menjadi sistem aksara khas Jawa. Masyarakat Jawa secara tradisional memang memercaya figur legendaris Ajisaka sebagai kreator dari hanacaraka.

Dipakai masyarakat Jawa selama berabad-abad, hanacaraka telah membantu para pujangga dan cerdik pandai untuk merekam pengetahuan-pengetahuan masyarakat Jawa di bidang sejarah, agama dan filsafat, hukum, seni, sistem kalender, hingga berbagai teknik okultisme. Babad Tanah Jawa, Serat Centhini, Babad Diponegoro, serta Serat Tripama adalah beberapa di antara kitab-kitab adikarya Jawa yang aslinya ditulis memakai aksara hanacaraka. Babad Tanah Jawa adalah kronik mengenai sejarah panjang Jawa dari zaman purbakala sampai sekitar masa pemerintahan raja-raja Mataram Islam. Serat Centhini adalah epik seputar pelarian putra-putri penguasa Giri pasca penyerbuan Mataram Islam, yang isinya bercampur dengan cerita perjalanan ke berbagai tempat di Jawa, juga ensiklopedia macam-macam pengetahuan mulai dari kuliner hingga panduan seksual. Babad Diponegoro adalah memoar yang ditulis Pangeran Diponegoro semasa menjalani hukuman pengasingan di Makassar. Serat Tripama adalah tulisan KGPAA Mangkunegara IV yang mengajarkan petuah mengenai loyalitas pengabdian kepada negara dengan mengambil tiga figur ksatria dalam pewayangan, yakni Patih Suwanda alias Bambang Sumantri, Raden Kumbakarna, dan Adipati Karna.

Hanacaraka rupanya terbilang juga sistem aksara unik. Tak cuma karena hanacaraka pada dasarnya merupakan suatu syair legenda, namun karena dalam hanacaraka masing-masing hurufnya mewakili suatu suku kata tertentu. Sistem aksara berdasarkan suka kata semacam ini terbilang tak banyak padanannya di dunia. Jika merujuk uraian Jared Diamond dalam buku Guns, Germs & Steel, sistem aksara yang tersusun dari beberapa suku kata ini dinamakan sebagai silabari. Menurut Diamond, sedikit saja bangsa-bangsa di dunia yang menggunakan silabari sebagai pola dasar sistem aksaranya. Selain hanacaraka, contoh lain dari silabari adalah sistem aksara kana yang digunakan sebagai komplenter dari sistem kanji di Jepang.

Pada kenyataannya, ketimbang mengembangkan sistem aksara berpola silabari, bangsa-bangsa di dunia umumnya mengembangkan sistem aksaranya menurut sistem alfabet atau sistem logogram. Pada sistem alfabet, setiap aksaranya adalah mewakili fonem yakni bunyi dasar dalam bahasanya. Contoh sistem alfabet adalah aksara Latin, aksara Cyrilic, aksara Arab, dan aksara Hangul Korea. Pada sistem logogram, satu aksara atau lambang tertulis adalah mewakili satu kata. Contoh-contoh dari sistem logogram adalah aksara China, kanji Jepang, hingga aksara-aksara zaman kuno seperti hieroglif Mesir dan cuneiform Sumeria.
[Yoseph Kelik Prirahayanto (Periset Museum Ullen Sentalu)]